Belakangan ini, media sosial sudah menjadi tempat ribuan bahkan jutaan manusia membagikan berbagai macam rutinitas setiap hari, pengalaman hidup, bagaimana pekerjaan yang dilakukan, hingga curahan hati pribadi yang disajikan dalam layar genggam. Hal ini dinamakan dengan fenomena oversharing, yaitu kebiasaan untuk membagikan terlalu banyak hal tentang kehidupan pribadi di ruang publik digital. Jika ditelusuri lebih dalam, oversharing ini tidak hanya membagikan suatu hal terlalu berlebihan, melainkan dapat menjadi perubahan bagaimana cara manusia berkomunikasi dan mengekspresikan diri mereka.
Bagi mereka yang tumbuh di era digital yang begitu pesat, oversharing merupakan bagian dari komunikasi sekaligus sebagai bentuk ekspresi dan mencari jati diri. Sehingga batas antara ruang publik dan privasi semakin kabur, karena setiap unggahan yang dibagikan adalah bentuk dari interaksi sosial juga upaya untuk diakui dan diterima melalui citra diri yang ditampilkan. Banyak orang secara tidak sadar, menjadikan media sosial sebagai buku jurnal mereka, di mana segala keluh kesah, kegiatan keseharian hingga mengumbar aib orang lain mereka bagikan di sana. Semakin banyak mata yang melihat dan telinga yang mendengar kehidupan mereka, maka kebiasaan oversharing pun muncul, hingga lupa bahwa semua hal yang dialami tidak seharusnya dunia tahu.
Media sosial yang semakin luas adalah suatu hal yang bisa bernilai postif ataupun negatif, tergantung pada penggunanya apakah bisa digunakan secara bijak atau tidak. Banyak plaform yang dapat membuka peluang positif, mulai dari memperluas jaringan pertemanan, menumbuhkan inspirasi, menjadi wadah berbagi pengalaman yang memberi semangat bagi orang lain, hingga mendapatkan pekerjaan atau cuan yang tidak sedikit. Namun di sisi lain, budaya oversharing ini juga menimbulkan dampak negatif bagi penggunanya, seperti penyalahgunaan informasi, rusaknya citra diri, ancaman terhadap keamanan pribadi, hingga menimbulkan gangguan kesehatan mental jika respon yang diharapkan tidak sesuai ekspetasi.
Tipisnya batas antara ruang privasi dan publik bagi generasi yang tumbuh dalam pesatnya teknologi digital menjadikan seseorang oversharing, mereka menggugah konten dan postingan berlebihan di akun media sosialnya mencakup curahan perasaan, pendapat tentang suatu hal, hingga sisi intim kehidupan seseorang yang disebarkan melalui berbagai platform seperti Facebook, Instagram, Twitter, hingga blog pribadi. Artinya, oversharing ini tidak hanya berupa foto, ataupun video, tetapi juga bentuk ekspresi diri yang berlebihan. Fenomen oversharing ini memperlihatkan wajah yang berbeda di berbagai platform. Dapat dilihat dari banyaknya postingan di Instagram, di mana potongan-potongan terbaik dalam kehidupan yang disusun seseorang dengan rapi diunggah di sana dengan menciptakan citra yang ideal, memberi kesan sempurna bagi yang melihatnya. Dalam platform lain, ketika muncul tren intimate story,
pengguna akan membagikan kesedihan mereka, trauma yang dialaminya, hingga perasaan rapuhnya secara terbuka. Lalu platform seperti Likedin yang terkadang memperlihatkan bentuk humble brag atau merendah untuk meroket, membungkus kesombongan dengan pamer secara halus melalui cerita-cerita mereka seperti perjalanan sulit untuk menuju kesuksesan yang sejatinya mereka hanya menonjolkan prestasi pribadi. Lalu Tiktok yang sangat booming belakangan ini dengan memperkenalkan istilah trauma dumping, di mana mereka mengungkapkan luka batin secara cuma-cuma, mentah dan begitu emosional dihadapan audiens yang sebenarnya asing.
