
Suasana malam di Jalan Asia Afrika, Bandung, malam itu terlihat begitu ramai. Orang-orang berlalu-lalang memenuhi trotoar kota, suara kendaraan terdengar saling bersahutan, sementara lampu-lampu jalan menerangi kawasan tersebut dengan cahaya yang hangat. Beberapa wisatawan sibuk berfoto menikmati suasana malam Kota Bandung, sebagian lainnya duduk santai bersama teman dan keluarga sambil menikmati hiruk-pikuk kota yang seakan tidak pernah tidur.
Di tengah ramainya suasana malam itu, terlihat seorang perempuan tua berjalan perlahan sambil membawa jamu dagangannya. Langkahnya pelan, tetapi tetap tegap. Di bahunya tergantung bawaan sederhana berisi botol-botol jamu yang ia jual sejak sore hari. Wajahnya tampak lelah, namun senyum hangat masih terlihat jelas ketika ia menyapa orang-orang di sekitarnya.
Perempuan itu bernama Ibu Narti, seorang penjual jamu keliling berusia 72 tahun asal Wonogiri yang sudah kurang lebih 35 tahun merantau ke Bandung. Malam itu, ketika saya bertemu dan mewawancarainya di kawasan Asia Afrika, seluruh jamu dagangannya baru saja habis terjual. Ia tampak duduk beristirahat di pinggir trotoar sambil membawa barang-barang dagangannya sebelum pulang menuju rumah kontrakannya di kawasan Lengkong.
Meski usianya sudah tidak muda lagi, Ibu Narti masih terlihat kuat berjalan membawa jamu keliling demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Melihatnya secara langsung menghadirkan rasa haru sekaligus kagum dalam diri saya. Di usia senja yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat bersama keluarga, Ibu Narti justru masih harus menyusuri jalanan kota demi mencari nafkah seorang diri.
Dengan kerudung abu-abu sederhana yang dikenakannya, Ibu Narti terlihat begitu ramah. Cara bicaranya lembut dan penuh kesederhanaan. Sesekali ia tersenyum kecil ketika menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Tidak ada raut marah ataupun keluhan berlebihan di wajahnya. Padahal, hidup yang dijalaninya tidaklah mudah.
“Alhamdulillah kalau habis,” ucapnya pelan sambil tersenyum ketika menceritakan bahwa dagangan jamunya malam itu telah habis terjual.
Kalimat sederhana itu terasa begitu tulus. Dari raut wajahnya terlihat bahwa ia benar-benar bersyukur atas rezeki yang diperolehnya hari itu. Padahal, di balik senyum hangat tersebut, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan hidup, kehilangan, dan kesepian yang harus ia jalani selama bertahun-tahun.
Ibu Narti berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah. Ia bercerita bahwa kehidupannya sejak kecil memang sudah penuh cobaan. Kedua orang tuanya meninggal dunia ketika dirinya masih kecil. Sejak saat itu, ia dirawat oleh budenya hingga dewasa.
“Orang tua saya meninggal waktu saya masih kecil,” tuturnya lirih.
Kehilangan orang tua di usia kecil tentu bukan hal yang mudah bagi siapa pun. Namun, Ibu Narti tetap tumbuh menjadi sosok perempuan yang kuat dan mandiri. Setelah dewasa, justru ia yang merawat budenya hingga meninggal dunia.
Sebelum merantau ke Bandung, kehidupan Ibu Narti di kampung halamannya memang tidak lagi memiliki banyak keluarga. Setelah budenya meninggal, ia merasa sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di Wonogiri selain rumah lamanya.
“Di Jawa tinggal rumah aja sekarang,” katanya pelan.
Karena itulah, sekitar 35 tahun lalu, Ibu Narti memutuskan merantau ke Bandung bersama suaminya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Bandung kemudian menjadi tempat mereka membangun kehidupan sederhana bersama.
Selama hidup berumah tangga, Ibu Narti dan suaminya tidak dikaruniai anak. Meski begitu, ia mengaku tetap merasa bahagia menjalani kehidupan bersama sang suami. Bahkan, menurut pengakuannya, selama menikah mereka hampir tidak pernah bertengkar.
“Dari dulu nggak pernah berantem,” katanya sambil tersenyum kecil mengenang suaminya.
Namun, kebahagiaan itu kini hanya tinggal kenangan. Suami yang selama ini menemani hidupnya telah meninggal dunia. Kehilangan tersebut menjadi pukulan berat bagi Ibu Narti karena kini ia harus menjalani hidup seorang diri di usia yang sudah tidak muda lagi.
“Sedih ditinggal suami,” ucapnya sambil menundukkan kepala.
Ternyata, kepergian suaminya itu pun masih terbilang baru. Saat berbincang malam itu, Ibu Narti mengatakan bahwa di hari minggu akan menjadi hari ke-40 meninggalnya sang suami. Karena itulah, rasa kehilangan tersebut masih sangat terasa dalam dirinya.
