Lentera Priayi: Menerangi Jalan Mahasiswa Adab dan Humaniora Menuju Kelulusan Melalui Karya Ilmiah Terpublikasi

Bandung, [15/06/2025] – Di tengah tantangan akademik yang dihadapi mahasiswa, khususnya di Fakultas Adab dan Humaniora, muncul sebuah program unggulan yang secara perlahan tapi pasti mengubah cara pandang mahasiswa terhadap karya tulis ilmiah: Lentera Priayi. Program yang digagas oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) ini tak hanya sekadar agenda rutin, melainkan telah menjadi ruang pertumbuhan ilmiah bagi para calon sarjana.

Dokumentasi oleh redmi, Valen Dika berhasil Seminar Proposal di smester 6

Valendika, penanggung jawab program Lentera Priayi, mengisahkan bahwa program ini bukanlah sesuatu yang baru. “Lentera Priayi itu proker tahunan yang ada dari dulu”. “Sejak Angkatan 20 sudah ada, Angkatan 19 jadi Ketua DEMA juga sudah ada”. Awalnya, program ini “fokus pada penuliskan sektra” atau “ketulisan sastra, belum ketulisan ilmiah”. Namun, pada masa kepemimpinannya, Valendika menghadirkan “satu politik baru, menghadirkan paradigma baru, yaitu fokus bagaimana anak-anak ini fokus pada tulisan ilmiah tentunya”. Pergeseran ini mengarah dari sastra menuju penulisan ilmiah yang terstruktur dan terpublikasi, terutama artikel jurnal.

Melalui pendekatan learning by analysis, mahasiswa diajak untuk tak sekadar menyerap teori, tetapi langsung menganalisis dan mempraktikkan konsep-konsep penelitian. “Pokoknya materi, habis materi kami analisa, menganalisa suatu masalah, habis itu langsung prakteknya gitu”. “Gampangnya belajar langsung praktek gitu, tidak banyak teori pada akhirnya”. Hasilnya cukup mencengangkan: “Alhamdulillah ada enam yang sudah publis tentunya, Sinta 4, Sinta 5, begitu pun Sinta 3 ada”.

Postingan Program Lentera Priyai

Namun, jalan menuju capaian tersebut tak selalu mulus. Tantangan besar datang dari keragaman jurusan dan latar belakang semester peserta. “Peserta terbanyak itu adalah semester 4, tetapi mereka belum mengenai basic-basic penelitian”. Valendika menyebutkan bahwa tim harus “ekstra dalam memberikan materi-materi begitu pun dalam perihal teknis kepenulisannya, karena juga pun berbeda ada 4 jurusan pada akhirnya”. Meski demikian, tim Lentera Priayi tak gentar. Mereka menyusun materi pembelajaran lintas metode yang sesuai dengan kebutuhan tiap jurusan, karena “dalam penelitian ini kan metodenya berbeda-beda pada akhirnya kan”.Meski saat ini belum ada jaringan dengan komunitas akademik luar, Lentera Priayi sudah menjalin relasi dengan sejumlah penerbit jurnal. “Kami punya link ke Riau, ke Unes, pun punya link ke yang baru ini, kami punya link ke Medan” ujarnya.

Ke depan, Valendika berharap Lentera Priayi dapat berdiri sebagai lembaga independen. “Untuk ke depan, kami berharap lentera pria itu bukan lagi auto-procure pada akhirnya. Lentera pria ini pure, seni otonom, independen”. “Kami pengen menciptakan satu lembaga pada akhirnya Lentera Priayi ini. Satu kelab kepulauan pulisan sekaligus satu kelas, satu wadah publikasi artikel jurnal akhirnya”.Sebagai penutup, Lentera Priayi tidak sekadar menjadi ruang belajar, tetapi juga menjadi obor yang menerangi langkah mahasiswa menuju kelulusan yang bermakna bukan hanya lulus, tapi juga meninggalkan jejak kontribusi ilmiah.

Scroll to Top