Garut – Di pinggir Jalan Raya Garut-Bandung, tepatnya di Desa Pasawahan Kecamatan Tarogong Kaler, berdiri monumen sejarah yang hampir tak dikenal generasi muda. Tugu Pertempuran Kubang, seharusnya jadi simbol perlawanan heroik pemuda Garut melawan pasukan Jepang pada 9 September 1945, kini memudar bersama catnya dan tertutup rumput liar yang tumbuh lebat tanpa henti.

Dalam foto yang saya ambil, terlihat jelas patung seorang pejuang memegang bambu runcing, berdiri gagah dikelilingi ilalang dan cat tembok yang mulai kusam. Di bawahnya tertulis huruf kapital: TUGU PERTEMPURAN KUBANG – Jumat 9 September 1945, penanda sejarah penting yang hampir terlupakan.
Pertempuran Kubang adalah momen krusial dalam sejarah kemerdekaan setempat. Sekitar 37 pejuang Garut gugur saat menghadang pasukan Jepang dengan senjata seadanya. Mereka para pemuda yang percaya pada kemerdekaan meski nyawa taruhannya.
Namun sekarang tugu yang dibangun untuk mengenang mereka seakan luput dari perhatian. Rumput liar tumbuh di atas atapnya, mencuat dari celah semen, dan tembok marmer menunjukkan tanda-tanda tua. Plakat yang terpasang mulai sulit dibaca karena cuaca dan waktu. Tembok yang memuat daftar nama para pejuang pun tak seterang dulu.
Beberapa tokoh lokal dan sejarawan setempat sudah merekomendasikan perpindahan tugu ke pusat Garut, agar lebih mudah dilihat dan berfungsi sebagai sarana belajar sejarah kota. Sayangnya, gagasan itu sampai sekarang belum jadi langkah konkret.
Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, atau Hari Jadi Garut seharusnya jadi momen menghidupkan kembali semangat Tugu Kubang. Dan bukan hanya lewat upacara; kita butuh perawatan rutin, papan informasi, bahkan wisata edukasi yang menarik.
Tugu Pertempuran Kubang lebih dari sekadar monumen. Ia menyimpan sejarah para pejuang yang rela mengorbankan nyawa demi bendera Merah Putih. Jika kita terus membiarkannya terlantar, lama-lama kita juga akan lupa pada mereka.
