Bandung Barat, Jawa Barat Di balik gemerlapnya destinasi wisata populer seperti Lembang atau Ciater, tersembunyi sebuah surga kecil di pelosok Kabupaten Bandung Barat yang mulai menarik perhatian wisatawan: Sanghyang Kenit. Terletak di Kecamatan Cipatat, tempat ini menyuguhkan pemandangan alam eksotis berupa aliran sungai yang membelah tebing batu purba, dikelilingi rimbunnya pepohonan dan udara yang menyegarkan.
Sanghyang Kenit masih menjadi bagian dari kawasan geologi purba di sekitar PLTA Saguling. Keindahannya terletak pada formasi batuan kapur dan lorong-lorong alami yang terbentuk selama ribuan tahun. Banyak yang menyebut tempat ini sebagai “miniatur Grand Canyon” versi Bandung Barat.
“Ini pertama kalinya saya ke sini, dan saya tak menyangka tempat seindah ini masih alami dan belum terlalu ramai,” ujar Ratna Kartikasari, wisatawan asal Bekasi yang datang bersama komunitas fotografer alam. “Cocok banget buat healing atau sekadar lepas dari hiruk pikuk kota.”
Selain daya tarik visualnya, Sanghyang Kenit juga menyimpan nilai sejarah dan budaya. Masyarakat setempat percaya bahwa kawasan ini dulunya merupakan tempat pertapaan dan ritual spiritual pada masa kerajaan Sunda. Kata “Sanghyang” sendiri berasal dari istilah Sunda kuno yang berarti “yang suci” atau “yang dihormati”.
Namun, keindahan itu tak datang tanpa tantangan. Akses menuju lokasi masih tergolong sulit. Wisatawan harus berjalan kaki menuruni jalan setapak berbatu sejauh hampir satu kilometer. Fasilitas publik seperti toilet, warung, atau tempat sampah juga belum tersedia memadai.
“Kami sadar tempat ini mulai banyak dikunjungi, tapi kami juga khawatir jika tidak dikelola dengan baik, bisa rusak. Kami butuh dukungan dari pemerintah daerah untuk menjaga kelestarian dan memperbaiki akses,” kata Ujang Rohimat, warga sekaligus penjaga kawasan wisata ini secara swadaya.
Dinas Pariwisata Kabupaten Bandung Barat telah mencantumkan Sanghyang Kenit dalam daftar potensi destinasi alam yang akan dikembangkan dengan prinsip ekowisata. “Kami tidak ingin menjadikan tempat ini sekadar objek komersial. Fokus kami adalah pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat sekitar,” ujar Deni Suherman, Kepala Disparbud KBB.
Kini, Sanghyang Kenit berdiri di persimpangan: antara menjadi ikon wisata baru atau hanya sekadar tempat viral sesaat. Dengan dukungan yang tepat, permata tersembunyi ini bisa menjadi simbol keberhasilan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Bandung Barat.