Fenomena oversharing ini tidak hanya tentang seberapa sering seseorang menggugah sesuatu, tetapi lebih kepada cara dunia digital membuat seseorang terdorong untuk mengekspresikan diri tanpa mempertimbangkan tempat, waktu, atau batas yang tepat, sehingga mereka akan merasa wajar melakukan hal itu di dunia maya yang serba terbuka. Berbagai macam platform media sosial juga menciptakan ruang yang terasa akrab dan emosional dari fitur-fitur yang disediakan, seolah-olah pengguna bisa benar-benar dekat satu sama lain. Padahal, pada kenyataannya justru banyak orang yang fokus untuk mencari perhatian, dibandingkan menjadi diri mereka sendiri.
Lalu, mengapa banyak orang memilih membagikan banyak hal pribadinya ke publik dibandingkan hanya bercerita kepada orang yang dirasa cukup dekat?, Jawabannya tidak sesederhana untuk berbagi cerita saja, melainkan secara psikologis, oversharing ini dapat menjadi dorongan untuk mendapatkan validasi sosial. Setiap tanggapan seperti like, komentar atau reaksi lain yang mereka terima di media sosial akan melepaskan dopamine di otak yaitu neurotransmitter yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan diri. Pengakuan sosial juga merupakan salah satu kebutuhan manusia dalam teorinya Abraham maslow. Maka semakin banyak validasi semakin kuat juga dorongan untuk berbagi.
Sebagian individu menganggap bahwa oversharing membantu mereka untuk melepaskan beban, rasa kesepian, emosi, dan kecemasan. Di dunia digital yang memberikan ilusi terhadap kedekatan seseorang, mereka akan merasa lebih aman menumpahkan isi hati kepada layar gengamnya daripada kepada manusia di dunia nyata. Sayangnya, bentuk pelampiasan atau berbagi ini seringkali berujung pada keterbukaan yang tidak terkendali dan rentan disalah artikan.
Oversharing terjadi bukan hanya karena keinginan individu semata, melainkan juga karena sistem media sosial yang sengaja dibuat agar orang terus aktif berbagi dan terlibat di dalamnya secara emosional. Berbagai platform menjadikan “perhatian” sebagai sumber keuntungan. Semakin lama seseorang menggunakan platform tersebut semakin banyak pula iklan yang bisa ditampilkan, dan semakin besar pula keuntungan yang diperoleh perusahaan. Konten yang mengandung emosi kuat, baik sedih, marah, atau berhubungan dengan hal yang sangat pribadi biasanya akan sering muncul di beranda karena terbukti menarik perhatian lebih banyak orang. Sehingga, sistem seperti ini akan mendorong perilaku yang keliru, karena semakin seseorang terbuka tentang hal pribadinya maka semakin besar juga pengakuan dan perhatian yang didapat. Akibatnya, privasi menjadi nilai tukar demi popularitas.
Fenomena oversharing yang sering kali dianggap sebagai bentuk kehilangan kontrol atau privasi seseorang. Kini, lihatlah oversharing dari sisi yang berbeda. Sebab, di balik kebiasaan berbagi secara berlebihan sesungguhnya menyimpan potensi besar yang dapat dimanfaatkan sebagai perkembangan sosial, psikologis, bahkan professional. Melakukan hal untuk tidak berbagi hal-hal yang terjadi dalam hidup bukanlah solusi untuk kita yang hidup di dunia digital yang berkembang pesat, yang perlu dilakukan bukan menghentikan kebiasaan berbagi, melainkan mendidik cara berbaginya dengan lebih cerdas dan bermakna.
Validasi terhadap perilaku oversharing ini sebenarnya adalah kebutuhan menusia untuk memperlihatkan dirinya ada dan diakui di tengah dunia digital yang serba cepat, sehingga mereka merasa terlihat dan menjadi bagian dari lingkungan daring yang sedang ramai itu. Dilihat dari sisi sosial, oversharing ini muncul karena beberapa hal, yaitu seseorang ingin membentuk identitas atau jati diri mereka, kebutuhan akan validasi, serta rasa takut akan ketertinggalan (FOMO), sehingga semua itu menunjukkan betapa kuatnya keinginan manusia untuk bisa terhubung dalam dunia digital. Namun, dorongan itu menjadi energi positif untuk saling mendukung, berbagi inspirasi dan pengalaman serta menumbuhkan rasa empati. Hal ini diperkuat oleh penelitian Youyou et al., tahun 2015 yang menyebutkan bahwa oversharing bisa dilihat sebagai refleksi digital dalam memahmi diri sendiri, melihat pola emosi, atau mengenali sisi kepribadian yang mungkin tidak tampak dalam kehidupan nyata.
