DISELANGGARAKAN secara rutin setiap tahun, Festival Perahu Naga Cisadane telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Kota Tangerang. Bertempat tetap di Sungai Cisadane tanpa adanya lokasi tambahan festival ini tidak hanya menampilkan perlombaan perahu naga, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi dan sejarah panjang interaksi manusia dengan sungai yang menjadi nadi kota ini.
Festival ini biasanya bertepatan dengan peringatan ulang tahun Kota Tangerang. Namun, tak hanya sebagai acara pemerintahan, perayaan ini juga bersisian langsung dengan perayaan Peh Cun, sebuah tradisi Tionghoa yang sarat makna penghormatan terhadap leluhur, kesetiaan, dan kebajikan. Dalam ritual Peh Cun, masyarakat Tionghoa Tangerang menyiapkan sajian khas seperti bakcang dan melakukan penghormatan di tepi sungai. Kehadiran perahu naga dalam festival ini memperkuat simbolik air sebagai elemen kehidupan yang menyatukan ragam budaya di Tangerang.
Secara umum, fungsi utama dari festival ini adalah untuk melestarikan tradisi, memupuk rasa kebersamaan, dan memperkuat ekonomi lokal. Rangkaian acara tidak hanya diisi oleh perlombaan perahu naga, tetapi juga pertunjukan seni, bazar UMKM, pameran kerajinan, dan penampilan budaya dari berbagai komunitas etnis. Semua kegiatan ini tidak lepas dari dukungan pemerintah kota dan partisipasi aktif masyarakat.
Tujuan utama festival ini adalah sebagai ajang promosi pariwisata serta pengenalan potensi ekonomi kreatif Kota Tangerang. Festival ini tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan dari luar daerah. Dengan demikian, Festival Cisadane tidak hanya sebagai warisan budaya, namun juga sebagai strategi pembangunan berbasis budaya dan komunitas.
Urutan kegiatan Festival Perahu Naga biasanya dimulai dengan prosesi pembukaan oleh wali kota, kemudian dilanjutkan dengan lomba perahu naga yang diikuti berbagai kelompok, termasuk komunitas lokal, atlet dayung, hingga tim undangan dari luar kota. Lomba ini berlangsung meriah di tengah semarak sorakan warga yang memadati sepanjang tepian sungai. Selain itu, diadakan pula pertunjukan musik tradisional, pawai budaya, dan atraksi seni lain yang mencerminkan keberagaman identitas Tangerang.
Warna-warni acara festival juga ditandai dengan hadirnya sajian kuliner khas seperti laksa, bakcang, dan jajanan tradisional lainnya. Bazar kuliner dan ekonomi kreatif dibuka selama beberapa hari, memberikan ruang bagi UMKM untuk berkembang. Dengan perputaran ekonomi yang meningkat selama festival, banyak warga setempat yang mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan ini.
Menurut narasumber, festival ini bukan hanya sekadar tontonan tahunan, tetapi juga ruang ekspresi budaya dan kebanggaan kolektif. “Dari dulu sungai ini sudah jadi saksi hidup kami. Sekarang jadi tempat orang merayakan budaya dan saling mengenal,”
Seiring berjalannya waktu, Festival Perahu Naga Cisadane terus berkembang, namun tetap berakar pada nilai-nilai tradisional yang dijaga dengan penuh penghormatan. Seperti halnya tradisi Tarawangsa dari Rancakalong yang menghormati Dewi Padi, maka Festival Cisadane pun menjadi bentuk penghormatan terhadap sungai sebagai sumber kehidupan.


