Benteng Sunyi di Atas Jayagiri: Jejak yang Terlupa dari Masa Kolonial

Benteng Jayagiri tampak dari depan

Jika kamu berjalan jauh ke atas bukit di daerah Cikole, Lembang, melewati pepohonan pinus yang berdiri tegak dalam sunyi, kamu akan menemukan satu struktur tua yang jarang diketahui orang: sebuah benteng beton terlupakan, berdiri rapuh namun masih tegak, dikelilingi oleh semak belukar dan kabut tipis yang menyelimuti suasana pegunungan.

Orang-orang lokal menyebutnya sebagai Benteng Jayagiri. Tidak ada papan penanda resmi, tidak juga ada informasi sejarah yang tersedia di tempat. Namun dalam kunjungan ke lokasi ini, salah satu warga lokal yang sedang mencari rumput liar untuk pakan ternaknya hanya berujar singkat: “Benteng Jayagiri ini peninggalan Belanda.” Kalimat pendek itu menyisakan ruang besar untuk rasa ingin tahu. Tidak banyak sumber tertulis yang mengulasnya secara mendalam. Situs ini seperti tenggelam dalam kabut sejarah, tertinggal dari perhatian para peneliti maupun pengunjung wisata.

Padahal, jika dilihat dari konteks geografisnya, lokasi benteng ini sangat strategis. Berada di kawasan hutan pinus Cikole yang kini dikenal sebagai zona perkemahan dan latihan militer, tempat ini memiliki pandangan luas ke arah Lembang dan sekitarnya. Tidak heran jika pada masa kolonial Hindia-Belanda, daerah seperti ini kerap dijadikan titik pertahanan atau pos pengawasan militer. Sisa-sisa arsitekturnya pun menguatkan dugaan itu. Dinding-dinding beton tebal membentuk ruang-ruang sempit yang kini sudah kosong. Tidak ada pintu, tidak ada jendela tersisa hanya lubang dan celah yang mungkin dulunya digunakan untuk menembak atau mengintai.

Namun sejarah tidak selalu bicara keras. Kadang, seperti Benteng Jayagiri ini, ia memilih berbisik lewat dinding yang lembap, lorong yang pengap, dan lantai yang kini becek tertutup lumut. Kondisi benteng saat ini sangat memprihatinkan. Hampir seluruh dinding dipenuhi coretan spidol dan cat semprot yang menghapus jejak orisinalitas struktur aslinya. Udara di dalam terasa lembap, basah, dan dingin. Lapisan luar dinding mulai mengelupas, beberapa bagian bahkan tampak keropos dan mulai hancur termakan waktu.

Ketika mendaki sedikit ke bagian atas benteng, tampak berdiri sebuah tugu kecil. Sekilas, tampak seperti bagian integral dari kompleks sejarah ini. Namun setelah didekati, tertempel plakat bertuliskan “Tugu Perjuangan Tradisi Bela Negara,” dibangun pada 11 September 2015 oleh Dandodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi. Jadi, tugu itu bukan bagian dari masa kolonial, melainkan simbol kegiatan militer kontemporer, mungkin sebagai penanda latihan atau upacara patriotik. Meski bukan peninggalan asli, keberadaannya memberi lapisan baru dalam narasi tempat ini sebuah pertemuan antara sisa-sisa sejarah penjajahan dan semangat nasionalisme era modern.

Ironisnya, meski Lembang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata populer di Jawa Barat, Benteng Jayagiri justru terletak di tengah sunyi. Saat observasi dilakukan pada akhir pekan, suasananya sangat sepi. Tidak ada pengunjung yang datang untuk berfoto atau belajar sejarah. Hanya tampak beberapa orang yang sedang berkemah, membakar ayam di dekat hutan pinus. Benteng itu sendiri berdiri diam, nyaris tidak dilirik, nyaris tidak dikenang.

Mungkin inilah potret yang jujur dari banyak situs sejarah di negeri ini: terlupakan bukan karena tidak penting, tapi karena terlalu sunyi untuk dipedulikan. Benteng Jayagiri mengingatkan kita bahwa tidak semua jejak masa lalu hadir dalam bentuk megah dan megabesar. Beberapa di antaranya hanya berdiri dalam kesepian, dikelilingi pohon, ditutupi lumut, dan tetap mencoba bicara kepada siapa saja yang masih mau mendengarnya.

Scroll to Top