Marhaenisme sebagai Perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi pada Aspek Pengabdian kepada Masyarakat

Perguruan tinggi sejatinya tidak hanya menjadi ruang produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi alat transformasi sosial yang hadir di tengah kehidupan rakyat. Dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia, hal itu ditegaskan melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Dari ketiga poin tersebut, pengabdian kepada masyarakat merupakan ruang konkret bagi kampus untuk membuktikan keberpihakannya kepada rakyat. Dalam konteks inilah ideologi Marhaenisme menemukan relevansinya sebagai landasan moral dan praksis gerakan intelektual kampus.

Marhaenisme yang digagas Soekarno berangkat dari keberpihakan terhadap kaum kecil, yakni rakyat tertindas yang hidup dari tenaga dan alat produksinya sendiri, tetapi tetap terjebak dalam kemiskinan akibat struktur ekonomi yang timpang. Marhaen bukan sekadar petani kecil, tetapi simbol rakyat jelata yang membutuhkan pembelaan. Dalam pidato dan pemikirannya, Soekarno menekankan bahwa kaum terpelajar memiliki tanggung jawab historis untuk membebaskan rakyat dari kebodohan, kemiskinan, dan penindasan. Karena itu, mahasiswa dan sivitas akademika tidak cukup hanya menjadi penonton perubahan sosial, melainkan harus terjun langsung memberi solusi atas persoalan masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Maret 2025 jumlah penduduk miskin di Indonesia masih berada di kisaran 24 juta jiwa atau sekitar 8,5 persen dari total populasi. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka lulusan perguruan tinggi masih relatif tinggi dibanding ekspektasi publik, menandakan adanya jarak antara pendidikan tinggi dengan kebutuhan sosial masyarakat. Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) antarwilayah masih timpang, terutama antara kawasan perkotaan dan pedesaan. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa kehadiran perguruan tinggi melalui pengabdian masyarakat masih sangat dibutuhkan secara nyata.

Dalam perspektif Marhaenisme, pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar program formal seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN), seminar sesaat, atau kegiatan seremonial. Pengabdian harus berorientasi pada pemberdayaan rakyat kecil agar mampu mandiri secara ekonomi, cerdas secara pendidikan, dan kuat secara sosial. Misalnya, mahasiswa pertanian membantu petani meningkatkan produktivitas melalui teknologi tepat guna, mahasiswa ekonomi mendampingi UMKM agar naik kelas, mahasiswa hukum memberi edukasi bantuan hukum gratis, dan mahasiswa pendidikan melakukan pengajaran luar kelas. Itulah bentuk nyata kampus yang berpihak kepada kaum Marhaen.

Sayangnya, tidak sedikit program pengabdian masyarakat di perguruan tinggi yang masih bersifat administratif. Banyak kegiatan dilakukan hanya demi memenuhi akreditasi, laporan dosen, atau kewajiban akademik mahasiswa. Akibatnya, masyarakat menjadi objek kegiatan, bukan subjek pemberdayaan. Padahal semangat Marhaenisme justru menempatkan rakyat sebagai pusat perjuangan. Kampus harus datang bukan untuk merasa paling tahu, tetapi untuk belajar bersama masyarakat dan menciptakan perubahan kolektif.Marhaenisme juga mengajarkan nasionalisme yang berakar pada kesejahteraan rakyat. Maka pengabdian kepada masyarakat harus menjawab persoalan konkret bangsa hari ini, seperti kemiskinan desa, pengangguran pemuda, kerusakan lingkungan, rendahnya literasi digital, hingga ketimpangan akses pendidikan. Jika perguruan tinggi hanya sibuk mengejar ranking internasional tetapi abai terhadap penderitaan rakyat di sekitarnya, maka kampus kehilangan makna sosialnya.Oleh sebab itu, sudah saatnya Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya aspek pengabdian masyarakat, dijalankan dengan semangat Marhaenisme.

Mahasiswa harus menjadi penyambung lidah rakyat, dosen menjadi pendidik yang membumi, dan kampus menjadi pusat solusi sosial. Ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kelas atau jurnal ilmiah, tetapi harus hadir di sawah, pasar, kampung, dan pelosok negeri. Sebab ukuran kemajuan perguruan tinggi bukan hanya banyaknya gelar dan publikasi, melainkan seberapa besar manfaatnya bagi rakyat kecil. Inilah hakikat Marhaenisme: ilmu yang berpihak, kampus yang membebaskan, dan pengabdian yang memanusiakan.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!