
(Bandung, 15/06/25), Di tengah riuh kota Bandung yang terus bergerak, ada sebuah sudut tenang di Jalan Tamblong No. 27. Bangunannya tidak menjulang tinggi, namun menyimpan cerita yang dalam: Masjid Lautze 2 Bandung. Warna merah, kuning, dan hijau menghiasi ornamen-ornamennya, seperti sapaan lembut budaya Tionghoa kepada siapa pun yang datang. Namun, lebih dari sekadar warna dan bentuk, masjid ini adalah jembatan keyakinan tempat iman, budaya, dan kebersamaan bersatu dalam harmoni.
Didirikan oleh Haji Karim Oei, seorang tokoh Tionghoa Muslim pada tahun 1997 menyusul dari berdirinya Masjid Lautze 1 di Jakarta tahun 1991. Masjid Lautze 2 ini awalnya bernaung di bawah yayasan yang menyandang namanya. Kini, nama itu telah berubah menjadi Masjid Lautze 2, bagian dari jaringan masjid Lautze yang juga hadir di Jakarta dan Cirebon. Masing-masing berdiri dengan sejarah dan kekhasan sendiri, namun berbagi semangat yang sama dakwah bagi saudara-saudara keturunan Tionghoa yang memeluk Islam, dan juga siapa saja yang mencari damai di dalamnya.
“Dulu, masjid ini hanya buka saat Dzuhur dan Ashar. Hari Minggu malah tutup,” ujar Pak Fauzan, sang pengurus. Suaranya tenang, seirama dengan kerendahan hati yang tercermin dari cara ia menyambut. “Tapi sejak 2017, kami buka lima waktu. Kami ingin masjid ini menjadi rumah ibadah yang hidup bukan hanya bangunan, tapi denyut bagi masyarakat.”
Kehidupan baru itu benar-benar terasa. Setiap hari Minggu pagi, masjid ini dipenuhi oleh para santri dewasa dan remaja. Ada pelatihan Tahsin, Pratahsin, juga pengajian Al-Aqidah. Ustadz-ustadz dari luar pun rutin hadir. “Dari Pukul 08.00-15.00 WIB. Setelah itu mereka pulang, membawa ilmu, membawa berkah,” lanjut Pak Fauzan. Seolah masjid ini bukan hanya tempat salat, melainkan sekolah jiwa bagi semua usia.
Yang unik, meski mayoritas jamaahnya berlatar belakang Tionghoa, Masjid Lautze 2 tidak tertutup untuk etnis atau golongan lain. Warna-warna khas budaya yang menempel di dinding bukan batas, tapi pelukan. “Cuma ornamen yang Tionghoa. Isinya? Umum,” katanya sembari tersenyum. Tak jarang, masjid ini menjadi titik awal perjalanan spiritual seseorang yang baru mengenal Islam pelan, dalam, dan hangat.
Seiring senja turun di langit Bandung, masjid ini tetap terbuka. Lampu-lampunya menyala, seolah mengundang siapa saja untuk singgah. Bukan hanya untuk salat, tapi juga untuk mendengar, berbagi, atau sekadar diam dan merenung. Dalam diam itulah, banyak yang menemukan kembali makna rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi tempat di mana jiwa pulang.
“Mudah-mudahan, masjid ini makin makmur, makin banyak yang ibadah” tutup Pak Fauzan. Matanya menatap lantai masjid yang kini bersih dan terang. Di sanalah, waktu, budaya, dan keyakinan menyatu. Dalam langkah-langkah sederhana, Masjid Lautze 2 Bandung telah menjadi saksi bahwa keberagaman bukan penghalang iman melainkan jembatan menuju cahaya.