Bagi orang yang merasa kesepian, berbagi merupakan cara yang memberi manfaat secara emosional, karena ketika seseorang mengunggah sesuatu sekecil apapun, ia bisa merasa terhubung dengan orang tersebut. Jadi, media sosial menjadi ruang terapi untuk bisa menyalurkan perasaan tanpa harus takut dihakimi secara langsung, karena tidak bertatap muka. Selain itu juga, bisa menjadi sumber data yang berharga di berbagai bidang, seperti hal nya dalam proses rekrutmen karyawan atau pemasaran. Jejak digital yang diunggah, disukai, dan dibagikan seseorang dapat membantu suatu perusahaan memahami kepribadian, minat, atau kecenderungan individu.
Kebiasaan berbagi di media sosial tidak selalu bersifat pribadi, tetapi juga bisa memiliki dampak sosial yang besar. Di mana, ketika seseorang dan lembaga tertentu menggunakan media sosial dengan tujuan positif seperti pendidikan, kemanusiaan, atau kampanye sosial, unggahan yang dibagikan dapat mejadi alat untuk bisa menggerakan banyak orang. Contohnya, dalam postingan pandawara grup yang menyoroti tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, ketika mereka memposting kegiatannya saat membersihkan lingkungan, mengelola, dan menjaga hingga menjadi perhatian banyak orang. Sehingga, hal tersebut bisa mendorong masyarakat agar dapat melakukan hal yang sama dengan yang dicontohkan. Selain itu, oversharing juga dapat menjadi kekuatan kolektif yang memicu perubahan sosial secara nyata dalam kehidupan.
Lebih jauh lagi, oversharing kini menyentuh aspek ekonomi. Artinya, setiap kebiasaan dalam berbagi yang dulu hanya dilakukan untuk kesenangan atau ekspresi diri semata, kini bisa menjadi sumber penghasilan. Melalui fitur monetisasi di berbagai platform seperti Youtube adsense, Tiktok, Instagram, dan Facebook, seseorang bisa mendapatkan uang dari konten yang mereka bagikan. Jadi, keterbukaan ini bukan sekadar hobi melainkan bisa menjadi sumber penghasilan bahkan beberapa diantaranya mendapatkan lebih dari pekerjaan pada umumnya. Sumber penghasilan itu tentu tidak didapat begitu saja, melainkan mereka berusaha untuk memahami cara kerjanya, dimulai dari melihat target pasar, membuat konten yang menarik, menampilkan keaslian diri, menargetkan viewers, like, dan komen dalam jumlah yang besar, serta followers yang bisa memberikan nilai ekonomi, misalnya melalui iklan, sponsor, atau kerja sama merek. Artinya, siapa pun tidak peduli profesinya apa, mereka bisa menjadikan konten kreator sebagai profesi utama maupun profesi sampingan.
Bagi mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap pun, kebiasaan oversharing pun bisa menjadi jalan untuk menemukan bakat dan peluang ekonomi baru. Banyak dari mereka yang dimulai dengan oversharing ini atau sekadar membagikan hobi baik dalam memasak, menulis, merias wajah, berpuisi, bernyanyi, bercerita dan lain-lain hingga mereka berhasil menjadikan itu sebagai sumber penghasilan. Dengan postingan yang diunggah secara konsisten, akan membangun identitas digital dan menghasilkan penghasilan. Sehingga, fenomena ini membuktikan bahwa oversharing tidak selalu negatif, asalkan dilakukan dengan kesadaran dan tujuan yang jelas. Ketika seseorang mampu mengatur apa yang mereka bagikan dan menjadikan itu sebagai sebuah karya, sehingga aktivitas tersebut dapat menumbuhkan etos
kerja yang positif, seperti kedisiplinan, konsistensi, dan tanggung jawab terhadap hasil.
