
Bukan pemandangan yang asing bagi kita ketika masuk ke toko buku lalu mendapati bahwa rak terdepan, etalase utama, bahkan meja rekomendasi di tengah toko semuanya dipenuhi oleh nama penulis yang itu-itu saja? Jika Anda pengunjung setia toko buku di Indonesia, jawabannya hampir pasti: ya. Fenomena ini sudah berlangsung lama, tetapi jarang sekali dibicarakan secara terbuka. Padahal, di balik kenyamanan membaca karya-karya familiar, tersimpan bahaya laten yang mengancam keberagaman dunia literasi kita.
Tulisan ini hendak mengajukan sebuah kegelisahan atas dominasi beberapa nama besar dalam industri buku Indonesia bukanlah tanda sehatnya ekosistem literasi, melainkan gejala timpangnya mekanisme pasar yang pada akhirnya membahayakan keberagaman dan kualitas bacaan itu sendiri, terkhusus pada bacaan-bacaan sastra yang selalu ada di jajaran tangga buku best seller.
Mari kita lihat realitasnya. Dalam setiap laporan penjualan nasional, nama-nama seperti Tere Liye, Leila S. Chudori, atau sejumlah penulis populer lainnya hampir selalu menempati posisi puncak. Sebuah data dari Gramedia menunjukkan bahwa novel menyumbang 66% dari total penjualan buku di kanal mereka, dan dari angka tersebut, beberapa judul dari penulis-penulis tertentu secara konsisten menjadi mega-bestseller lintas tahun. Ini bukan masalah selama persaingan sehat. Namun, yang terjadi kemudian adalah efek bundling logistik: toko buku cenderung hanya memesan dan memajang buku-buku dari nama besar karena perputaran uangnya cepat. Akibatnya, penulis baru atau karya eksperimental hanya mendapat tempat di rak pojok bawah, jika tidak ditolak sama sekali.
Dominasi nama besar menciptakan ilusi kualitas. Ketika seorang penulis sudah memiliki reputasi, setiap karyanya—apapun isinya—cenderung langsung diterima sebagai “bagus”. Pembaca membeli bukan karena telah membaca dan menilai, melainkan karena percaya. Dalam kondisi seperti ini, proses seleksi alami yang seharusnya terjadi di ranah publik menjadi lumpuh. Sebuah novel dengan alur yang biasa-biasa saja tetap akan menjadi best seller karena memampang nama penulis populer di sampulnya. Ini berbahaya karena kualitas objektif karya sastra menjadi tidak relevan.
Dominasi nama besar mematikan keberanian bereksperimen. Penerbit adalah entitas bisnis. Ketika satu gaya penulisan terbukti laris, penerbit akan cenderung mencari karya-karya yang mirip atau setidaknya tidak terlalu berbeda. Penulis baru yang ingin bereksperimen dengan bentuk, gaya, atau tema yang tidak biasa akan sulit mendapatkan ruang. Dalam jangka panjang, ini membuat lanskap sastra Indonesia menjadi homogen. Padahal, karya-karya besar dalam sejarah sastra—dari James Joyce hingga si Binatang Jalang, Chairil Anwar—lahir dari keberanian melompat keluar dari pakem yang sudah ada.
Dominasi nama besar membentuk selera pembaca secara tidak sadar. Berdasarkan data Litbang Kompas tahun 2025, 41,1% masyarakat Indonesia hanya membaca sastra “sesekali” dalam sebulan, dan 26,1% mengaku “tidak pernah” membaca karya sastra sama sekali. Di tengah kondisi literasi yang rapuh ini, pembaca yang jarang membaca cenderung mengambil jalan aman: membeli buku dari nama yang sudah dikenal. Algoritma toko buku daring memperkuat kebiasaan ini dengan terus menampilkan buku-buku terlaris di halaman depan. Perlahan, tanpa disadari, selera pembaca dibentuk oleh logika pasar, bukan oleh eksplorasi personal. Yang terbentuk adalah pembaca yang patuh, bukan pembaca yang otonom.
Kekeliruan yang paling umum terjadi adalah menyamakan status best seller dengan jaminan kualitas sastra. Banyak pembaca awam berasumsi bahwa karena sebuah buku laris, maka ia pasti bagus. Padahal, dalam realitas industri penerbitan, best seller lebih sering merupakan produk dari strategi pemasaran yang masif, bukan dari keunggulan intrinsik teks itu sendiri. Sebuah buku bisa menjadi best seller karena penerbit punya jaringan distribusi kuat, karena penulisnya sudah terkenal, atau karena algoritma Tokopedia dan Shopee terus menampilkannya di beranda. Kualitas sastra—seperti orisinalitas gaya, kedalaman tema, atau ketepatan diksi—adalah urusan lain yang sama sekali tidak terukur oleh angka penjualan. Sejarah memberi kita banyak contoh: novel Moby Dick karya Herman Melville nyaris tidak laku saat pertama terbit, baru diakui sebagai mahakarya puluhan tahun setelah kematiannya. Sebaliknya, banyak buku best seller masa lalu yang kini terlupakan karena tidak memiliki daya tahan sastra. Maka, ketika pembaca secara membabi buta mengejar buku-buku di rak best seller, ia sebenarnya sedang menukar potensi pengalaman membaca yang transformatif dengan sekadar kepuasan mengikuti tren sesaat.Saya tidak sedang mengatakan bahwa penulis populer harus dibenci. Tere Liye, misalnya, tak dapat dibohongi bahwa kehadirannya memiliki kontribusi besar dalam membangun minat baca anak muda Indonesia melalui karya-karyanya yang mudah diakses. Itu adalah fakta yang patut dihormati. Persoalannya bukan pada individu penulisnya, melainkan pada sistem yang membuat dominasi itu terus berlangsung tanpa mekanisme koreksi.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, pembaca perlu mengambil posisi aktif. Jangan hanya membaca buku yang sedang viral atau yang ditulis oleh nama besar. Coba sekali waktu berjalan ke rak paling pojok toko buku, beli buku penulis yang tidak pernah Anda dengar namanya. Kedua, penerbit perlu keberanian untuk mengalokasikan sebagian ruang promosi mereka untuk penulis debut atau karya-karya alternatif, meskipun secara bisnis lebih berisiko. Ketiga, komunitas literasi dan institusi pendidikan dapat berperan sebagai kurator alternatif, memperkenalkan karya-karya di luar arus utama kepada pembaca muda.
Pada akhirnya, industri buku yang sehat bukanlah industri yang hanya mampu melahirkan satu atau dua raja penjualan. Industri buku yang sehat adalah industri yang di dalamnya seorang penulis baru dari kota kecil pun memiliki kesempatan yang sama untuk ditemukan. Tanpa keberagaman, sastra kita hanya akan menjadi produk konsumsi massal seperti sabun cuci atau mi instan. Dan itu, menurut saya, adalah masa depan yang terlalu suram untuk tidak kita cegah.
Maka, sebagai pembaca, mari langkahkan kepala kita pada buku-buku yang selama ini kita hiraukan, mari kita beri ruang bagi bacaan-bacaan yang selama ini terpinggirkan. Karena jendela dunia jelas berbeda dengan komoditas pemasaran, bukan?
