Menyimak Keheningan Candi Muaro Jambi dan Narasi yang masih tertimbun

Berada di tepi aliran Sungai Batanghari, kompleks purbakala Candi Muaro Jambi berdiri dalam kesenyapan yang menyimpan jejak sejarah panjang. Tak banyak yang tahu, kawasan ini menjadi saksi bisu kemajuan peradaban nusantara sejak abad ke-7 hingga ke-13 Masehi. Dikelilingi hutan tropis dan pepohonan tua yang menjulang, situs ini seolah terlepas dari hiruk-pikuk dunia modern, menyuguhkan ketenangan yang hanya bisa ditemukan di tempat-tempat yang telah lama diam.

Bukan sekadar tumpukan bata merah, Candi Muaro Jambi disebut-sebut sebagai kompleks percandian Buddha terbesar di Asia Tenggara. Luasnya mencapai 12 kilometer persegi, terdiri atas delapan candi utama dan puluhan struktur lain yang masih terkubur dalam tanah. Beberapa di antaranya hanya tampak sebagai gundukan tak bernama di balik semak. Penelitian arkeologis menyebut kawasan ini pernah sejajar dengan Universitas Nalanda di India—sebuah pusat pembelajaran agama Buddha yang masyhur di Asia.

Menelusuri jalur setapak yang diapit pohon tambesi, aroma tanah lembap dan kicau serangga mengantar pengunjung menyusuri jejak masa lalu. Cahaya matahari yang menembus sela-sela daun menciptakan bayang-bayang magis di atas susunan bata tua yang tersusun rapi tanpa perekat. Tak sulit membayangkan bagaimana para biksu dari berbagai penjuru Asia pernah datang ke sini untuk menimba ilmu: belajar filsafat, logika, pengobatan, hingga seni bangunan dan sastra.

Anto, warga setempat yang puluhan tahun tinggal di sekitar kawasan, mengungkapkan kekagumannya, “Yaa nenek moyang kita hebat-hebat bisa membuat ini dulu,” ujarnya sambil menatap susunan bata yang kokoh berdiri meski telah dilalui waktu berabad-abad lamanya.

Teknologi pembangunan masa lalu terbukti tangguh. Bata merah khas Muaro Jambi tahan terhadap cuaca lembap tropis. Sistem drainase kunonya masih mengalirkan air hingga kini. Beberapa stupa dan arca tetap menampakkan ukiran halus, meski sudah digerus waktu. Namun yang paling menggetarkan: sebagian besar bangunan di kawasan ini belum tergali. “Masih ada juga di beberapa tempat yang candinya belum digali,” tutur Ibu Minah, pedagang makanan ringan yang sehari-hari menyaksikan aktivitas peneliti dan wisatawan.

Gundukan-gundukan kecil yang tertutup ilalang dan pepohonan di beberapa titik dipercaya warga sebagai penanda struktur candi yang masih tersembunyi. Di kalangan masyarakat setempat, mereka dikenal sebagai “tanah bisu”—tanah yang diam, namun menyimpan cerita. Penelitian arkeologis yang dilakukan sejak awal abad ke-20 menemukan berbagai artefak berharga: manik-manik dari India dan Timur Tengah, keramik dari Dinasti Song dan Yuan, hingga alat upacara Buddha Mahayana. Semua temuan ini memperkuat dugaan bahwa Muaro Jambi bukan hanya pusat spiritual, tetapi juga simpul perdagangan internasional yang menghubungkan Sumatera dengan dunia luar. “Dulu ini bisa dikatakan kayak pesantrennya biksu-biksu,” ujar seorang pemandu wisata kepada rombongan pelajar, menggambarkan betapa hidupnya tempat ini di masa lampau.

Kini, meskipun telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional dan diajukan sebagai situs warisan dunia UNESCO, tantangan pelestarian tetap besar. Ancaman datang bukan hanya dari alam dan waktu, tetapi juga dari vandalisme serta pembangunan yang tak memperhatikan nilai sejarah. Kesadaran masyarakat masih perlu ditumbuhkan. Namun, harapan tetap menyala. Sekolah-sekolah mulai mengajarkan sejarah lokal, komunitas pemuda aktif menggelar pertunjukan budaya, dan kegiatan bersih-bersih rutin dilakukan oleh sukarelawan. Pada 2022, pemerintah mulai menghidupkan kembali gagasan untuk membangun universitas di kawasan ini. “Saya mengusulkan kepada Bapak Gubernur Jambi untuk membangun kembali Universitas di kawasan Candi Muaro Jambi ini,” ucap Luhut Pandjaitan dalam kunjungannya kala itu.

Rencana itu bukan sekadar nostalgia, melainkan ikhtiar untuk menghidupkan kembali ruh ilmu pengetahuan yang pernah menyala di sini. Pemerintah pun berkomitmen melakukan inventarisasi menyeluruh terhadap permasalahan dan potensi yang dimiliki situs ini agar dapat diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Candi bukan sekadar batu tua. Ia adalah simbol jati diri bangsa, bukti bahwa di masa lalu nenek moyang kita telah menjunjung tinggi ilmu, spiritualitas, dan seni. Di tengah derasnya arus globalisasi, Candi Muaro Jambi berdiri tenang sebagai penjaga nilai-nilai luhur yang tak lekang zaman.

Dan mungkin, sebagaimana dikatakan warga sekitar, masih banyak kisah yang belum tergali. Bukan hanya kisah tentang struktur candi yang tersembunyi di dalam tanah, tapi juga tentang kebijaksanaan peradaban masa lalu yang menunggu untuk dihidupkan kembali—agar tidak hilang ditelan diam dan lupa.

Scroll to Top