Setiap unggahan yang dibagikan bukan lagi sekadar curahan hati, tetapi menjadi bentuk kerja kreatif yang bernilai, di mana setiap interaksi bisa membuka peluang baru dan setiap cerita bisa memberi inspirasi sekaligus penghasilan. Bahkan, ketika berbicara di media sosial dengan topik apapun, itu akan mejadi ajang bagi seseorang untuk berlatih public speaking, melatih kecerdasan mereka dalam bercerita sesuai dengan kejadian yang runut yang bisa dipahami oleh audiens. Namun, tentu saja keterbukaan ini perlu dibatasi dan perlu dilakukan secara sadar. Tidak semua hal pribadi harus dibagikan kepada publik, karena ada hal-hal yang sebaiknya tetap dijaga untuk privasi dan kesehatan mental.
Konsep strategic sharing atau berbagi secara cerdas dan terarah adalah hal yang perlu dilakukan untuk mempertimbangkan antara apa yang perlu dibagikan dan di mana tempat yang tepat untuk membagikannya, kepada siapa ditujukkan, serta untuk apa tujuannya. Sehingga, ketika menggunakan media digital perlu adanya etika yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain, memiliki empati, memahami bagaimana dampak yang akan ditimbulkan kepada audiens, dan bertanggung jawab dari setiap unggahan yang dibagikan. Maka, dengan pendekatan seperti ini seseorang tidak lagi terseret kepada dorongan secara ambisi untuk mencari validasi sosial, haus akan like, atau kometar, tetapi justru menjadi pengendali dari citra dan cerita dirinya sendiri di dunia digital.
Dengan demikian, fenomena oversharing ini tidak bisa dipandang sebelah mata sebagai perilaku yang negatif, atau bentuk dari kehilangan privasi seseorang, melainkan sebagai cermin dari evolusi sosial dan budaya komunikasi modern. Di era digital, berbagi menjadi konsekuensi logis dari masyarakat yang tengah belajar mengelola kebebasan berekspresi dalam ruang digital. Perilaku oversharing sendiri muncul dari berbagai motif dan alasan, seperti menjaga relasi sosial, membangun citra diri, hingga mencari hiburan dan pembelajaran. Fenomena ini menggambarkan dinamika masyarakat modern yang kompleks. Di mana batas antara ruang privasi dan publik semakin pudar. Dari sudut pandang sosiologis, oversharing bukanlah sekadar perilaku individu, melainkan bagian dari konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh kebutuhan akan validasi, pembentukan identitas digital, dan tekanan budaya digital seperti Fear
of Missing Out (FOMO).
Meski beresiko terhadap privasi dan reputasi, oversharing tidak seharusnya selalu dianggap negatif. Justru, di balik kebiasaan berbagi yang berlebihan itu terdapat peluang besar untuk pengembangan diri, profesionalisme, dan pertumbuhan ekonomi kreatif. Melalui berbagi platform digital yang menyediakan sistem monetisasi, seseorang dapat menyalurkan ide, dan pengalaman, serta kreativitasnya menjadi sebuah karya yang produktif sekaligus menguntungkan. Dengan literasi digital yang baik dan kesadaran yang matang, maka kebiasaan berbagi ini dapat menjadi bentuk ekspresi yang bernilai, membangun semangat berkarya, serta memberi dampak positif bagi diri sendiri maupun lingkungan sosial.
Pada akhirnya, oversharing bukan tentang seberapa banyak seseorang membagikan kehidupannya, melainkan seberapa banyak seseorang membagikan kehidupannya, dan seberapa bermakna apa yang dibagikannya. Dunia digital tidak seharusnya menjadi ruang untuk sekadar mencari perhatian, tetapi menjadi wadah untuk tumbuh, dan berkarya, maka berbagi harus dengan keasadaran, kebermanfaatan, dan nilai yang membangun masa depan digital yang lebih bijak.
