
Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas dan deretan gedung-gedung modern di Jl. Asia Afrika, Bandung, berdiri sebuah bangunan tua bergaya kolonial yang menyimpan cerita panjang perbankan Indonesia. Gedung ini adalah kantor pertama Bank Mandiri di Bandung — sebuah saksi bisu transformasi ekonomi dari masa kolonial hingga era digital.
Dulunya merupakan bagian dari kantor Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM), bangunan ini kemudian menjadi cabang Bank Ekspor Impor Indonesia (Exim), sebelum bergabung dalam proses merger besar pada tahun 1999 yang melahirkan Bank Mandiri. Gedung ini menjadi cabang legendaris karena menjadi salah satu pusat layanan perbankan tertua di Jawa Barat.
Bagi sebagian warga Bandung, gedung ini bukan sekadar tempat transaksi finansial, melainkan juga simbol peralihan zaman. “Dulu saya ke sini bersama ayah saya, waktu Bank Mandiri baru berdiri. Kami membuka rekening pertama di sini. Gedungnya megah, petugasnya ramah,” ujar Yudi Hermawan (56), warga Cibaduyut, mengenang.
Namun kini, bangunan yang terletak strategis di kawasan heritage tersebut sedang dalam proses renovasi. Pagar seng mengelilingi bangunan yang tampak dipugar dengan hati-hati. Proyek ini dikabarkan sebagai bagian dari revitalisasi gedung bersejarah yang tetap mempertahankan struktur aslinya, namun disesuaikan dengan kebutuhan layanan modern.
Menurut petugas keamanan di lokasi, renovasi dimulai sejak awal 2025 dan diperkirakan rampung dalam beberapa bulan ke depan. “Bangunan ini akan tetap mempertahankan fasad aslinya. Tapi di dalamnya akan lebih modern dan nyaman untuk nasabah,” katanya.
Langkah renovasi ini mendapatkan apresiasi dari para pegiat sejarah dan arsitektur kota. Arsitek heritage, Ir. Dita Purnama, menyebut bahwa upaya ini penting untuk menjaga warisan kota yang kian tergerus pembangunan. “Gedung Bank Mandiri ini bagian dari lanskap sejarah ekonomi Bandung. Kita harus rawat dengan cara yang tepat bukan hanya dijaga fisiknya, tapi juga dihidupkan kembali fungsinya.”
Meski untuk sementara layanan nasabah dialihkan ke kantor cabang lain, aura nostalgia gedung ini tetap membekas bagi banyak orang. Sebuah pengingat bahwa di tengah inovasi digital, sejarah tetap punya tempat bahkan di balik mesin ATM dan layanan mobile banking.

