Menyusuri Goa Jepang: Menguak Mitos dan Jejak Romusa

Sinar matahari menembus rimbunnya pepohonan kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Dago Pakar, Bandung. Suasana hutan yang alami dan sejuk itu menyimpan kisah masa lalu yang kelam. Goa Jepang merupakan peninggalan masa pendudukan Jepang yang kini menjadi destinasi wisata di Bandung. Namun, di balik daya tariknya, tempat ini menyimpan kisah pilu romusa yang dipaksa bekerja tanpa henti dan diperlakukan secara tidak manusiawi. Goa Jepang juga memiliki mitos yang masih dipercaya hingga saat ini.

Sandi, pemandu wisata yang telah melayani pengunjung sejak tahun 2000, melangkah memasuki lorong goa tersebut. Dengan hanya menggunakan senter sebagai penerangan, ia menerangi dinding-dinding batu ignimbrit yang telah bertahan selama delapan dekade. “Bangunan goa ini masih berbentuk aslinya dan belum pernah direnovasi dari awal pembangunan sampai sekarang,” ujarnya dengan nada serius.

Goa Jepang dibangun pada periode 1942 hingga 1945, saat Tentara Jepang mengambil alih Bandung Utara. Hal ini berbeda dengan Goa Belanda yang telah berdiri lebih awal pada periode 1906 hingga 1941. Goa Jepang berfungsi sebagai tempat peristirahatan sekaligus menjadi gudang amunisi. Setelah kekuasaan Belanda berakhir, Tentara Jepang mengambil alih Goa Belanda dan menjadikannya sebagai lokasi penyiksaan, ruang interogasi, serta penjara. Adapun Goa Jepang difungsikan sebagai sarana tambahan yang dianggap lebih layak dan nyaman bagi para komandan militer.

“Di dalam goa ini terdapat tempat peristirahatan Komandan Jepang Hitoshi Imamura,” jelas Sandi sambil menunjuk ke salah satu ruangan. Goa ini memiliki empat pintu masuk yang terhubung dalam tiga lorong paralel berbentuk labirin dan desainnya strategis untuk mengecoh lawan. Di dalam goa tersebut juga terdapat ventilasi udara yang digunakan sebagai perangkap, lubang pelarian, dan pengintaian ketika ada serangan musuh.

Namun, di balik fungsi militer yang strategis itu, tersimpan kisah pilu para romusa pada masa pembangunan goa ini. Goa Jepang dibangun oleh para romusa atau pribumi yang dipekerjakan dengan paksa dan tanpa diberikan makanan yang layak. Mereka hanya mendapatkan penyiksaan yang tiada henti. Dengan menggunakan alat-alat manual seperti pahat, belincong, linggis, dan cangkul, para romusa memahat batu yang menurut penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) memiliki tekstur yang lebih keras dibandingkan dengan batu karang.

“Batu ignimbrit ini berasal dari letusan Gunung Sunda purba yang mengendap menjadi abu vulkanik. Karena itu, batu tersebut elastis dan tahan gempa,” jelas Sandi. Setiap tahun, batu-batu di goa ini diteliti untuk memastikan ketahanannya dan meminimalkan risiko keruntuhan.

Panjang goa hingga ke ujung hanya mencapai 80 meter, sedangkan secara keseluruhan luas goa tersebut kurang lebih 600 meter. Berbeda dengan Goa Belanda yang luas keseluruhannya mencapai 1.200 meter dan kini kondisinya sudah baik, dengan dinding yang telah ditembok serta lantai yang sudah berubin.

  Goa Jepang ditemukan pada tahun 1972 oleh warga lokal dan diresmikan sebagai objek wisata di Taman Hutan Raya (TAHURA) Ir. H. Djuanda, Bandung, pada tahun 1985. Pada awal diresmikan sebagai objek wisata, goa ini sempat menggunakan lampu sebagai penerangan. Namun, karena udara yang lembap dan adanya rembesan air, lampu tersebut tidak dapat berfungsi dan bertahan lama.

Selain kisah sejarah, Goa Jepang juga menyimpan cerita mistis yang masih dipercaya oleh masyarakat sekitar. Salah satu mitos yang berkembang adalah larangan mengucapkan kata “lada”. Sandi sebagai penduduk lokal yang telah lama tinggal di kawasan itu, membenarkan adanya mitos tersebut.

“Jadi sebenarnya itu mah apa ya, mitos. Kan ada pantangan di sini, jangan bilang lada. Cuma kalau untuk sekarang sudah jadi mitos. Dulu, saat saya masih kecil memang suka terjadi. Jika ada yang bilang lada, diyakini mengalami kesurupan. Bahkan dulu pernah, waktu tahun 2001 kalau tidak salah, enam bus rombongan semua langsung kemasukan karena sompral. Tetapi tetap balik lagi pada niat awal kita.” ujarnya, menegaskan kembali pentingnya niat awal.

Tidak lupa, Sandi menyampaikan pesan bagi pengunjung yang berencana mengunjungi objek wisata tersebut. “Kalau saya, pesannya cuma satu. Kalau di sini jangan sompral saja, harus jaga etika. Pokoknya jangan sompral dan jaga etika itu saja sih. Soalnya takut terjadi hal yang tidak diinginkan, karena dulu sering sekali kejadian seperti itu di sini, dikarenakan orang-orang yang sompral dan suka menantang, tidak percaya.” ujarnya dengan nada tegas.

Bagi masyarakat yang berencana mengunjungi objek wisata Goa Jepang dapat mendatangi kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA) Ir. H. Djuanda, Dago Pakar, tepatnya di Jalan Ir. H. Djuanda No. 99, Bandung. Harga tiket masuk pada tahun 2025 sebesar Rp17.000, dengan biaya tambahan sekitar Rp5.000 untuk sewa senter dan Rp30.000 untuk jasa pemandu. Kini, di balik statusnya sebagai destinasi wisata yang ramai dikunjungi, Goa Jepang tetap menyimpan jejak sejarah dan kisah romusa yang patut dikenang, agar tragedi kemanusiaan serupa tidak kembali terulang.

Scroll to Top