
Di tengah sepinya lalu lintas pedesaan Jampang Kulon, berdiri kokoh sebuah tugu berwarna pudar, Tugu Palagan. Monumen ini tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Sukabumi melawan penjajahan Belanda. Meski tak setenar tugu perlawanan lainnya, kisah di baliknya begitu hidup di ingatan warga, terutaama para sesepuh yang menyaksikan jejak sejarah itu tumbuh di tanah mereka.
Menurut Dadun (60), salah satu tokoh masyarakat setempat Tugu Palagan dibangun antara tahun 1947 dan 1950 bahkan ada juga yang menyatakan dibangun saat Indonesia merdeka (1945). “Pada 1945 dibentuk Laskar Rakyat… kami hanya berbekal bambu runcing,golok, bahkan ada yang menggunakan pusaka yang kebal peluru,” ia menceritakan Gempuran tentara Belanda bak gelombang dahsyat: rumah-rumah dibakar, ratusan warga gugur bahkan ada yang ditembak hidup-hidup. Namun palagan seperti ‘sayap takdir’ rakyat: mereka bertahan, menyerang balik, dan menancapkan harapan di tengah kesulitan.
Di beberapa titik strategis, seperti belokan Kondang, perlawanan tumbuh kembali, mempertegas identitas lokal sebagai ruang perjuangan penuh keberanian. Tugu ini mewakili persatuan pejuang dan masyarakat yang turut bersatu di medan juang.
Ibu Neneng (39), seorang ibu rumah tangga yang rumahnya hanya berjarak 500 meter dari tugu, mengaku belum pernah mendengar peringatan peristiwa yang ada di Tugu Palagan. “Saya tidak tahu seberapa sering warga atau pelajar berkunjung ke Tugu palagan itu, mungkin karena tubuhnya itu tidak terawat banyak semak-semak seperti itu sehingga jarang ada pengunjung paling hanya anak-anak SD dari daerah sekitarnya saja yang datang ke situ”.
Menariknya, meski tidak tercatat luas dalam sejarah nasional, peristiwa di Jampang Kulon memiliki arti mendalam bagi masyarakat lokal. Generasi muda kadang diajak oleh guru atau tokoh masyarakat untuk berkunjung dan mendengar langsung cerita perjuangan dari para orang tua.
Namun, Pa Dadun menyayangkan minimnya perhatian dari pemerintah daerah terhadap tugu bersejarah ini. “Kami ingin ada perawatan rutin atau papan informasi sejarah. Supaya anak-anak tahu, bahwa di desa kecil ini, semangat juang pernah membara,” ujarnya.
Tugu Palagan Jampang Kulon memang tidak sepopuler monumen nasional lainnya, namun bagi masyarakat sekitar, tugu ini adalah saksi bisu atas keberanian tanpa pamrih. Di tengah arus zaman dan ingatan yang memudar, tugu ini tetap berdiri, menantikan lebih banyak cerita yang bisa dihidupkan kembali. Seperti kata Pa Dadun, “Selama masih ada yang mengenang, perjuangan tak pernah benar-benar hilang.”
