Bebegig Sukamantri: Ketika Warisan Leluhur Menari di Tengah Arus Zaman

Ciamis, Jawa Barat. Di tengah gempuran arus digital dan modernitas, masyarakat Desa Sukamantri, Kabupaten Ciamis, membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu. Lewat Bebegig Sukamantri, mereka menjaga denyut nadi budaya lokal sekaligus menyuarakan identitas leluhur yang hidup dan bergerak di tengah zaman.Dentuman kendang dan alunan angklung menjadi latar penyambutan saat puluhan bebegig sosok-sosok berkostum unik menyerupai makhluk astral dengan topeng besar beriringanmenuruni jalan desa. Ribuan penonton, termasuk wisatawan domestik dan pengkaji budaya, tampak antusias menyaksikan pawai kolosal ini.Bebegig, yang secara harfiah berarti orang-orangan sawah, telah menjelma jauh lebih dalam dari fungsi asalnya sebagai penakut hama. Ia kini adalah simbol spiritual, kekuatan alam, identitas lokal, bahkan kritik sosial. Karnaval ini menampilkan lebih dari sekadar hiburan, melainkan warisan nilai yang diwariskan secara turun temurun.Kepala Desa Sukamantri, Deden Supendi, menegaskan pentingnya tradisi ini bagi masyarakat. “Bebegig bukan sekadar tontonan. Ia adalah identitas kami. Dari sinilah kami belajar bersyukur, menjaga alam, dan menghormati leluhur,” ujarnya.Penelitian yang dilakukan Edi Setiadi & Dedy Ismail dari Itenas Bandung mengungkap bahwa bebegig tak hanya hadir sebagai seni pertunjukan, tetapi sebagai ikon budaya astral Sunda yang mengandung simbolisasi spiritual dan sosial. Setiap topeng membawa karakter unik yang terinspirasi dari mitologi lokal Raksasa, Déṭya, dan Dénawa makhluk astral pelindung dalam kosmologi Sunda.Ritual tawasulan dilakukan sebelum pawai dimulai, di mana para pemain memanjatkan doa dan zikir untuk memohon keselamatan dan kelancaran helaran. Keyakinan ini memperlihatkan keterhubungan antara seni, spiritualitas, dan kekuatan batin dalam budaya lokal.Tahun ini, tampak geliat baru dalam penyelenggaraan. Kostum bebegig tampil dengan desain penuh imajinasi: dari sosok pewayangan hingga makhluk mitologi Sunda, serta visual satire terhadap kondisi sosial. Andri Gunawan, pemuda lokal yang untuk pertama kalinya tampil sebagai bebegig, menyebut ini sebagai pengalaman spiritual dan kebudayaan yang membanggakan.“Saya merasa terhubung dengan akar budaya saya. Ini bukan cuma tampil di depan banyak orang, tapi menyatu dengan sejarah dan identitas kami,” katanya.Mahasiswa antropologi dari Bandung, Ratna Pertiwi, menyebut bebegig sebagai ‘sejarah yang hidup’. “Kita tidak hanya menonton, tapi menyaksikan nilai-nilai masa lalu yang masih relevan di masa kini,” ujarnya.Di balik kemeriahan acara, kehadiran Komisariat Mahasiswa Ciamis (KMC) Galuh Taruna Bandung menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tak hanya tugas masyarakat adat, tetapi juga generasi intelektual muda. KMC berkontribusi sebagai penggerak dokumentasi budaya, penguatan narasi digital, serta menjadi jembatan antara nilai tradisi dan audiens milenial.“Kami percaya bahwa melestarikan warisan seperti bebegig adalah bagian dari tugas sejarah. Ini bukan sekadar kebudayaan masa lalu, tapi potensi masa depan,” ujar salah satu anggota KMC, yang aktif mengarsipkan proses helaran dan berbagi nilai-nilai filosofisnya melalui media sosial. Kehadiran mahasiswa dari luar daerah, seperti Ratna Pertiwi dari Bandung, juga menunjukkan betapa bebegig kini telah menjadi ruang dialektika budaya dan ilmu pengetahuan.Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis. Kepala Dinas, Drs. Wahyu Rahmat, menyatakan bahwa pihaknya tengah mengajukan Bebegig Sukamantri sebagai Warisan Budaya Takbenda di tingkat nasional dan membuka peluang untuk go internasional.“Ini adalah representasi budaya yang sangat kuat. Kita tidak hanya melestarikan, tapi juga membawanya ke ranah global,” tegasnya.Meski penuh semangat, tantangan tetap ada. Dari ketersediaan bahan baku topeng seperti kayu waregu, hingga regenerasi seniman dan pemain yang masih terbatas. Namun semangat masyarakat tetap menyala.Bebegig Sukamantri bukan sekadar seni helaran. Ia adalah ekspresi jiwa kolektif masyarakat Sunda yang terus hidup, berdansa di antara kabut pegunungan dan riuh zaman. Sebuah pesan bahwa di balik topeng-topeng besar itu, tersimpan nilai luhur yang patut dijaga: tentang keselarasan manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan leluhur.

Scroll to Top