Kalimat singkat itu terdengar sangat sederhana, tetapi terasa begitu dalam. Dari sorot matanya terlihat bahwa kehilangan tersebut masih meninggalkan luka yang besar di dalam hatinya. Kini, sepulang berjualan, Ibu Narti harus kembali ke rumah kontrakan yang terasa sepi tanpa kehadiran sosok yang selama ini menemaninya.
Meski hidup sendirian dan masih diselimuti rasa kehilangan, Ibu Narti tetap mencoba kuat menjalani kehidupannya. Setiap hari sekitar pukul empat sore, ia mulai keluar untuk berjualan jamu keliling. Dengan langkah perlahan, ia menyusuri jalanan Kota Bandung sambil membawa jamu dagangannya.
Tidak mudah tentu bagi seorang perempuan berusia 72 tahun berjalan berkeliling kota sambil membawa barang dagangan. Akan tetapi, Ibu Narti tetap melakukannya dengan penuh semangat. Baginya, berjualan jamu menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
Jamu yang dijualnya pun beragam. Ia membawa botol-botol jamu tradisional untuk dijual kepada masyarakat yang ditemuinya di jalan. Dari hasil berjualan tersebut, Ibu Narti memperoleh penghasilan yang tidak menentu setiap harinya.
“Kadang seratus, seratus lima puluh,” ujarnya.
Namun, terkadang penghasilannya juga bisa berada di bawah seratus ribu rupiah jika pembeli sedang sepi. Penghasilan tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar kontrakan tempat tinggalnya di Lengkong.
Belakangan ini, kondisi ekonomi Ibu Narti sedang cukup sulit. Ia mengaku sudah sekitar dua minggu belum mampu membayar uang kontrakan. Ia sebenarnya ingin membayar secara mencicil, tetapi pemilik kontrakan meminta pembayaran dilakukan sekaligus.
“Mau nyicil juga nggak boleh,” katanya lirih.
Mendengar cerita tersebut membuat hati terasa ikut sedih. Di usia senjanya, Ibu Narti masih harus memikirkan biaya hidup dan uang kontrakan seorang diri. Akan tetapi, di tengah segala kesulitan itu, ia tetap mencoba menjalani hidup dengan ikhlas.
Menurutnya, perasaan sedih justru dapat memengaruhi hasil dagangannya.
“Kalau lagi sedih, jualan suka turun. Jadi pikirannya harus bahagia,” katanya sambil tersenyum kecil.
Perkataan itu terasa sangat menyentuh. Di tengah kehidupan yang keras, Ibu Narti tetap berusaha menjaga pikirannya agar tetap kuat dan bahagia demi bisa terus menjalani hidup.
Keramaian Jalan Asia Afrika malam itu terasa begitu kontras dengan perjuangan hidup yang dijalani Ibu Narti. Ketika banyak orang menikmati malam bersama keluarga dan teman-teman mereka, ada seorang perempuan tua yang masih harus berjalan membawa jamu demi menyambung hidup.
Namun, di balik segala kesulitan yang dihadapinya, Ibu Narti tetap terlihat tegar. Wajahnya memang tampak lelah, tetapi tidak menunjukkan putus asa. Ia justru terlihat sebagai sosok perempuan sederhana yang kuat menghadapi hidup.
Melihat Ibu Narti malam itu membuat saya merasa sangat terharu sekaligus bangga. Haru karena melihat seorang lansia harus tetap bekerja keras demi bertahan hidup seorang diri setelah ditinggal suaminya. Bangga karena di usia 72 tahun, Ibu Narti masih memiliki semangat luar biasa untuk bekerja tanpa bergantung kepada orang lain.
Pertemuan singkat malam itu memberikan pelajaran bahwa kehidupan tidak selalu berjalan mudah bagi semua orang. Di tengah keramaian kota dan gemerlap lampu malam, masih ada orang-orang yang berjuang diam-diam demi bertahan hidup.
Ibu Narti adalah salah satunya.
Di balik segelas jamu yang dijualnya, tersimpan cerita panjang tentang kehilangan, perjuangan, kesepian, dan ketegaran seorang perempuan tua yang tidak menyerah pada keadaan. Ia mungkin hanya seorang penjual jamu keliling bagi sebagian orang, tetapi di balik langkah kecilnya tersimpan semangat hidup yang begitu besar.
“Gimana lagi, namanya nasib. Yang penting panjang umur,” katanya sambil tersenyum tipis.
Malam semakin larut. Jalan Asia Afrika masih dipenuhi suara kendaraan, tawa pengunjung, dan cahaya lampu kota yang terus menyala. Di tengah keramaian itu, Ibu Narti perlahan berdiri sambil membawa barang dagangannya yang sudah kosong.
Langkahnya pelan meninggalkan trotoar Asia Afrika malam itu. Entah esok dagangannya akan kembali habis atau tidak, entah kesedihan karena kehilangan suaminya sudah benar-benar reda atau belum. Namun satu hal yang pasti, perempuan berusia 72 tahun itu akan kembali berjalan menyusuri kota, membawa jamu sekaligus harapan untuk tetap bertahan hidup.
