Mengakar di Hati Warga, Jathilan Asmoro Pantes Jadi Ikon Cipinang Muara 3

Muhamad Luthfi Harsya – 1225010106 SPI 6C

Di ruang lingkup warga Cipinang Muara 3 Rt.010/Rw.015, Kota Jakarta Timur. Ruang lingkup yang cukup kecil itu kini berhasil mengembangkan kesenian Jathilan menjadi salah satu icon di wilayah tersebut. Dari para sesepuh dan orangtua, mereka berhasil membuat semangat anak muda atau karang taruna untuk terus mengembangkan Jathilan itu. Mereka adalah warga rt 010, semua kalangan terlibat dalam kesenian Jathilan.

Bukan sekedar kesenian, di sana tumbuh sebuah ruang sosial, tempat solidaritas, yang dijalin melalui kesenian Jathilan dengan nama “Jathilan Asmoro Pantes”. Karang taruna setempat terus mengembangkan kegiatan latihan, sehingga menjadi agenda rutin latian bersama.

“Sudah dari kecil saya nonton Jathilan Asmoro Pantes. Sekarang anak saya juga ikut nari di sanggar,” kata Pak Lastiyo(45), warga asli Cipinang Muara 3.

Jathilan Asmoro Pantes berdiri sejak tahun 2000-an dan didirikan oleh sejumlah warga pendatang yakni dari (Pacitan – Wates). Dengan membawa budaya daerah ke perkotaan, mereka semangat gotong-royong, mereka menghidupkan kembali seni jathilan lengkap dengan ritual, musik, hingga atraksi trance yang menjadi daya tarik utama.

Namun lebih dari itu, komunitas ini menjadi ruang interaksi sosial. Remaja yang tadinya sibuk dengan gawai mulai berkumpul untuk latihan. Para orang tua turut andil sebagai penata busana, penyedia makanan, mengiringi alat musik tradisional atau sekadar menyemangati. Anak-anak pun mengenal budaya Jawa tanpa harus jauh-jauh ke kampung halaman orang tuanya.

“Kami ingin jathilan ini bukan hanya tontonan, tapi juga menjadi ruang pendidikan karakter dan budaya,” ujar Bu Marni, salah satu orangtua juga sebagai pemain alat musik.

Kini, Jathilan Asmoro Pantes tak lagi sekadar pertunjukan seni. Ia telah menjadi ikon. Sebuah simbol persatuan dan kekayaan budaya yang hidup dan tumbuh bersama masyarakat di tengah perkotaan. Tapi bagi mereka, tampil di lapangan kecil Cipinang Muara tetap terasa paling membanggakan.

“Kalau ada acara kampung dan nggak ada jathilan, rasanya kayak kurang lengkap,” ucap Guntur (26), ketua karang taruna.

Di balik gerakan tari dan gemuruh musik, tersimpan cerita tentang cinta pada tradisi, kekuatan komunitas, dan harapan bahwa budaya lokal akan terus hidup, bahkan di tengah kota besar.

Scroll to Top