Villa Isola: Di Antara Keanggunan Arsitektur dan Ingatan yang Bertahan

Di lereng utara Bandung, berdiri sebuah bangunan megah yang mengundang takjub, Villa Isola. Mengapa seorang taipan Belanda membangun vila mewah dengan gaya art deco di tanah jajahan? Kini gedung itu menjadi bagian dari kampus Universitas Pendidikan Indonesia, tetapi jejak masa lalunya masih menyisakan aura mistis dan romantisme zaman kolonial. Siapa pun yang melangkah ke dalamnya akan merasa seperti menelusuri memori kota yang nyaris terlupakan. Di antara dinding-dinding putih dan tangga melingkar, sejarah Villa Isola masih berbisik pelan.

      Bandung, kota yang sering dijuluki Paris van Java, menyimpan banyak peninggalan arsitektur kolonial yang menawan. Namun dari sekian banyaknya, Villa Isola berdiri sebagai salah satu yang paling megah dan misterius. Terletak di kawasan Setiabudi, di ketinggian yang menghadap langsung ke Gunung Tangkuban Parahu, bangunan ini dulunya merupakan rumah pribadi seorang konglomerat Belanda bernama Dominique Willem Berretty.

      Berretty bukan orang sembarangan. Ia adalah pemilik perusahaan pers terbesar di Hindia Belanda, Aneta. Pada tahun 1932, ia meminta arsitek kenamaan C.P. Wolff Schoemaker untuk merancang sebuah vila yang tak hanya nyaman, tetapi juga mencerminkan status sosial dan kejayaan pribadinya. Maka lahirlah Villa Isola, bangunan art deco bergaya Eropa yang berdiri megah di tengah hamparan perbukitan Bandung.

      Villa Isola bukan sekadar tempat tinggal. Dalam banyak literatur sejarah arsitektur Indonesia, vila ini disebut sebagai mahakarya Schoemaker, arsitek yang juga pernah mengajar Sukarno muda di Technische Hoogeschool te Bandoeng (cikal bakal ITB). Gaya art deco yang digunakan mencerminkan kemajuan teknologi dan seni visual pada masa itu, lengkap dengan simetri geometris, jendela lengkung, dan taman-taman bergaya tropis Eropa.

      Namun, kemegahan itu hanya bertahan sebentar. Pada tahun 1934, Berretty tewas dalam kecelakaan pesawat menuju Amsterdam, tak lama setelah ia menempati vila impiannya. Kematian tragis itu membuat Villa Isola seolah kehilangan jiwanya. Gedung ini kemudian diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda dan beralih fungsi beberapa kali, hingga akhirnya menjadi bagian dari Universitas Pendidikan Indonesia.

      Meski kini digunakan sebagai kantor rektorat UPI, nuansa masa lalu Villa Isola masih begitu terasa. Mahasiswa yang berkegiatan di sekitar gedung sering menyebutnya dengan campuran rasa bangga dan mistis. “Gedungnya megah, tapi ada hawa yang bikin merinding,” ujar Sarah, mahasiswi semester akhir yang menempuh kuliah di kampus tersebut. Ia tidak sendiri. Banyak mahasiswa percaya bahwa gedung ini menyimpan aura tak kasat mata, seakan-akan masih ada yang ‘menjaga’ dari masa lalu.

      Entah mitos atau sekadar atmosfer bangunan tua, yang pasti, Isola tetap memikat siapa pun yang melihatnya. Baik pecinta arsitektur, fotografer, sejarawan, maupun turis domestik tak jarang datang sekadar untuk mengagumi detail bangunannya.

      Fungsi Villa Isola boleh berubah, tapi nilai estetik dan historisnya tetap utuh. Dengan kolam renang yang kini tak lagi digunakan, dan balkon yang dulunya tempat Berretty memandang ke utara, gedung ini masih menampilkan lanskap Bandung utara yang menawan. Dari sisi utara, tampak pegunungan; dari sisi selatan, terbentang kota Bandung yang berkembang pesat.

      Kini, Villa Isola tidak lagi milik satu orang, tetapi menjadi milik masyarakat pendidikan. Sebagai kantor rektorat Universitas Pendidikan Indonesia, gedung ini menjadi simbol keberlanjutan pengetahuan, dari zaman kolonial hingga era kemerdekaan. Transformasi fungsinya mencerminkan bagaimana sejarah dapat berdialog dengan masa kini, bukan sebagai beban, tetapi sebagai warisan yang terus hidup.

     Di tengah bangunan-bangunan modern yang kian seragam, Villa Isola berdiri seperti pengingat. Bahwa Bandung adalah kota yang dibangun bukan hanya oleh beton, tapi juga oleh ide, estetika, dan manusia-manusia yang pernah bermimpi besar.

      Villa Isola adalah sejarah yang tidak membeku dalam buku teks. Ia hidup dalam lengkung arsitektur, dalam narasi mahasiswa yang melangkah di lorong-lorongnya, dan dalam desir angin yang menyapu tamannya. Dan selama masih ada yang menengok ke belakang untuk memahami masa lalu, gedung ini akan tetap berdiri, menjaga ingatan, dengan anggun.

Scroll to Top