Di tengah tugas kuliah yang semakin menumpuk, banyak mahasiswa kini lebih memilih mencari meja kosong di kafe daripada kursi belajar di perpustakaan. Pemandangan laptop terbuka, buku catatan berserakan, earphone terpasang, dan secangkir kopi di sampingnya sudah menjadi hal biasa. Kafe yang dahulu identik dengan tempat bersantai kini berubah menjadi ruang kerja alternatif bagi mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa menjadikan kafe sebagai tempat rutin untuk mengerjakan tugas, rapat kelompok, bahkan belajar menjelang ujian. Fenomena ini mudah ditemukan, terutama di kawasan sekitar kampus yang dipenuhi tempat nongkrong dengan fasilitas internet. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah belajar di kafe benar-benar membuat mahasiswa lebih produktif, atau hanya sekadar mengikuti tren gaya hidup masa kini?
Menurut saya, keberhasilan belajar tidak ditentukan oleh seberapa menarik tempat yang dipilih, melainkan oleh kecocokan suasana dengan kebutuhan belajar serta kemampuan mahasiswa mengatur fokusnya. Kafe dan perpustakaan sama-sama memiliki kelebihan. Akan tetapi, hasil akhirnya tetap bergantung pada disiplin diri masing-masing. Tempat yang nyaman memang membantu, tetapi tanpa niat belajar yang kuat, tempat terbaik sekalipun tidak akan memberikan hasil maksimal.
Tidak dapat dimungkiri, kafe menawarkan suasana yang nyaman dan menyenangkan. Musik lembut, pencahayaan hangat, desain ruangan yang estetik, serta aroma kopi sering kali membuat seseorang merasa lebih rileks. Bagi sebagian mahasiswa, suasana seperti ini dapat meningkatkan semangat mengerjakan tugas. Penelitian Hermawan, Ramadhan, dan Alfitriansyah (2026) mengenai preferensi mahasiswa terhadap lingkungan belajar menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa memilih coffee shop karena dianggap nyaman, fleksibel, dan mampu menciptakan suasana belajar yang tidak menegangkan.
Bagi mahasiswa yang sedang menulis artikel, membuat desain, menyusun presentasi, atau berdiskusi kelompok, suasana santai justru sering memunculkan ide-ide baru. Tempat yang tidak terlalu formal membuat sebagian orang merasa lebih bebas berpikir dan berani menuangkan gagasan. Tidak heran jika banyak mahasiswa merasa lebih rajin membuka laptop ketika berada di kafe dibanding saat berada di rumah yang penuh gangguan seperti kasur, televisi, atau rasa malas.
Meski demikian, perpustakaan masih menjadi tempat belajar paling ideal untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Saat mahasiswa harus membaca jurnal, memahami materi sulit, menghafal, mengerjakan hitungan, atau menyusun skripsi, suasana tenang jauh lebih membantu. Tidak ada suara blender kopi, obrolan pelanggan, atau lalu-lalang pengunjung yang berpotensi mengganggu perhatian. Dalam kondisi sunyi, otak lebih mudah memproses informasi secara mendalam.
Selain itu, perpustakaan menyediakan sumber belajar yang tidak dimiliki kafe, seperti koleksi buku, jurnal ilmiah, ruang baca, serta akses referensi akademik. Penelitian Lestari dkk. (2025) menunjukkan bahwa mahasiswa masih memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat pencarian referensi dan ruang belajar yang mendukung kebutuhan akademik. Di banyak kampus, perpustakaan bahkan telah dilengkapi Wi-Fi gratis, ruang diskusi, komputer, pendingin ruangan, dan colokan listrik yang memadai. Sayangnya, masih ada mahasiswa yang menganggap perpustakaan terlalu kaku dan membosankan, padahal fasilitasnya semakin berkembang dan nyaman digunakan.
Masalahnya, tidak sedikit mahasiswa yang datang ke kafe bukan karena kebutuhan belajar, melainkan karena dorongan tren sosial. Belajar di kafe dianggap lebih modern, keren, dan layak diunggah ke media sosial. Akibatnya, fokus utama bergeser dari belajar menjadi pencitraan. Waktu habis untuk memilih sudut foto terbaik, memotret minuman, membuka media sosial, atau sekadar berbincang panjang dengan teman.
