BORONDONG MA ERAT : MANISNYA WARISAN RASA DARI MAJALAYA YANG MENDUNIA

Dokumentasi pribadi

Bandung,14 Juni 2025 – Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki kuliner khas yang menjadi identitas budaya lokalnya. Tak terkecuali Kecamatan Ibun yang berada di Kabupaten Bandung. Di wilayah ini, terdapat satu jenis makanan tradisional yang sangat terkenal dan melekat dalam kehidupan masyarakat setempat, yaitu borondong. Borondong merupakan kuliner khas Ibun yang terbuat dari gabah ketan dan telah lama dikenal luas oleh masyarakat, baik di dalam maupun luar daerah.

Borondong telah lama dikenal oleh masyarakat dan diyakini berasal dari wilayah Jawa Barat. Kudapan tradisional ini merupakan warisan kuliner yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman dahulu.Dahulu, borondong umumnya hanya dibuat untuk keperluan acara hajatan. Namun, sekitar awal tahun 1960-an, warga Kampung Sangkan mulai mengembangkan produksi borondong tidak hanya untuk acara adat, tetapi juga untuk memenuhi pesanan.

Salah satu pelaku usaha borondong yang paling dikenal adalah Borondong Ma Erat, yang berlokasi di Kampung Sangkan RT 03 RW 08, Desa Ibun, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Usaha borondong ini dimulai oleh Ma Erat sejak tahun 1981. Pada masa itu distribusi yang dilakukan oleh Ma Erat adalah menjual borndong nya keberbagai pasar tradisional di wilayah lain seperti Pasar Ciwidey, Banjaran, dan Soreang. Berbeda dengan masa kini, penjualannya lebih terfokus pada pembeli yang datang langsung ke rumah produksi, meski permintaan tetap tinggi.

Keistimewaan dari borondong Ma Erat ini tidak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga pada proses pembuatannya yang hingga kini masih mempertahankan cara-cara tradisional. Ma Erat masih menggunakan tungku kayu bakar dalam setiap tahap produksi, sebuah metode yang mulai jarang digunakan oleh produsen makanan lainnya karena kemajuan teknologi.

Berbeda dengan produsen borondong lain yang mencoba menciptakan berbagai variasi rasa untuk menyesuaikan dengan tren pasar, Ma Erat justru tetap mempertahankan keaslian cita rasa borondong. Ia hanya memproduksi dua jenis varian rasa, yakni borondong kering dan borondong enten (yang menggunakan campuran kelapa). Masing-masing jenis memiliki proses pembuatan yang berbeda. Untuk borondong enten, bahan utamanya adalah kelapa, ketan, gula merah, dan gula putih. Sedangkan untuk borondong kering, prosesnya diawali dengan menyangrai gabah ketan, kemudian dicampur dengan larutan gula merah atau putih (kinca), lalu dicetak.

Kini, borondong Ma Erat tidak hanya populer di kawasan Ibun saja, melainkan juga telah dikenal hingga ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan luar negeri. Banyak pembeli yang membawa pulang borondong ini sebagai oleh-oleh ke daerah asal mereka, seperti Makassar, Lombok, bahkan hingga ke negara-negara seperti Tiongkok dan Thailand. Hal ini membuktikan bahwa borondong Ma Erat telah menjadi representasi kuliner tradisional yang mampu menembus pasar global.

Namun, di balik kesuksesan tersebut, ada kekhawatiran yang dirasakan oleh Teh Wiwin, putri dari Ma Erat. Ia merasa khawatir karena belum ada generasi muda yang berminat untuk melanjutkan usaha keluarga ini. “ tangatangan na teh teu aya penerus na, teteh we sareng adik-adik teteh anu terjun melanjutkn si ema mah, ngan duka tah engke” Tidak adanya penerus menjadi tantangan besar dalam menjaga kelestarian borondong sebagai warisan kuliner tradisional Ibun.

Borondong Ma Erat bukan hanya produk makanan, melainkan simbol dari kekayaan budaya dan ketekunan masyarakat lokal dalam mempertahankan tradisi. Oleh karena itu, sudah sepatutnya upaya pelestarian dan regenerasi usaha seperti ini mendapat perhatian lebih, agar kuliner khas seperti borondong tidak punah ditelan zaman.

Scroll to Top