Punya Dua Akun Instagram Bukan Berarti Kamu Palsu

Pernahkah kamu melihat postingan temanmu di Instagram yang sedang berlibur, jalan-jalan, atau bahkan foto kopi dan laptop? Lalu, di waktu yang bersamaan pada akun kedua justru menampilkan curhatan deadline tugas, cerita percintaannya, atau foto selfie tanpa riasan. Jadi, yang mana yang asli? Jika selama ini kita mengira second account sebagai tempat beberapa pihak berpura-pura dan bersembunyi, maka kita perlu berpikir ulang.

Belakangan ini, penggunaan second account di Instagram menjadi hal yang sangat umum, terutama di kalangan Generasi Z. Mereka cenderung mempunyai dua akun dengan fungsi yang berbeda. Akun utama menampilkan konten yang rapi, aesthetic dan dapat dilihat siapa saja. Berbeda dengan akun kedua yang berisikan konten yang lebih santai, bebas, random, bahkan terlihat lebih jujur dan apa adanya. Namun, fenomena tersebut seringkali dipandang negatif oleh beberapa pihak, seolah-olah seseorang yang mempunyai second account dianggap tidak jujur atau mempunyai dua kepribadian. Padahal, jika dilihat pada kenyataannya justru sebaliknya.  Penggunaan second account muncul karena adanya tekanan di media sosial yang diberikan oleh pihak tertentu bahkan diri sendiri.

Branding yang diberikan pada akun utama, biasanya cenderung menampilkan sisi diri pengguna agar terlihat baik, aesthetic, dan sesuai ekspektasi diri sendiri dan orang lain. Sehingga, penggunaan akun utama dijadikan tempat untuk menjaga citra yang baik. Untuk itu, apa yang ditampilkan di akun utama, seringkali bukan bagian dari diri pengguna, namun sudah melewati proses pemilihan sebelum diunggah ke laman media digital. Berbeda dengan second account, pengguna dapat berekspresi dan mengunggah apapun sesuai dengan apa yang dirasakan. Hal tersebut dapat terjadi karena pengikut pada akun kedua merupakan orang-orang terpilih.

Dalam kondisi seperti ini, saya berpandangan bahwa second account justru menjadi ruang yang lebih jujur dan bebas. Di sana, seseorang dapat berekspresi sesuai dengan apa yang diinginkan tanpa takut dihakimi oleh pihak manapun. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gifari et al., (2025) terhadap Generasi Z di Medan, menemukan bahwa akun utama Instagram berfungsi sebagai front stage yaitu panggung depan, yang terlihat rapi, aesthetic, dan penuh kesadaran akan penilaian orang lain. Sedangkan second account adalah back stage yaitu panggung belakang, yang cenderung bebas, spontan, bahkan random. Temuan Gifari et al., (2025) menunjukkan, bahwa memiliki dua akun bukanlah skizofrenia digital, melainkan naluri sosial yang normal. (Sumber: Gifari et al., 2025).

Penggunaan dua akun Instagram ditujukan untuk memisahkan kehidupan publik dan pribadi, serta memberi ruang bagi individu untuk mengekspresikan diri secara lebih bebas. Artinya, keberadaan akun kedua bukan sekadar trend semata, melainkan dianggap sebagai sesuatu yang perlu hadir sebagai tempat berbagi yang tidak dituntut untuk tampil sempurna. Jadi, ketika seseorang curhat di second account, dia tidak sedang berbohong, melainkan sedang memilih audiens yang tepat

 Selain itu, penelitian lain yang dilakukan Wirda & Munthe (2026) terhadap 250 remaja akhir pengguna second account di Pekanbaru mengungkapkan bahwa self disclosure atau keterbukaan diri justru lebih tinggi ketika seseorang merasa aman dan tidak dihakimi. Faktor terbesar yang mendorong keterbukaan ini bukanlah rasa percaya diri (self esteem), melainkan intimate friendship, yaitu kedekatan dengan teman-teman yang terpercaya. Dalam studi tersebut, intimate friendship menyumbang 39,3% terhadap keterbukaan diri, sementara self esteem hanya 2,6%. Artinya, dapat dikatakan bahwa seseorang akan lebih jujur jika ia tahu bahwa yang melihat postingannya hanya orang-orang terdekatnya saja. (Sumber: Wirda & Munthe, 2026).

