Cirata: Bendungan Raksasa di Jantung Jawa Barat dan Cerita yang Tenggelam Bersamanya

Di balik permukaan air tenang Bendungan Cirata yang membentang luas di jantung Jawa Barat, tersimpan kisah tentang kampung-kampung yang lenyap dari peta dan generasi yang tumbuh dengan kenangan yang tidak mereka lihat, tapi tetap mereka rasakan.

Bendungan Cirata memang dikenal sebagai mega proyek pembangkit listrik tenaga air terbesar di Asia Tenggara. Dibangun sejak awal 1980-an, bendungan ini menenggelamkan 14 desa dan merelokasi ribuan keluarga demi membangun waduk seluas lebih dari 6.000 hektare. Namun, bagi sebagian warga, kemajuan itu juga menyisakan ruang kosong di hati dan sejarah yang perlahan memudar.

“Dulu sebelum ada bendungan, kampung kami itu bernama Kampung Cijambu. Tempatnya di lembah, dikelilingi bukit dan sawah yang hijau,” kenang Lusy Nurhaliza (64), warga yang direlokasi dari kawasan terdampak di Kecamatan Cipeundeuy. “Kami hidup dari bertani, menanam padi, singkong, dan sebagian berkebun pisang. Anak-anak mandi di sungai yang jernih. Semuanya hilang.”

Ibu Lusy bercerita bagaimana keluarganya harus mengemasi seluruh hidup mereka setelah petugas datang membawa kabar: kampungnya akan masuk ke dalam genangan waduk. “Kami diberi ganti rugi, tapi tidak bisa mengganti rumah, sawah, dan makam keluarga yang ikut tenggelam. Kami pindah, tapi kami tidak pernah benar-benar pergi dari sana,” ucapnya, menatap air yang mengalir tenang namun menyimpan riak emosi dalam.

Kini, puluhan tahun berlalu, sebagian keluarganya telah beralih profesi menjadi pembudidaya ikan keramba di tepian waduk. Namun rasa kehilangan itu masih ada. “Saya cuma ingin generasi sekarang tahu, di balik bendungan besar ini, ada kampung-kampung yang hilang. Ada cerita yang tenggelam tapi tidak boleh dilupakan,” ujarnya pelan.

Cerita-cerita itulah yang diwariskan pada anak-anak mereka, termasuk pada Dede Siti Nursalimah (21), mahasiswi asal Cirata dan putri dari Ibu Lusy. Ia tidak pernah melihat Kampung Cijambu secara langsung, namun tumbuh besar dengan cerita-cerita yang membuatnya merasa memiliki ikatan dengan tanah yang kini berada di dasar bendungan.

“Saya merasa punya hubungan batin dengan kampung yang tidak pernah saya lihat,” ucap Dede. “Kata Mama, kalau saya berdiri di tepi waduk, saya sedang menghadap rumah kami yang lama. Rasanya seperti mimpi.”

Bagi Dede, cerita itu bukan sekadar nostalgia, tetapi warisan yang harus dijaga. Ia bahkan membuat video dokumenter pendek untuk tugas kuliah, mewawancarai ibunya dan warga sekitar, agar kisah-kisah ini tetap hidup di tengah generasi yang mulai lupa.

“Bendungan Cirata bukan cuma soal listrik atau pembangunan. Di bawah air itu ada sejarah keluarga, ada kenangan, ada kampung yang dulu hidup,” ujarnya dengan semangat. “Kita harus jadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.”

Waduk Cirata hari ini mungkin identik dengan energi, PLTS terapung, dan geliat ekonomi baru. Namun di dasar airnya, tersimpan lebih dari sekadar infrastruktur—tersimpan kehidupan yang pernah ada, dan masih dikenang hingga kini.

Scroll to Top