Sekali Klik, Menyesal: Jerat Belanja Impulsif

Fenomena belanja impulsif di era digital bukan lagi sekadar kebiasaan kecil, melainkan telah menjadi pola perilaku yang mengkhawatirkan. Kemudahan teknologi membuat masyarakat semakin mudah membeli sesuatu tanpa perencanaan. Menurut saya, kondisi ini bukan hanya soal gaya hidup modern, tetapi sudah mengarah pada masalah serius dalam pengelolaan keuangan, terutama di kalangan generasi muda. Saat ini, belanja tidak lagi membutuhkan proses panjang. Cukup membuka aplikasi, memilih barang, lalu menekan tombol “checkout”. Bahkan, dengan adanya fitur paylater, seseorang bisa membeli tanpa harus memiliki uang saat itu juga. Inilah yang membuat belanja impulsif semakin sulit dikendalikan.

Data menunjukkan bahwa fenomena ini benar-benar terjadi dan terus meningkat. Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), utang masyarakat Indonesia melalui layanan buy now pay later mencapai sekitar Rp7,81 triliun hingga Juli 2024, meningkat lebih dari 73% secara tahunan. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin bergantung pada sistem kredit instan untuk memenuhi kebutuhan atau bahkan keinginan. Tidak hanya itu, jumlah pengguna paylater juga terus bertambah. Tercatat sekitar 14,37 juta orang Indonesia telah menggunakan layanan ini pada 2024. Menurut saya, angka ini bukan sekadar pertumbuhan teknologi finansial, tetapi juga sinyal bahwa Masyarakat mulai terbiasa berbelanja tanpa mempertimbangkan kemampuan finansialnya secara matang.

Kejadian ini semakin diperkuat oleh laporan bahwa industri paylater tetap tumbuh meskipun daya beli masyarakat sedang melemah. Bahkan, penyaluran pembiayaan paylater mencapai hampir Rp. 8 Triliun pada Agustus 2024. Artinya, ketika kondisi ekonomi sedang tidak stabil, Masyarakat justru semakin aktif berutang untuk konsumsi. Hal ini, menurut saya, adalah indikasi jelas dari perilaku konsumtif yang tidak sehat.

Salah satu penyebab utama dari balanja impulsif adalah kemudahan akses teknologi. Laporan terbaru menunjukkan bahwa transaksi paylater tidak hanya meningkat secara online, tetapi juga di toko offline dengan pertumbuhan hingga 169% pada 2023. Ini berarti perilaku konsumtif tidak lagi terbatas pada dunia digital, tetapi sudah merambah ke kehidupan segari-hari secara luas. Selain kemudahan, faktor psikologis juga berperan besar. Fitur seperti diskon besar, flash sale, dan notifikasi “stok terbatas” sengaja dirancang untuk memicu emosi konsumen. Dalam kondisi seperti ini, keputusan membeli sering kali tidak lagi rasional, melainkan berdasarkan dorongan sesaat. Saya berpendapat bahwa strategi pemasaran ini secara tidak langsung “memanipulasi” konsumen agar membeli lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Lebih lanjut, media sosial turut memperparah situasi. Konten seperti haul, live shopping, dan promosi influencer membuat konsumsi terlihat sebagai sesuatu yang normal bahkan diinginkan. Banyak orang akhirnya membeli barang bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin mengikuti tren. Dalam konteks ini, belanja telah berubah menjadi alat untuk mendapatkan pengakuan sosial.

Jika dilihat dari profil penggunanya, mayotitas pengguna paylater berada pada usia produktif, yaitu 18-35 tahun. Kelompok ini adalah generasi yang sangat aktif di media sosial sekaligus memiliki gaya hidup digital. Menurut saya, hal ini membuat mereka menjadi target paling rentan terhadap balanja impulsif. Dampak dari fenomena ini tidak bisa dianggap ringan. Secara individu, belanja impulsif dapat menyebabkan stres finansial, penyesalan, hingga kebiasaan berutang yang sulit dihentikan. Bahkan, peningkatan penggunaan paylater juga berpotensi meningkatkan risiko kredit macet jika tidak dikelola dengan baik.

Secara sosial, budaya konsumtif ini juga mengubah cara pandang masyarakat. Nilai seseorang sering kali diukur dari apa yang dimilikinya, bukan dari apa yang dihasilkannya. Hal ini menciptakan tekanan sosial yang mendorong individu untuk terus membeli, meskipun kondisi keuangan tidak memungkinkan. Menurut saya, jika kejadian ini terus dibiarkan, dampaknya bisa lebih luas, bahkan berpotensi menciptakan krisis keuangan pada tingkat individu. Generasi muda yang seharusnya membangun stabilitas finansial justru terjebak dalam pola konsumsi yang tidak sehat. Namun, kejadian ini bukan tanpa solusi. Langkah pertama yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran diri. Setiap individu harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli, perlu ada pertanyaan sederhana: apakah barang ini benar-benar diperlukan?

Kedua, penggunaan fitur paylater harus lebih bijak. Fitur ini memang memberikan kemudahan, tetapi juga memiliki risiko besar jika digunakan tanpa kontrol. Saya berpendapat bahwa paylater seharusnya digunakan hanya untuk kebutuhan mendesak, bukan untuk memenuhi keinginan sesaat. Ketiga, literasi keuangan perlu ditingkatkan, terutama di kalangan generasi muda. Pemahaman tentang pengelolaan uang, risiko utang, dan perencanaan keuangan sangat penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam perilaku konsumtif.

Selain itu, platform digital juga memiliki tanggung jawab moral. Mereka tidak seharusnya hanya fokus pada peningkatan transaksi, tetapi juga perlu memberikan edukasi kepada pengguna. Transparansi biaya dan risiko juga menjadi hal penting agar konsumen dapat mengambil keputusan secara lebih bijak. Pada akhirnya, belanja bukanlah sesuatu yang salah. Namun, ketika dilakukan tanpa kontrol, ia dapat menjadi jebakan yang merugikan. Di era digital ini, tantangan terbesar bukan lagi bagaimana mendapatkan barang, tetapi bagaimana mengendalikan diri. Menurut saya, perubahan harus dimulai dari kesadaran individu. Karena pada akhirnya, satu klik yang tampak sederhana hari ini, bisa menjadi penyesalan besar di kemudian hari.

Beberapa Bacaan

https://goodstats.id/article/pengguna-paylater-indonesia-tumbuh-17-kali-lipat-dalam-5-tahun-terakhir-355VL

https://www.batuahnews.id/kredit-macet-paylater-meningkat-tajam

https://rri.co.id/madiun/ekonomi/keuangan/2286539/psikolog-ungkap-penyebab-impulsive-buying-di-era-digital

https://mediasembilan.com/2025/11/15/dampak-e-commerce-shopee-terhadap-perubahan-pola-konsumsi-dan-perilaku-belanja-generasi-z/

https://fs-institute.org/tren-paylater-di-indonesia-dampak-dan-regulasi-baru-2025/

https://desapadalarang.com/berita-paylater/002017728/6-dampak-negatif-paylater-untuk-masa-depan-finansial-dari-skor-kredit-sampai-gagal-kpr/

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!