Di tengah maraknya tren jajanan kekinian yang silih berganti viral, ada satu camilan tradisional yang justru berhasil bertahan dan mencuri perhatian: cimol. Dari jajanan sederhana yang kerap dipandang biasa, cimol kini hadir dengan inovasi rasa dan isian yang tak terduga — mulai dari keju mozarella leleh, ayam suwir, hingga daging sapi. Transformasi ini menjadikan cimol kembali diminati berbagai kalangan, sekaligus membuktikan bahwa kuliner lawas pun mampu bersaing dengan jajanan modern yang ramai di media sosial.
Cimol, jajanan tradisional khas Jawa Barat, tetap setia menampilkan keunikannya di tengah gempuran tren jajanan kekinian. Nama “cimol” sendiri berasal dari bahasa Sunda, yaitu singkatan dari “aci digemol,” yang berarti tepung kanji (aci) yang dibentuk bulat (digemol) lalu digoreng dalam minyak panas. Muncul sejak era 1990-an di berbagai daerah di Priangan, cimol awalnya dijajakan di depan sekolah dan pasar tradisional sebagai camilan murah meriah. Namun kini, cimol bertransformasi dengan beragam isian dan bumbu modern, membuatnya tetap eksis dan mampu bersaing di era serbaviral ini.
Cimol Bojot AA, merek Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) asal Kota Bandung, menjadi pelopor inovasi pada jajanan tradisional cimol. Berdiri pada September 2020, Cimol Bojot AA telah berkembang pesat dengan membuka banyak cabang di Bandung, berkat keunikannya dalam mengolah cimol menjadi lebih modern dan menggugah selera.
Kesuksesan ini tak lepas dari inovasi yang dihadirkan. Jika biasanya cimol hanya berupa bola-bola aci goreng yang disajikan dengan bumbu asin atau lada sederhana, Cimol Bojot AA menyajikan berbagai varian rasa yang jauh lebih kreatif. Pilihannya mulai dari cimol bojot original, hingga cimol dengan isian ayam suwir berbumbu gurih, daging sapi cincang, dan keju mozarella yang meleleh saat digigit, memberikan sensasi makan yang berbeda dari cimol tradisional.
Selain variasi isian, Cimol Bojot AA juga menghadirkan lebih dari lima varian bumbu tabur yang kekinian dan disukai banyak kalangan. Beberapa di antaranya:
- Asin pedas, dengan kombinasi garam dan cabai bubuk yang seimbang;
- Ayam bawang, beraroma gurih khas bawang dan kaldu ayam;
- Balado, bercita rasa pedas manis khas masakan Padang;
- Barbeque, menawarkan sensasi asap ala daging panggang;
- Jagung bakar, dengan rasa manis gurih yang unik seperti jajanan jagung susu keju.
Setiap porsi cimol juga bisa dinikmati dengan dua pilihan topping gratis, yakni bawang goreng renyah dan taburan daun jeruk kering yang menambah aroma harum dan menggugah selera. Tak hanya itu, Cimol Bojot AA menghadirkan level kepedasan dari level 1 (pedas ringan) hingga level 4 (super pedas) yang cocok untuk para penikmat sensasi ekstrem, terutama kaum muda yang identik dengan makanan pedas.
Keunikan Cimol Bojot AA tak hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada konsep penjualan dan tampilan gerobaknya. Alih-alih memakai gerobak sederhana yang kerap terlihat kusam, Cimol Bojot AA mendesain gerobaknya dengan warna dominan merah cerah dan sentuhan grafis kekinian, sehingga lebih menarik perhatian pembeli — terutama generasi muda yang gemar berswafoto dengan latar jualan estetik. Kebersihan area jual juga menjadi prioritas: gerobak dan peralatan selalu terjaga higienitasnya, serta penjual mengenakan sarung tangan saat mengolah cimol. Tak ketinggalan, pelayanan yang ramah membuat pelanggan betah untuk kembali.
Dengan inovasi isian premium dan konsep gerobak yang lebih modern ini, harga jual Cimol Bojot AA pun mengalami penyesuaian. Jika dulu cimol dijual seharga Rp5.000 per plastik besar berisi sekitar 15–20 butir, kini harga satu porsi Cimol Bojot AA dibanderol mulai dari Rp10.000 hingga Rp20.000, tergantung varian isian dan tingkat kepedasan yang dipilih. Meskipun lebih mahal, banyak pembeli merasa puas karena mendapatkan pengalaman rasa yang lebih bervariasi, porsi yang tetap mengenyangkan, serta tampilan yang lebih menarik dan bersih.
Inovasi inilah yang membuat Cimol Bojot AA pantas diacungi jempol: bukan hanya mempertahankan eksistensi cimol sebagai jajanan tradisional, tetapi juga mengangkatnya kembali ke panggung popularitas di era media sosial, ketika banyak jajanan jadul lain mulai tersisih dan hilang ditelan zaman.
Keberhasilan Cimol Bojot AA dalam mengangkat kembali cimol ke jajaran jajanan populer bukan hanya soal rasa, tetapi juga kesungguhan dalam menjaga kualitas dan inovasi. Di tengah derasnya arus tren makanan cepat viral, Cimol Bojot AA membuktikan bahwa jajanan tradisional pun bisa bertahan bahkan bersinar dengan sentuhan kreatif. Ketika ditemui di salah satu cabang Cimol Bojot AA di kawasan Antapani, Bandung, sang pemilik, Andri Setiawan, mengungkapkan kebanggaannya, “Alhamdulillah, banyak yang suka sama cimol kami. Saya cuma ingin bikin cimol yang beda, lebih modern, tapi tetap pakai resep cimol masa kecil saya,” ujarnya sambil tersenyum. Ia juga menegaskan, “Harga naik itu karena kami pakai bahan premium dan selalu jaga kebersihan. Saya ingin pelanggan puas, bukan cuma kenyang.”
Dengan inovasi yang berani dan keseriusan dalam menjaga cita rasa khas cimol, Cimol Bojot AA tidak hanya mempertahankan eksistensi jajanan jadul ini, tetapi juga berhasil membuat cimol kembali menjadi primadona di hati masyarakat, terutama di kalangan anak muda yang haus akan kuliner unik dan menggugah selera.
