SUARA MASA LALU DI RADIO MALABAR: NAPAK TILAS JEJAK TEKNOLOGI DUNIA DARI GUNUNG PUNTANG

Angin kencang berhembus menerpa pepohonan rindang di ketinggian, membawa suara gemerisik daun yang memenuhi udara. Di balik lebatnya hutan, tersembunyi puing-puing pondasi bangunan besar yang tertutup lumut. Batu-batu tua itu adalah sisa-sisa Stasiun Radio Malabar, pemancar gelombang panjang terkuat di dunia pada masanya.

Stasiun tersebut dibangun oleh sekelompok insinyur Belanda pimpinan Dr. Cornelius Johannes de Groot, yang mendalami pengaruh iklim tropis pada sinyal radio. Pemancar raksasa itu mulai beroperasi pada 1923, memancarkan sinyal dari Gunung Puntang menuju stasiun penerima di Kootwijk, Belanda. Fungsinya vital: menjadi penghubung komunikasi nirkabel pertama yang langsung menyambungkan Hindia Belanda dengan pusat pemerintahan di Eropa.

Kejayaan teknologi itu berakhir secara tragis. Menjelang kedatangan tentara Jepang tahun 1942, petugas Belanda menghancurkan peralatan intinya. Puncak kehancuran terjadi pada 1946, ketika bangunannya diiledakkan dengan dinamit dalam peristiwa yang dikenal sebagai Bandung Lautan Api. Ledakan itu mengakhiri fungsi stasiun sekaligus menandai berakhirnya sebuah era komunikasi global.

Kini, yang tersisa hanyalah fondasi beton, tumpukan batu berlumut, dan sepotong tembok yang kokoh berdiri. Upaya merawat memori fisik ini dilakukan dengan menjadikan lokasi sebagai museum terbuka. Pemerintah setempat bersama komunitas pecinta sejarah memasang papan informasi, merapikan jalur pendakian, dan menyelenggarakan napak tilas rutin untuk mencegah situs itu hilang ditelan alam dan waktu.

Desau angin dan dinginnya kabut senja, puing-puing itu tetap berdiri bagai monumen bisu. Setiap retakan pada batu menyimpan cerita tentang gelombang suara yang pernah melintas benua, tentang teknologi yang lahir di tengah hutan, dan tentang upaya manusia merawat jejak sejarah agar tidak punah ditelan masa.

Scroll to Top