Matahari hampir mencium pucuk masjid Al Jabbar kala pluit kereta api yang akan melintas dari arah Bandung ke Jawa berbunyi, lelaki hampir separuh baya itu tergopoh menggapai palang jalur lintasan untuk menutupnya. Jalur yang lainnya dijaga oleh temannya. Lelaki itu, Kurnia, penjaga pintu lintasan kereta api di Cimincrang, tepat di depan masjid Al Jabbar. Terkadang ia mengomel, mengeluh, mendesah lelah karena para pengendara nampak tidak bersabar. Seberapa gajihnya penjaga lintasan kereta api itu, padahal ia penjaga nyawa dan keselamatan pengenadara di Cimincrang?
Bau aspal yang terbakar sinar matahari, suara kelakson yang memekik dan setiap air hujan yang menetes membasahi sekujur tubuhnya adalah saksi bisu, bahwa pekerjaanya bukanlah hal yang mudah. Ia telah mengabdikan dirinya selama 28 tahun dengan penuh rasa sabar dan ikhlas.
Sebagai kepala keluarga mengeluh menjadi pantangan untuknya. Meski dalam setiap detik pekerjaanya bertaruh di antara maut dan keselamatan. Kurnia tetap bertahan bersama teman-temannya, melewati setiap rintangan, gejolak emosi dan ketidakpastian cuaca Kota Bandung. Meski begitu, secercah harapan selalu terpancar dari senyumnya yang lesuh. Berharap suatu hari nanti, kesadaran masyarakat meningkat agar perlintasan ini tak lagi menjadi arena pertaruhan nyawa.
Kurnia membagikan pengalaman yang menegangkan selama 28 tahun Ia bekerja sebagai Pos Penjaga Palang Pintu Kereta Api Cimincrang, “Waktu dulu juga ada satu mobil. Tapi, pada saat itu penjagaan belum sampai malam hanya sampai jam lima sore saja. Jam tuju malam ada mobil yang menerabas portal hingga terseret oleh kereta. Selepas itu, lalu ada siang-malam yang kerja hingga sekarang di Pos Penjaga Kereta.” Tuturnya
Pertaruhan nyawa Kurnia dan Temannya sebagai penjaga Pos Palang Pintu Kereta Api Cimincrang, tidak sebanding dengan nilai rupiah yang Ia dapatkan. Kurnia (42) mengatakan, “Kami ga digaji dari PT KAI. Tapi, dapat uang kadedeuh yang diberikan oleh Dinas Hub.Kota Bandung lewat sebuah Yayasan,” Tuturnya dengan nada parau
Uang kadedeuh senilai Rp.3.200.000 itu, perlu Ia bagi-bagi juga dengan beberapa titik perlintasan kereta api lainnya. Meski begitu, Ia selalu bersyukur memiliki pekerjaan ini. Karena baginya, bekerja sebagai penjaga Pos Palang Pintu Kereta Api adalah sumber satu-satunya kehidupan untuk keluarga dan teman-temannya.
