Menapak Jejak Prabu Tajimalela: Napak Tilas Spiritualitas di Dayeuh Luhur Sumedang

Di balik rerimbunan pepohonan dan kabut tipis pagi yang menyelimuti kaki Gunung Rengganis, sebuah situs sejarah tersembunyi menyimpan jejak penting peradaban Sunda. Dayeuh Luhur, sebuah dusun di Kecamatan Ganeas, Kabupaten Sumedang, bukan sekadar tempat sunyi yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Ia adalah ruang sakral, tempat bersemayamnya Prabu Tajimalela — pewaris langsung Prabu Siliwangi dan pendiri Sumedang Larang.

Naik ratusan anak tangga, para peziarah dari berbagai penjuru—Garut, Banten, hingga Cirebon—datang dengan harap. Ada yang ingin ngalokat, memanjatkan doa untuk keselamatan dan rezeki. Ada pula yang sekadar ngalanglang, berjalan hening dalam perenungan sejarah dan spiritualitas. Pa Aceng, sang juru kunci, menyambut mereka dengan kesahajaan dan cerita-cerita lisan yang tak tertulis dalam buku sejarah mana pun.

“Makam ieu lain ngan tempat sare tokoh, tapi puseur galur urang Sunda,” katanya lirih.

Prabu Tajimalela bukan tokoh biasa. Ia adalah anak dari Prabu Wastu Kancana dan cucu dari Prabu Siliwangi. Dalam masa kemunduran Kerajaan Pajajaran, Tajimalela memilih mendirikan pusat baru di Sumedang. Ucapannya yang terkenal, “Inya nyalira Sumedang” (hanya dia sendiri Sumedang), menjadi titik lahirnya identitas mandiri masyarakat Sumedang.

Kini, warisan itu tak hanya berupa makam. Ia hidup dalam tradisi ziarah, carita pantun, dan semangat masyarakat sekitar menjaga situs ini dari gerusan modernitas. Sekali setahun, warga menggelar ritual budaya seperti Ngagurah dan Muludan, memadukan adat Sunda dengan Islam Nusantara.

Meski belum dikembangkan secara penuh sebagai destinasi wisata religi, Dayeuh Luhur menyimpan potensi besar. Jalur menuju lokasi sudah baik berkat dukungan pemerintah daerah, terutama Bupati Sumedang, yang memperhatikan infrastruktur budaya lokal. Namun, tantangan lain tetap membayangi: kurangnya promosi digital, belum adanya papan informasi sejarah, hingga risiko komersialisasi yang menggerus nilai sakral.

Dibandingkan dengan situs seperti Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon atau Syekh Abdul Muhyi di Tasikmalaya, Dayeuh Luhur jauh lebih hening. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Tempat ini bukan sekadar objek wisata, melainkan lieux de mémoire — ruang ingatan tempat sejarah dan spiritualitas menyatu.

Para akademisi dan tokoh budaya mendorong agar Dayeuh Luhur difungsikan sebagai laboratorium sejarah lokal. Sekolah-sekolah dapat membawa siswanya ke sini, bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga menulis, berdiskusi, dan mengenali akar identitasnya. Ziarah bukan lagi hanya ritual, melainkan pengalaman edukatif dan reflektif.

“Zaman kiwari loba nu poho kana asal. Di dieu urang ditarik deui ka akar,” ujar Pa Aceng lagi.

Sosok Prabu Tajimalela mengajarkan banyak hal: tentang kesederhanaan, kemandirian, hingga kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan zaman. Nilai-nilai itu hidup di tengah masyarakat, lewat tutur kata para juru kunci, dan melalui langkah kaki setiap peziarah yang menyusuri tangga Dayeuh Luhur dengan hati yang tertunduk dan jiwa yang terbuka.

Di era yang serba cepat ini, mungkin kita butuh sejenak berhenti. Menengok ke belakang, mendengarkan ulang suara leluhur, dan menemukan kembali siapa diri kita. Dayeuh Luhur menawarkan itu — bukan dalam bentuk brosur wisata, tapi dalam diam yang penuh makna.

Scroll to Top