Jika dipikirkan kembali, wajar saja apabila setiap individu tidak ingin semua sisi dalam dirinya diketahui oleh semua pihak. Ada hal-hal yang memang cukup dibagikan ke lingkaran kecil saja. Dan di sinilah fungsi second account menjadi masuk akal, bukan untuk menipu, melainkan untuk memilah mana yang bisa dikonsumsi publik, dan mana yang cukup untuk orang-orang terdekat. Hal tersebut membantah anggapan bahwa second account sebagai tempat “pura-pura”. Sebaliknya, justru di sanalah seseorang merasa aman untuk menunjukkan rasa cemas, sedih, atau marah. Jika dianalogikan dengan dunia nyata, apakah Anda berbicara dengan dosen sama persis seperti saat berbicara dengan sahabat di kampus? Tentu saja tidak. Bukan karena Anda palsu, melainkan karena konteks dan ekspektasinya berbeda.

 Berdasarkan fenomena yang terjadi saat ini, saya semakin melihat second account sebagai tempat untuk menuangkan berbagai ekspresi dan emosi diri yang tertahan di akun utama. Di akun utama, seringkali pengguna harus menyesuaikan diri, namun di akun kedua justru lebih berani menjadi diri sendiri, lebih spontan, lebih emosional, dan lebih manusiawi. Hal tersebut bukan berarti mempunyai dua kepribadian, melainkan sadar bahwa tidak semua ruang itu sama. Gifari et al., (2025) juga mencatat bahwa tantangan terbesar memiliki second account bukanlah soal integritas, melainkan manajemen waktu dan energi. Justru di situlah letak kedewasaan terhadap dunia digital, yaitu mampu memilah kapan dan kepada siapa saja menunjukkan sisi mana dari diri kita. Maka, dapat dikatakan bahwa memiliki dua akun bukan berarti Anda tidak jujur. Melainkan, Anda sadar bahwa tidak semua ruang daring itu aman untuk semua versi dari diri Anda.

Jika dilihat lebih realistis, penggunaan second account juga mempunyai risiko, misalnya soal privasi yang bisa saja disebarkan oleh pihak yang dianggap dekat atau justru terlalu rumit karena harus mengelola dua akun. Namun, hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk beranggapan bahwa penggunaan second account sebagai sesuatu yang salah. Justru, dengan adanya second account, setiap individu mempunyai kontrol atas dirinya sendiri mengenai hal-hal apa saja yang perlu dan tidak perlu dibagikan di media digital dan tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh ekspektasi orang lain. Wirda & Munthe (2026) bahkan menyebut bahwa masih ada 58,1% faktor lain yang memengaruhi keterbukaan diri, seperti rasa kesepian atau kontrol diri.

Untuk itu, apakah melarang seseorang memiliki second account perlu dilakukan? Hal tersebut dapat diibaratkan layaknya pisau dapur, yaitu bisa melukai, namun lebih sering digunakan untuk memasak. Dengan begitu, dapat ditarik kesimpulan bahwa salahnya bukan terletak pada alatnya, melainkan pada etika penggunanya. Yang seharusnya dilakukan adalah literasi digital, yaitu memilah siapa saja yang boleh masuk ke second account, dan berani untuk mengeluarkan seseorang yang melanggar batas.

Saya tidak sedang mengajak Anda membuat seecond account hari ini juga. Melainkan, mengajak kita semua berhenti menghakimi teman yang memiliki dua akun sebagai “palsu” atau “berlebihan”. Di dunia yang terus mendorong kita tampil sempurna, memiliki satu ruang kecil untuk menjadi seseorang yang tidak mengikuti standar orang lainitu bukan suatu kelemahan. Hal tersebut justru merupakan bentuk kewajaran. Jika second account membantu seseorang tetap waras, jujur, dan terhubung dengan orang-orang terpercaya, maka biarkan saja.

Berdasarkan fenomena penggunaan second account di Instagram, justru muncul pertanyaan yang perlu kita renungkan. Apakah akun utama kita selama ini benar-benar nyata, atau hanya sekadar pertunjukan dalam mengikuti standar yang dibuat oleh orang sekitar? Dapat saya katakan bahwa second account bukan tempat pelarian, melainkan sebagai langkah awal dari keberanian di ruang yang tepat, untuk orang yang tepat pula. Karena pada akhirnya, saya melihat second account bukan sebagai bentuk kepalsuan, tetapi sebagai bentuk penempatan perilaku dalam bermedia sosial. Di dunia yang serba dinilai ini, tentunya setiap individu perlu mempunyai ruang untuk menjadi diri sendiri. Apabila ruang tersebut hanya didapatkan melalui second account, maka bukan suatu masalah untuk memilikinya, melainkan sebagai sebuah solusi.

REFERENSI

Gifari, A., Ardelisma, A., Nugraha, A., & Jannah, M. (2025). Second Instagram accounts : A study of Generation Z ’ s Self-Identity in Medan. 9(0341), 62–77.

Wirda, A., & Munthe, R. A. (2026). Self Esteem , Intimate friendship , dan Self Disclosure pada Remaja Akhir Pengguna Second Account Instagram. 7(1), 34–43.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!