
Sehari kamu pegang HP berapa lama? Dan dari semua itu, pasti kebanyakan dipakai untuk buka media sosial. Entah itu TikTok, Instagram, atau sekadar chat di WhatsApp. Dari hal tersebut juga, tanpa sadar, cara kita berbicara dan menulis jadi ikut berubah. Kata-kata seperti “gak”, “bgt”, “spill”, “healing”, atau kalimat yang bercampur dengan bahasa Inggris itu sudah jadi hal biasa banget seperti “Jangan lupa join ya nanti malam!” atau Aku lagi overthinking parah”. Bahkan terkadang jika menulis lengkap malah terasa aneh. Nah, dari sini muncul pertanyaan: sebenarnya ini cuma gaya saja, atau ada dampaknya ke kemampuan literasi kita?
Jika dipikir-pikir, bahasa gaul itu memang seru. Membuat komunikasi jadi lebih santai dan tidak kaku. Apalagi untuk remaja, hal ini juga menjadi cara untuk menunjukan identitas serta supaya terasa “nyambung” dengan teman. Tapi masalahnya, kebiasaan ini sering terbawa ke situasi yang seharusnya menggunakan bahasa formal. Contohnya, masih banyak yang menulis tugas memakai bahasa yang setengah formal, setengah Santai, atau tidak formal sama sekali. Kadang masih ada “gak”, “banget”, atau bahkan singkatan-singkatan yang sebenarnya tidak cocok dipakai untuk tugas. Ini menunjukan jika kita mulai susah membedakan mana bahasa santai dan mana bahasa resmi.
Selain itu, media sosial juga membuat kita terbiasa dengan sesuatu yang serba cepat dan singkat. Kita lebih sering baca caption pendek dan komentar singkat daripada artikel panjang. Lebih sering nonton video singkat daripada baca buku. Akibatnya, ketika diperintahkan membaca teks panjang atau menulis panjang, rasanya jadi berat dan malas duluan. Bahkan tidak sedikit yang langsung menyerah sebelum mencoba, karena merasa tidak terbiasa. Belum lagi kebiasaan campur bahasa. Seperti, “Aku lagi insecure banget” atau “Dia tuh friendly parah.” Memang sih hal tersebut terasa keren, tapi jika terus-terusan seperti itu, lama-lama kita jadi kurang terbiasa memakai bahasa Indonesia yang utuh dan benar. Tanpa sadar, kita jadi lebih nyaman memakai bahasa campuran daripada bahasa yang jelas dan rapi.
Jika dilihat lebih jauh, dampak ini sebenarnya cukup terasa di kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat diminta menjelaskan sesuatu secara tertulis, banyak yang jadi bingung harus mulai dari mana. Kalimatnya jadi tidak runtut, idenya loncat-loncat, atau bahkan terlalu singkat sampai maksudnya kurang jelas. Ini bukan karena tidak memiliki ide, tapi karena tidak terbiasa menuangkannya dalam bentuk tulisan yang terstruktur.
Hal lain yang juga sering terjadi adalah menurunnya kebiasaan membaca secara mendalam. Kita jadi lebih suka informasi yang instan dan cepat dipahami. Padahal, kemampuan literasi itu butuh proses dan perlu latihan membaca yang serius, memahami isi, lalu mengolahnya kembali. Jika terus terbiasa dengan yang serba cepat, kemampuan ini bisa pelan-pelan menurun tanpa kita sadari.
Selain itu, kebiasaan membaca yang dangkal juga bisa berdampak ke cara berpikir. Kita jadi terbiasa menerima informasi tanpa benar-benar memahami atau mengkritisinya. Padahal, literasi yang baik itu bukan hanya soal membaca, tapi juga soal berpikir kritis. Jika ini tidak dilatih, kita bisa jadi mudah percaya informasi yang belum tentu benar. Di sisi lain, penggunaan bahasa yang terlalu santai juga bisa mempengaruhi kepercayaan diri saat berada di situasi formal. Misalnya, saat presentasi atau menulis karya ilmiah, banyak yang menjadi ragu dengan pilihan katanya sendiri. Takut salah, tapi juga tidak yakin mana yang benar. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan kecil di media sosial ternyata bisa berdampak cukup besar. Tetapi bukan berarti bahasa gaul itu sepenuhnya salah. Bahasa itu memang selalu berkembang, dan wajar jika tiap generasi memiliki gaya bahasa sendiri. Yang menjadi masalah itu jika kita tidak bisa ngontrol kapan harus pakai bahasa tersebut.
Menurutku, yang penting itu bukan menghilangkan bahasa gaul, tapi bagaimana kita tahu tempat dan situasi saat kita berbicara atau menulis. Santai boleh, gaul boleh, tapi jika sedang ngerjain tugas, presentasi, atau hal formal lainnya, ya harus bisa kembali ke bahasa yang lebih rapi. Ini sangat penting, karena kemampuan menyesuaikan bahasa itu juga bagian dari literasi. Selain itu, kita juga perlu mulai membiasakan diri untuk tetap membaca dan menulis dengan lebih serius, walaupun sedikit-sedikit. Misalnya, mencoba untuk baca artikel yang agak panjang, atau latihan nulis tanpa pakai singkatan. Bahkan hal sederhana seperti menulis caption yang lebih jelas dan lengkap juga bisa jadi latihan.
Sebenarnya media sosial juga tidak selalu buruk. Banyak juga konten yang bisa bantu kita belajar, termasuk soal bahasa dan literasi. Bahkan sekarang sudah banyak kreator yang membuat konten edukatif dengan cara yang menarik dan tidak membosankan. Ini bisa jadi peluang untuk kita agar tetap belajar tanpa merasa terbebani. Tinggal bagaimana diri kitanya saja, mau pakai media sosial untuk hal yang bermanfaat atau cuma untuk hiburan saja. Jika kita bisa lebih bijak, media sosial justru bisa jadi alat yang membantu meningkatkan literasi, bukan menurunkannya.
Jadi, apakah bahasa gaul merusak literasi remaja? Jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak. Tapi yang jelas, jika selalu dipakai tanpa kontrol, dampaknya bisa membuat kemampuan literasi kita menurun. Akhirnya, semuanya kembali lagi ke diri masing-masing. Kita tetap bisa jadi remaja yang gaul, update, dan mengikuti tren, tanpa harus kehilangan kemampuan berbahasa yang baik. Karena pada akhirnya, kemampuan literasi itu sangat penting, tidak hanya untuk sekolah, tapi juga untuk masa depan. Bahkan bisa dibilang, cara kita berbahasa sekarang akan sangat mempengaruhi bagaimana kita berpikir, berkomunikasi, dan memahami dunia di masa depan nanti.
