
Serang, Banten – Bendungan Lama Pamarayan merupakan sebuah bangunan peninggalan dari Kolonial Belanda yang terletak di Kecamatan Pamarayan Kabupaten Serang, Banten. Bendungan itu kini menjelma menjadi sebuah destinasi wisata sejarah yang menarik perhatian. Bendungan yang dibangun pada sekitar tahun 1905 ini dulunya berfungsi sebagai pengatur aliran Ciujung dan sumber irigasi untuk lahan pertanian. Namun, sejak tahun 1997 Bendungan ini berhenti beroperasi dan dialihkan ke Bendungan baru yang terletak tidak jauh dari Bendungan lama. Tahun 2018, Bendungan ini akhirnya ditetapkan menjadi Cagar Budaya melalui SK Gubernur Banten.
Sejarah Bendungan Lama Pamarayan
Dalam sejarah, Banten memiliki sejarah yang sangat panjang. Sebelumnya nama Banten adalah Bantam seperti yang ada di Arsip Belanda tahun 1927. Banten pernah dikuasai oleh beberapa kerajaan dan juga bangsa asing yaitu salah satunya adalah Belanda, Belanda mendarat ke Pelabuhan Banten pada 23 Juni 1596. Awalnya hanya untuk beradagang namun ternyata mereka memiliki misi lain ketika datang ke Banten. Selama Belanda menduduki Banten beberapa abad, Belanda juga melakukan pembangunan-pembangunan disekitar daerah Banten salah satunya yaitu Bendungan yang terletak di kecamatan Pamarayan Kabupaten Serang. Bendunngan ini merupakan infrastuktur untuk sumber daya air yang dibuat oleh pemerintah Belanda bagian Dinas Pekerjaan Umum Kolonial atau dalam bahasa Belandanya yaitu Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W).
Bendungan Pamarayan merupakan salah satu infrastruktur terbesar yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Dengan Panjang 191,65 meter yang terdiri atas bangunan utama, ruang control, bendungan sekunder, ruang lori, jembatan serta rel lori juga bendungannya memiliki 10 pintu air dengan masing-masing diameter yaitu 10 meter. Proses pembangunannya melibatkan penggalian batu dari bukit Cerlang di Anyer Lor, yang diangkut menggunakan kereta api khusus. Bendungan ini sempat menjadi Bendungan terbesar yang pernah dibuat oleh Pemerintah Kolonial Belanda, dan bangunan Bendungan ini mengambil arsitekturnya yang meniru dari Kuil Athena, Yunani sehingga membuat bangunan ini menjadi unik.

Dari Terbengkalai Menjadi Destinasi Wisata
Bendungan Pamarayan sudah tidak beroperasi lagi pada tahun 1997 karena kondisi bangunannya sudah banyak mengalami kerusakan karena termakan usia dan adanya pendangkalan sungai serta penurunan debit air. Sebelum ditetapkan menjadi cagar budaya, Bendungan Pamarayan ini sempat terbengkalai. Coretan-coretan hingga pencurian komponen besi sempat merusak keaslian bangunan. Namun sejak tahun 2017 pemerintah mulai berbenah merestorasi bendungan dengan mengecat ulang, membuat taman, dan juga menyediakan tempat duduk untuk pengunjung, Kini bendungan ini mulai ramai dikunjungi oleh warga lokal, terutama anak muda yang ingin menikmati suasana senja disekitar bangunan bersejarah tersebut. Bendungan lama Pamarayan adalah warisan berharaga yang menyimpan cerita Panjang tentang Kolonialisme, Teknologi dan ketangguhan masyarakat Banten.
Cagar Budaya Bendungan Lama ini melibatkan banyak pihak yang memiliki tanggung jawab dan peran masing-masing, baik pemerintah kabupaten hingga provinsi, Adapun pihak yang terlibat dalam proses ini diantaranya, Balai Pelestasian Cagar Budaya (BPK), Dinas pendidikam dan Kebudayaan, dan Dinas Pariwisata. Meski telah menjadi destinasi wisata, pelestarian Bendungan Pamarayan masih menghadapi sejumlah kendala. Anggaran terbatas dan hanya empat petugas pemelihara yang bertanggung jawab atas dua lokasi yang berbeda menjadi hambatan serius. Selain itu, sosialisasi tentang pentingnya cagar budaya kepada masyarakat sekitar juga masih perlu ditingkatkan. Kini dengan statusnya sebagai cagar budaya, bendungan ini tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi mendatang. Namun, tanpa dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat, kelestariannya bisa terancam.
“kami berharap ada lebih banyak dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi untuk pemeliharaan bendungan ini. Ini bukan hanya soal wisata, tapi juga pelestarian sejarah.” Kata pak Isep (48), salah satu juru pelihara Bendungan
Sumber: Wawancara dengan Juru Pelihara, Buku Arsip Inventarisasi dan Penelusuran Naskah Kuno Banten
