
Rumah Khas Kampung Tajur (Foto: Dokumen Pribadi)
Pagi hari menjelang siang di Kampung Tajur matahari masih belum begitu terik tapi sudah cukup hangat untuk embun menyingkir. Udaranya masih basah semilir angin mengangkat daun bambu basah. Di padang kecil dekat persawahan anak-anak perkumpul bersama sambil bermain layangan, mereka tertawa sambil menyambar angin memecah sunyi kampung yang masih cukup hening. Dilangit satu-dua layangan menari menghiasi langit diantara awan-awan. Di kampung ini permainan bukan sekedar hiburan tapi bagian warisan hidup.
Kampung Tajur merupakan kempung terpencil tepat dibawah kaki gunung Burangrang terletak di desa pasanggrahan kecamatan Bojong Purwakarta. Kampung ini barangkali masih belum begitu familiar tapi dibalik itu, kampung ini menyimpan cerita panjang yang tidak ada dalam buku-buku sejarah tetapi hidup dalam ingatan kolektif warganya. Konon katanya tempat kampung ini dulunya tempat persinggahan prajurit Mataram yang gagal menaklukan kadipaten Cirebon. Mereka ditarik mundur entah karena lelah atau takut dihukum karena kalah dalam perang sebagian prajurit memilih untuk menetap disini.
Disinilah kehidupan baru dimulai dari gubuk biasa dari sawah pertama yang dicangkul dengan tangan yang sebelumnya digunakan untuk menggenggam senjata. Tajur menjadi tempat berakar, tempat beranak dan tempat bertahan hidup. Sehingga melahirkan nafas kehidupan yang panjang.
Kini kampung Tajur bukan hanya sekedar tempat singgah sekedar melepas lelah, tapi menjadi kampung yang dihuni dengan kesadaran akan akar budayanya dan nilai leluhur. Anak-anak diajarkan menabuh gamelan bukan karena tugas sekolah, tetapi karena dirumah ayahnya pun biasa menabuh. Pada saat pesta pernikahan kesenian sunda bukan untuk wisatawan tapi untuk dinikmati warga sendiri. Disini budaya bukan tontonan tapi bagian dari kebiasaan.
Waktu saya bertanya kepada salah seorang warga, “Saha nu ngamimitian ieu kabudayaan?” Jawabannya ringan saja, “Teu nyaho ieu mah, ngadadak bae aya keneh.” Saya hanya mengangguk. Kadang, jawaban paling jujur memang terdengar seperti angin lewat. Tapi dari jawaban itu saya paham: budaya di Tajur tidak dibangun lewat proyek. Ia tumbuh karena dipelihara tanpa sadar.
Pada tahun 2003, Dedi Mulyadi saat itu Wakil Bupati Purwakarta memulai program penguatan budaya desa. Tapi jauh sebelum itu, warga Tajur sudah hidup dengan cara yang sama: sederhana, tapi berakar. Gaya hidup yang tidak ingin cepat. Yang tahu bagaimana menabuh kendang dan menanam jagung dalam hari yang sama.
Bukan merupakan destinasi wisata populer tak ada baliho besar tapi justru karena itu, tempat ini terasa hangat. Seperti duduk di dapur nenek, mendengar suara air mendidih, sambil menyimak kisah lama yang dibisikkan dari mulut ke mulut. Mungkin Tajur memang tidak sempurna. Tapi ia jujur. Dan di dunia yang sibuk mengejar tren dan pencitraan, kampung seperti ini terasa seperti oase: sunyi, tulus, dan bertahan bukan karena ingin viral tapi karena tak bisa hidup dengan cara lain.
Inisiatif pemerintah memang membantu mempertegas arah, tapi warga Tajur sejak lama sudah hidup dengan cara yang sama: menabuh kendang dan menanam jagung dalam hari yang sama. Kegiatan kesenian dan adat tidak pernah dipaksa atau diprogram. Ia hadir sebagai bagian dari keseharian, seperti menjerang air atau menyabit rumput. Budaya tumbuh karena terus dilakukan, bukan karena diinstruksikan.
Tajur dulunya mungkin hanya dianggap sebagai kampung kecil yang melekat pada Desa Pasanggrahan. Bahkan beberapa warga pun sempat merasa tak yakin akan posisi kampungnya“pernah asa mah kampung naon nya?” begitu kira-kira ungkapan ragu mereka. Namun waktu telah mengangkat Tajur ke tempat yang lebih istimewa: sebagai kampung yang jujur pada jati dirinya, yang tak perlu baliho besar untuk memperkenalkan diri, tapi dikenang karena keasliannya.
Dalam percakapan santai bersama warga, tersirat pula bahwa kehidupan di Tajur perlahan membaik secara ekonomi. Memang tidak spektakuler, tetapi cukup terasa. Pelestarian budaya, dengan segala kesederhanaannya, ternyata mampu menciptakan ketahanan sosial dan ekonomi. Mulai dari pengrajin lokal hingga acara adat yang digelar secara gotong royong, semuanya menjadi sumber penghidupan sekaligus kebanggaan.
Kampung Tajur hari ini berdiri sebagai simbol keteguhan akan nilai-nilai lama yang masih relevan. Di tengah dunia yang sibuk mengejar tren, kampung ini terasa seperti oase: tenang, tulus, dan bertahan bukan karena ingin viral, tapi karena tak bisa hidup dengan cara lain. Di dapur nenek, di suara gamelan, di layangan anak-anak, dan dalam napas warga yang menggenggam masa lalu dan masa depan sekaligus Tajur adalah kampung yang tidak sempurna, tapi sangat jujur.
