Menyalakan Harapan dari Sebuah Keprihatinan: Perjalanan Wiarsih Mendirikan Kober Nabilah

Tawa riang anak-anak terdengar dari sebuah bangunan sederhana di Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang. Di dalam ruangan, beberapa anak tampak duduk berjejer sambil memegang buku bergambar warna-warni. Sebagian lainnya sibuk menyusun balok mainan dan menyanyikan lagu-lagu pembelajaran bersama guru mereka. Suasana hangat dan penuh semangat itu menjadi pemandangan yang hampir setiap hari terlihat di Kober Nabilah. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa lembaga pendidikan tersebut lahir dari sebuah keprihatinan dan perjuangan panjang seorang perempuan bernama Wiarsih.

Pada tahun 2008, Wiarsih melihat banyak anak usia dini di lingkungan sekitarnya yang belum mendapatkan layanan pendidikan yang memadai. Anak-anak seusia tiga hingga lima tahun lebih banyak menghabiskan waktu bermain tanpa adanya kegiatan belajar yang terarah. Kondisi tersebut membuat hatinya tergerak untuk melakukan sesuatu.

Sebagai lulusan S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Wiarsih memahami bahwa masa kanak-kanak merupakan periode penting dalam perkembangan seseorang. Dari rasa prihatin itulah muncul keinginannya untuk membuka kelompok belajar bagi anak-anak di lingkungan sekitar. “Saya merasa prihatin melihat banyak anak usia dini yang hanya bermain di rumah tanpa mendapatkan pembelajaran yang sesuai usianya. Dari situlah muncul keinginan untuk mendirikan kelompok belajar,” ujar Wiarsih.

Perjalanan tersebut dimulai dengan segala keterbatasan yang ada. Saat itu, Wiarsih belum memiliki tempat khusus untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Berkat bantuan seorang warga bernama Endah, kegiatan pembelajaran akhirnya dapat dilaksanakan di sebuah rumah kosong milik Bu Endah. Meski sederhana, tempat tersebut menjadi saksi lahirnya langkah awal yang kelak berkembang menjadi lembaga pendidikan yang lebih besar.

Di rumah kosong itulah anak-anak mulai belajar mengenal huruf, angka, warna, dan berbagai keterampilan dasar lainnya. Dengan peralatan belajar yang terbatas dan fasilitas yang jauh dari kata mewah, kegiatan pembelajaran tetap berlangsung dengan penuh semangat. Wiarsih percaya bahwa pendidikan yang bermakna tidak selalu harus dimulai dari tempat yang besar.

Sambutan masyarakat ternyata sangat baik. Pada tahun pertama berdiri, jumlah peserta didik mencapai sekitar 40 anak. Jumlah tersebut bahkan mampu bertahan selama kurang lebih empat tahun berturut-turut. Kepercayaan masyarakat yang terus meningkat menjadi motivasi bagi Wiarsih untuk mengembangkan lembaga yang dirintisnya.

Semakin banyaknya peserta didik membuat kebutuhan akan tempat belajar yang lebih aman dan nyaman menjadi semakin mendesak. Wiarsih kemudian berupaya mencari lokasi yang dapat digunakan dalam jangka panjang. Dukungan datang dari keluarganya yang bersedia memberikan bangunan untuk digunakan sebagai sarana pendidikan.

Bangunan yang kini digunakan bukan merupakan aset milik pribadi lembaga, melainkan bangunan yang dipakai berdasarkan hak guna pakai dari keluarga. Melalui kesepakatan yang telah dibuat, bangunan tersebut dapat terus dimanfaatkan sebagai tempat belajar selama masih terdapat peserta didik yang mengikuti kegiatan pendidikan di lembaga tersebut.

Perpindahan lokasi tersebut menjadi titik penting dalam perkembangan lembaga. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih tertata dan mampu menampung kebutuhan peserta didik yang terus bertambah. Dari kelompok belajar sederhana yang berawal di rumah kosong milik Bu Endah, lembaga ini kemudian berkembang menjadi Kelompok Bermain (Kober) Nabilah yang berada di bawah naungan Yayasan Auliya.

Meski telah berkembang, perjalanan Kober Nabilah tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang dihadapi sejak awal adalah masalah pendanaan. Keterbatasan biaya menjadi hambatan dalam memenuhi berbagai kebutuhan operasional maupun pengembangan sarana dan prasarana pembelajaran.           “Tantangan terbesar sejak awal adalah biaya. Namun saya selalu berpikir bahwa pendidikan anak-anak harus tetap berjalan meskipun dengan fasilitas yang sederhana,” ungkap Wiarsih.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat Wiarsih menyerah. Dengan penuh ketekunan, berbagai persyaratan administratif mulai dilengkapi hingga akhirnya Kober Nabilah terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik), memperoleh Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP), dan mengikuti proses akreditasi. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan lembaga pendidikan yang dirintisnya.

Saat ini, Wiarsih tidak hanya berperan sebagai pendiri, tetapi juga menjalankan tugas sebagai kepala sekolah sekaligus operator lembaga. Dedikasinya menunjukkan bahwa membangun pendidikan bukan hanya tentang mendirikan sebuah sekolah, melainkan tentang menjaga agar sekolah tersebut tetap hidup dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Seiring bertambahnya jumlah lembaga PAUD di wilayah sekitar serta penerapan sistem zonasi, jumlah peserta didik di Kober Nabilah memang tidak sebanyak masa awal pendiriannya. Jika dahulu jumlah murid dapat mencapai 40 anak setiap tahun, kini jumlahnya cenderung lebih sedikit karena peserta didik terbagi ke beberapa lembaga pendidikan yang ada di sekitar wilayah tersebut.

Meskipun demikian, semangat yang melandasi berdirinya Kober Nabilah tetap sama seperti saat pertama kali dirintis. Bagi Wiarsih, keberadaan satu anak yang mendapatkan kesempatan belajar pun sudah menjadi alasan untuk terus mempertahankan lembaga ini.

Kini, dari bangunan sederhana di Dusun Tipar itu, tawa dan semangat belajar anak-anak terus tumbuh setiap hari. Suara mereka yang membaca huruf, menyanyikan lagu, dan bermain bersama menjadi bukti bahwa sebuah mimpi sederhana dapat menghadirkan perubahan nyata bagi lingkungan sekitar.

Bagi Wiarsih, Kober Nabilah bukan sekadar lembaga pendidikan anak usia dini. Tempat itu adalah wujud dari kepedulian, kerja keras, dan harapan agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Dari sebuah rumah kosong milik Bu Endah hingga menjadi lembaga pendidikan yang bertahan lebih dari satu dekade, perjalanan Kober Nabilah membuktikan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil dan keberanian untuk peduli.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!