Membaca merupakan gerbang bagi mahasiswa untuk dapat berpikir kritis, namun di era digital yang semakin canggih mahasiswa seringkali di ninabobokan oleh media sosial seperti tik-tok, Youtobe dan game online lainya sehinnga mereka mengenyampingkan membaca buku, alasanya Cuma 1 Mahasiswa lebih suka informasi yang singkat, visual, dan praktis — mereka lupa bahwa membaca dapat membangun pemikiran yang mendalam serta kemampuan berpikir kritis. Beban tugas yang padat juga bikin mereka hanya membaca secara selektif, cuma untuk mengumpulkan referensi atau lulus ujian, bukan karena rasa senang yang asli.
Konsekwensi dari mahasiswa yang di ninabobokan media sosial Adalah menumpulnya Kemampuan menganalisis informasi serta Mereka mudah terjebak hoaks yang beredar di media sosial, sulit memisahkan fakta dari omong kosong, dan susah membangun argumen yang logis dan terstruktur. Ini sangat berbahaya di dunia yang dipenuhi informasi palsu — apalagi mahasiswa seharusnya jadi generasi yang cerdas, kritis, dan bisa memberikan solusi untuk masalah di sekitar.
Jadi, apa solusinya? Kampus harus memfasilitasi perpustakaan dengan buku-buku yang digemari oleh mahasiswa ( sedikit di upgrade, bukan hanya buku Pelajaran aja ) terus bikin juga budaya baca yang menyenangkan semisal dikasih riwerd bagi mahasiswa yang sudah menyelesaikan buku bacaan atau adain lomba bedah buku untuk judul-judul tertentu. Dosen juga bisa pilih bacaan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti artikel berita tentang isu terkini atau cerita pendek yang menginspirasi, bukan cuma buku pelajaran yang bikin ngantuk dan sulit dimengerti.
Berkurangnya minat baca tidak bisa diselesaikan sehari-hari. Tapi tanpa upaya bersama dari kampus, dosen, dan mahasiswa sendiri, kualitas pemikiran kritis yang jadi jantung pendidikan tinggi akan terus memudar — dan itu adalah kerugian besar untuk kita semua, baik untuk diri sendiri maupun untuk masa depan negara. Mulai dari yang kecil saja: hari ini, cobalah baca satu halaman cerita sebelum tidur, ganti sebentar waktu buka media sosial dengan membaca sesuatu yang berarti.
