Nyawang Bulan Bunisari : Destinasi Kuliner Kekinian dan Ruang Temu Budaya
Sebuah destinasi wisata kuliner di Kasepuhan Bunisari Ujung Berung Bandung, hadir di setiap bulan purnama. Tradisikuliner dibawah bayangan bulan purnama itu, merekamenamai “Nyawang Bulan”. Tradisi kuliner itu tentu sajadigelar rutin sebulan sekali, karena hanya setiap bulanpurnama saja. Apa uniknya kulineran malam purnama itu, dan menu apa saja yang disajikan di bawah terang bulan ? Tradisi Nyawang Bulan hadir pertama kali pada 22 Februari2022, dulunya dimulai secara mandiri yang dikelola oleh RTBunisari tanpa menyandang status destinasi wisata dan campur tangan pemerintah. Namun, berkat konsistensi dan inisiasi dari warga setempat yang terus berinovasi sampaiviral dibeberapa kanal media sosial. Nyawang Bulan terusmendatangkan pengunjung baru setiap bulannya hingga suatuhari didatangi oleh Kang Dedi Mulyadi selaku Gubernur Jawa Barat Periode Tahun 2024-2028. Dari kedatangan Kang Dedi Mulyadi, Pengunjung makin pesat hadir memenuhi area Nyawang Bulan sehingga menarik perhatian pemerintah untukberkunjung dan menetapkan sebagai Desa Wisata di Kabupaten Bandung. Penetapan tersebut menjadi titik balik, membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untukmengelola potensi budaya dan ekonomi lokal secara terarah. Daya tarik Nyawang Bulan tidak berhenti pada pertunjukanseni. Justru, dengan hadirnya pasar kuliner tradisional inimenjadi magnet utama bagi para pengunjung untuk hadir. Beragam makanan dan minuman khas disajikan oleh masyarakat lokal seperti bubur kacang ijo, bajigur, surabi, sate, cireng, nasi bakar, kukusan, dll. Menariknya, setiapolahan selalu disajikan dengan media daun pisang sebagaipengganti bahan plastik untuk membungkus makanan dan minuman. Hal ini sejalan dengan aturan yang berlaku di kasepuhan bunisari, yaitu dilarang memakai plastik dan menghindari area yang dilarang untuk merokok. Maka tidakheran, lapak-lapak sederhana yang terbuat dari bongkahankayu dengan atap menggunakan pelepah daun kering tersebutselalu ramai diburu, menjadi ruang interaksi hangat antarapenjual dan pembeli. Setiap transaksi di pasar kuliner Nyawang Bulan tidakmenggunakan uang rupiah secara langsung. Mengadopsikonsep serupa Pasar Papringan Ngadiprono, masyarakatKasepuhan Bunisari menerapkan alat tukar berupa koin kayu. Setiap pengunjung menukarkan uang […]
