Bukan Anxiety, Kamu Hanya Sedang Sedih: Bahaya Label Yang Kita Sematkan Sendiri

Sumber: Doc.net

Pernahkah kamu mendengar seseorang berkata, “Aku anxiety banget hari ini” hanya karena merasa gugup sebelum presentasi? Atau kalimat “Dia pasti narcissist, selalu minta perhatian” yang dilontarkan begitu saja kepada teman yang terlihat ekspresif? Atau bahkan, “Aku OCD, suka banget kalau meja bersih dan rapi.” Fenomena ini kini semakin marak di kalangan generasi muda Indonesia, terutama di media sosial. Istilah-istilah klinis dari ilmu psikologi disebarluaskan, disederhanakan, dan ditempelkan begitu saja pada pengalaman sehari-hari yang sebetulnya wajar adanya. Inilah yang disebut sebagai therapy speak: penyalahgunaan bahasa psikologi di luar konteks klinis yang sesungguhnya. Saya meyakini, kebiasaan ini bukan sekadar salah kaprah linguistik ia adalah kebiasaan yang berbahaya seecara psikologis.

Therapy speak adalah gejala budaya yang tumbuh subur di era konten digital. Di platform seperti TikTok, Instagram, dan Twitter, jutaan konten bertebaran menggunakan istilah seperti truma, gaslighting, triggered, mental breakdown, hingga attachment style tanpa konteks diagnosis yang tepat. Di Indonesia, minat masyarakat terhadap informasi kesehatan mental meningkat signifikan sejak 2020. Pencarian kata kunci terkait topik ini melonjak 70% menurut data google Indonesia. Namun, peningkatan kesadaran ini belum diikuti akses layanan professional, Riskesdas 2018 mencatat bahwa sekitar 91% penderita gangguan jiwa di Indonesia tidak mendapatkan penanganan yang memadai, hanya sekitar 9% yang berhasil mengakses layanan professional. 1Ini berarti banyak orang merasa sudah memahami kondisi mentalnya sendiri, padahal sesungguhnya belum.

Di sinilah bahaya sesungguhnya bermula. Self-diagnosis atau proses mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang diperoleh secara mandiri tanpa keterlibatan professional menjadi pintu masuk yang paling mengkhawatirkan dari tren therapy speak. Ketika seseorang menyimpulkan bahwa dirinya mengidap anxiety disorder, ADHD, atau borderline personality disorder hanya karena membaca sebuah artikel atau menonton konten di media sosial, ia berisiko salah memahami kondisinya sendiri. Tantangan terbesar kesehatan mental di Indonesia adalah kesenjangan antara meningkatnya kesadaran masyarakat dengan minimnya akses layanan professional, kondisi yang membuka pintu bagi praktik self-diagnosis yang tidak akurat dan berpotensi memperparah kondisi individu.2

Yang tidak kalah ironis adalah efek paradoks dari therapy speak terhadap stigma kesehatan mental. Di satu sisi, viralnya istilah-istilah psikologi tampak membuka percakapan tentang kesehatan jiwa. Namun di sisi lain, penggunaan yang serampangan justru menciptakan normalisasi yang keliru seolah gangguan mental adalah sesuatu yang sepele, identik dengan “drama”, atau bahkan sebuah tren. Kondisi ini berdampak serius, mereka yang benar-benar mengalami gangguan klinis menjadi lebih sulit dikenali dan sering kali tidak dipercaya.

Pandangan para ahli kesehatan mental memperkuat keprihatinan ini. Dr. Rena Masri, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis yang kerap menjadi narasumber di berbagai media nasional, menegaskan bahwa penggunaan label psikologi tanpa dasar diagnosis resmi dapat menciptakan self-fulfilling prophecy yaitu individu yang terlanjur meyakini dirinya memiliki suatu kondisi justru berperilaku sesuai label tersebut, sehingga kondisinya makin sulit diperbaiki. Sementara itu, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, seorang psikiater dari RS Marzoeki Mahdi Bogor, mengingatkan bahwa gangguan jiwa adalah diagnosis medis yang harus ditegakkan berdasarkan wawancara klinis mendalam, riwayat gejala, dan panduan diagnostik seperti DSM-5 atau ICD-11, bukan berdasarkan kuis kepribadian daring atau konten reels berdurasi satu menit.

Kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif therapy speak adalah remaja dan dewasa muda. Pada fase ini, identitas diri sedang aktif dibentuk, dan label yang dilekatkan pada diri sendiri dapat menjadi bagian dari konstruksi identitas yang sulit dilepaskan. Sebuah penelitian menemukan bahwa remaja Indonesia sangat dipengaruhi oleh narasi kesehatan mental yang beredar di media sosial, dan kecenderungan untuk mengadopsi istilah-istilah tersebut sebagai identitas diri semakin meningkat.3 Ketika seorang remaja berkata “Aku memang orangnya anxiety,” itu bukan sekadar deskripsi sementara ia bisa menjadi bagian dari cara ia memandang dirinya secara permanen, bahkan sebelum ada profesional yang benar-benar mengevaluasi kondisinya.

Ini bukan berarti kita harus berhenti berbicara tentang kesehatan mental. Justru sebaliknya percakapan tentang kesehatan mental sangat penting dan harus terus didorong. Yang perlu diubah adalah cara kita berbicara tentangnya. Alih-alih berkata “Aku anxiety,” cobalah lebih jujur pada diri sendiri seperti “Aku merasa sangat khawatir dan tegang menjelang acara ini, dan aku belum tahu pasti apa penyebabnya.” Alih-alih melabeli orang lain sebagai narcissist, lebih tepat untuk berkata “Perilakunya membuatku tidak nyaman, dan aku perlu menetapkan batasan yang jelas.” Pergeseran bahasa ini bukan sekadar soal diksi, ia adalah bentuk kejujuran pada diri sendiri yang jauh lebih sehat secara psikologis. Dan jika memang merasakan gejala yang mengganggu dan berkelanjutan, langkah terbaik bukan mencari labelnya di Google, melainkan menemui psikolog atau psikiater yang kompeten.

Pada akhirnya, meminjam bahasa psikologi untuk mengekspresikan perasaan memang terasa lebih mudah dan terdengar lebih “relatable” di era media sosial ini. Tetapi kemudahan itu menyimpan harga yang tidak murah, hilangnya ketelitian dalam memahami diri, terhalangnya akses bantuan yang tepat, dan melemahnya empati terhadap mereka yang benar-benar berjuang dengan gangguan mental klinis. Kamu berhak merasa sedih tanpa perlu diagnosis. Kamu boleh merasa lelah tanpa harus menyebutnya burnout. Kamu bisa merasa cemas tanpa perlu mengklaim anxiety disorder. Karena mungkin, yang kamu butuhkan bukan sebuah label melainkan ruang untuk jujur pada diri sendiri, dan keberanian untuk meminta bantuan dari orang yang tepat ketika kamu memang memerlukannya.

  1. Kementerian Kesehatan RI. (2018). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. ↩︎
  2. Ridlo, I. A. (2020). Pandemi COVID-19 dan Tantangan Kebijakan Kesehatan Mental di Indonesia. Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental, 5(1), 155–164. Universitas Airlangga. ↩︎
  3. Aprilia, R., Sriati, A., & Hendrawati, S. (2018). Tingkat kecanduan media sosial pada remaja. Jurnal Nursing Care, 3(2). ↩︎
Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!