Di lereng bukit hijau dan di sela hutan lebat yang dijaga turun-temurun, masyarakat Kampung Naga hidup dalam harmoninya dengan alam. Mereka tak hanya tinggal di tengah keindahan, tapi juga menjaga dan merawatnya sebagai bagian dari warisan leluhur. Kampung ini kini dikenal sebagai desa adat yang menjadi tujuan wisata budaya. Meski terbuka untuk pengunjung, adat dan aturan tetap dijaga ketat agar tidak terganggu oleh modernisasi. “ “Wisata boleh, tapi tidak boleh mengganggu adat. Pengunjung tidak boleh memotret sembarangan atau membawa makanan instan ke dalam kampung.” Ucap pak Heri Pengurus Himpunan Pramuwisata di Kp. Naga. Salah satu bentuk keharmonisan itu terwujud dalam kegiatan bertani. Bagi masyarakat adat Kampung Naga, pertanian bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah, melainkan bagian dari adat karuhun warisan leluhur yang dijalankan dengan tata nilai luhur dan penuh tanggung jawab spiritual.
Aktivitas pertanian di Kampung Naga dilakukan dengan cara-cara tradisional yang masih dipertahankan meskipun di era modern ini. Mereka menanam padi lokal sebagai sumber pangan utama. Prosesnya mengikuti kalender adat, yang ditentukan berdasarkan perhitungan perbintangan, peredaran bulan, dan tanda-tanda alam. Tanah diolah secara manual, tanpa traktor atau mesin berat. Cangkul dan alat-alat dari kayu menjadi andalan. Petani Kampung Naga tidak menggunakan pupuk kimia maupun pestisida buatan. Sebagai gantinya, mereka mengandalkan pupuk organik alami yang dibuat dari sisa tanaman, kotoran ternak, dan abu dapur. Sistem tanam yang digunakan adalah tumpangsari dan pola rotasi alami untuk menjaga kesuburan tanah. Semua dilakukan dengan kesabaran dan kehati-hatian agar tidak merusak ekosistem.
| |
Leuit Gudang Adat Penjaga Pangan
Setelah panen tiba, padi tidak langsung dimasak atau dijual. Padi tersebut dikeringkan di bawah sinar matahari, kemudian disimpan di leuit sebuah bangunan kecil panggung dari bambu dan kayu dengan atap ijuk atau rumbia. Leuit dibangun sedikit terpisah dari rumah tinggal, dan ditinggikan agar terhindar dari hama, banjir, dan kelembaban.
Leuit tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga simbol ketahanan pangan dan kearifan leluhur. Di Kampung Naga masyarakatnya memiliki satu leuit utama yang menyimpan hasil panen sebagai cadangan untuk setahun ke depan, terutama menghadapi musim paceklik atau saat ada keperluan adat seperti Hajat Sasih, pernikahan, dan upacara lainnya. Tidak semua orang bisa mengambil padi dari leuit. Tindakan itu harus dilakukan dengan niat yang bersih dan doa yang dipanjatkan sesuai adat, menandakan bahwa pertanian di Kampung Naga tidak semata ekonomi, tetapi juga spiritual.
Selain itu, adanya keterlibatan dari anak muda dan pendidikan alam anak-anak dan remaja Kampung Naga pun diajak untuk terlibat sejak kecil. Mereka belajar cara menanam, mengenal jenis-jenis tanaman, dan memahami pentingnya keselarasan dengan alam. Pendidikan ini dilakukan secara informal, langsung dari orang tua mereka dan tokoh adat. Meski hidup di zaman yang serba digital, anak-anak Kampung Naga tetap tumbuh dalam nuansa tradisional. Mereka belajar bahwa tanah bukan hanya tempat berpijak, tapi juga sumber kehidupan yang harus dijaga.
Di Kampung Naga bukan hanya tentang bagaimana menanam dan memanen, tapi juga bagaimana manusia hidup selaras dengan alam dan warisan nenek moyangnya. Di tengah ancaman krisis pangan global dan perubahan iklim, cara hidup masyarakat Kampung Naga memberikan pelajaran penting: bahwa kemandirian dan keberlanjutan bisa dicapai dengan menjaga kesederhanaan dan kearifan lokal.