Jika sudah seperti itu, laptop memang terbuka, tetapi tugas tidak bergerak ke mana-mana. Kafe yang seharusnya menjadi tempat belajar justru berubah menjadi tempat menunda pekerjaan dengan suasana yang lebih menarik. Produktivitas semu seperti ini cukup sering terjadi. Terlihat sibuk dari luar, tetapi hasil kerja tidak sebanding dengan waktu yang dihabiskan.
Dari sisi ekonomi, belajar di kafe juga perlu dipertimbangkan. Berdasarkan pengamatan sederhana, harga minuman di banyak kedai kopi berkisar Rp20.000 hingga Rp40.000, belum termasuk makanan ringan. Jika mahasiswa datang tiga kali dalam seminggu, pengeluaran bulanan dapat mencapai ratusan ribu rupiah. Bagi mahasiswa dengan anggaran terbatas, kebiasaan ini tentu menjadi pertimbangan tersendiri. Uang tersebut sebenarnya bisa dialihkan untuk membeli buku, mencetak tugas, atau kebutuhan akademik lainnya.
Sementara itu, perpustakaan kampus umumnya menyediakan ruang belajar, Wi-Fi, dan referensi secara gratis. Hal ini menunjukkan bahwa memilih tempat belajar juga perlu mempertimbangkan efisiensi, bukan sekadar kenyamanan sesaat. Mahasiswa perlu bijak membedakan kebutuhan dan keinginan agar tidak boros hanya demi mengikuti kebiasaan teman.
Pada akhirnya, tempat hanyalah alat bantu. Mahasiswa yang memiliki target jelas tetap bisa belajar dengan baik di mana saja, baik di kafe, perpustakaan, taman kampus, maupun di kamar sendiri. Sebaliknya, mahasiswa yang tidak memiliki niat kuat akan tetap sulit fokus walaupun berada di tempat paling tenang sekalipun. Penelitian Mahiza dan Nurhidayati (2025) juga menunjukkan bahwa disiplin belajar memiliki pengaruh terhadap prestasi akademik mahasiswa. Artinya, faktor utama keberhasilan belajar tetap terletak pada kebiasaan diri, bukan semata-mata tempat.
Belajar di kafe bisa efektif jika dilakukan dengan strategi, misalnya datang pada jam sepi, memilih tempat duduk yang minim gangguan, mematikan notifikasi ponsel, dan menetapkan target tugas sebelum pulang. Begitu pula di perpustakaan, mahasiswa tetap harus mengelola waktu agar tidak hanya duduk diam tanpa hasil. Tempat belajar yang baik adalah tempat yang membuat pekerjaan selesai, bukan sekadar tempat yang nyaman untuk berlama-lama.
Karena itu, mahasiswa sebaiknya tidak mudah terpengaruh tren. Kenali terlebih dahulu gaya belajar diri sendiri. Jika lebih mudah fokus di tempat sunyi, perpustakaan adalah pilihan tepat. Jika lebih kreatif dalam suasana santai, kafe bisa menjadi alternatif. Bahkan, sesekali belajar di taman kampus atau ruang belajar bersama juga dapat menjadi pilihan yang menyegarkan.
Yang terpenting bukan di mana kita belajar, tetapi apakah tempat tersebut benar-benar membantu kita berkembang dan menyelesaikan tanggung jawab akademik. Sebab pada akhirnya, secangkir kopi tidak akan pernah menggantikan ketekunan, dan meja paling nyaman sekalipun tidak akan menyelesaikan tugas tanpa kemauan dari pemiliknya.
Beberapa Bacaan
Hermawan, D., Ramadhan, M. A., & Alfitriansyah, M. N. (2026). Eksplorasi preferensi mahasiswa terhadap lingkungan belajar antara perpustakaan atau coffee shop. Pustaka Karya: Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi.
Lestari, W., dkk. (2025). Intensitas pemanfaatan perpustakaan oleh mahasiswa universitas. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia.
Mahiza, R. S. H., & Nurhidayati, A. (2025). Pengaruh lingkungan kampus, disiplin belajar, dan keaktifan berorganisasi terhadap prestasi belajar akademik mahasiswa. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan.
