Buku sebagai Bagian dari Estetika Sosial Media

Perkembangan media sosial membawa perubahan pada cara masyarakat memandang buku. buku kini mengalami pergeseran makna yang menarik. Ia tidak hanya diposisikan sebagai sumber pengetahuan dan sarana memperluas wawasan, tetapi juga tampil sebagai bagian dari estetika dan citra diri. Fenomena ini kerap menuai kritik karena dianggap menjadikan buku sekadar aksesori pencitraan. Namun, jika dicermati lebih jauh, estetisasi buku di media sosial justru dapat dipahami sebagai peluang baru dalam menumbuhkan budaya literasi, terutama di tengah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia.

Sejak dahulu, buku memiliki nilai simbolik yang kuat. Aktivitas membaca sering diartikan dengan intelektualitas, kedalaman berpikir, dan keluasan wawasan seseorang. Di era digital, makna makna ini bertransformasi. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter memungkinkan buku hadir dalam bentuk visual yang estetis, tertata rapi di rak, dibaca di sudut kafe, atau ditampilkan dalam video singkat. Sebuah postingan dari pengguna TikTok bernama @brianna yang viral juga menarik perhatian lewat video yang memperlihatkan kumpulan buku dengan judul seperti “POV: u have good taste.” Video ini menyiratkan bahwa memilih buku tertentu dan menampilkan koleksi bacaan merupakan cara untuk mengekspresikan diri dan membangun citra sebagai pribadi yang berwawasan dan memiliki selera tinggi. Melalui unggahan tersebut, pengguna media sosial membangun narasi tentang dirinya: sebagai pribadi yang berpengetahuan, reflektif, dan memiliki selera tertentu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa buku telah beralih fungsi, dari objek baca menjadi representasi identitas. Pilihan genre, judul, bahkan desain sampul buku berperan dalam membentuk citra yang ingin ditampilkan ke ruang publik. Buku-buku klasik, karya tokoh ternama, atau bacaan yang sedang tren kerap dipilih karena dianggap memiliki nilai simbolik yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, buku menjadi penanda status sosial dan kecerdasan yang dikomunikasikan secara visual.

Tentu saja, perubahan makna ini tidak lepas dari kritik. Sebagian kalangan meragukan keautentikan praktik membaca yang ditampilkan di media sosial. Buku dinilai hanya dijadikan properti visual demi memperoleh pengakuan dan apresiasi audiens. Konten seperti a day in my life yang kerap kali menyisipkan sesi membaca di dalam videonya atau unggahan rak buku sering dipandang sebagai representasi semu yang menekankan penampilan ketimbang substansi. Bahkan, perbedaan selera bacaan kerap melahirkan stigma, seolah genre tertentu lebih “bernilai” dibandingkan yang lain.

Namun, kritik tersebut tidak sepenuhnya meniadakan dampak positif dari fenomena ini. Di tengah kenyataan bahwa minat baca di Indonesia masih tergolong rendah, kehadiran buku di ruang-ruang digital justru membuat aktivitas membaca kembali terlihat dan diperbincangkan. Menurut data UNESCO, Indonesia menempati posisi mendekati bagian terbawah dalam peringkat literasi dunia. Bahkan, dari 1.000 orang, hanya sekitar satu orang yang diperkirakan rajin membaca, atau sekitar 0,001% dari populasi, yang menunjukkan betapa kecilnya budaya membaca di masyarakat saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa budaya membaca di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Dalam kondisi seperti ini, segala bentuk upaya yang membuat buku lebih dekat dengan masyarakat patut dipertimbangkan secara positif.

Tren seperti BookTok dan Bookstagram memperlihatkan bagaimana media sosial dapat menjadi ruang kolektif bagi para pembaca. Serta komunitas lain seperti ODTEPS (One Day Twenty Pages Community) mengajak para pembaca untuk membaca minimal 20 halaman per hari dengan sistem challenge yang memberikan apresiasi berupa e-sertifikat. Upaya ini efektif dalam menciptakan rasa tantangan positif sehingga mendorong pembaca untuk terbiasa membaca setiap hari. Selain itu, Melalui unggahan video, foto, dan diskusi daring, buku tidak hanya dipamerkan, tetapi juga direkomendasikan, dibahas, dan diperdebatkan. Komunitas pembaca terbentuk, saling memotivasi, dan menumbuhkan kebiasaan membaca secara berkelanjutan. Tantangan membaca, ulasan singkat, hingga diskusi virtual menjadikan membaca sebagai aktivitas sosial yang hidup dan relevan dengan gaya hidup generasi digital.

Memang benar bahwa tidak semua orang yang memamerkan buku di media sosial benar-benar membacanya secara mendalam. Namun, menaruh kecurigaan berlebihan justru berisiko menutup peluang literasi yang lebih luas. Ketertarikan awal yang lahir dari visual dan estetika bisa menjadi pintu masuk menuju pengalaman membaca yang lebih serius. Dalam banyak kasus, rasa ingin tahu yang muncul dari satu unggahan buku mampu mendorong seseorang untuk membeli, membuka, dan akhirnya membaca buku tersebut.

Pada akhirnya, esensi membaca tetap terletak pada proses memahami, merenungkan, dan memaknai isi buku. Estetika tidak seharusnya menggantikan substansi, tetapi juga tidak perlu diposisikan sebagai musuh literasi. Segala hal yang mendorong orang untuk membaca buku, adalah sesuatu yang baik dan layak diapresiasi. Daripada semata-mata mempersoalkan praktik “pamer buku”, lebih bijak jika fenomena ini dimanfaatkan sebagai strategi untuk menumbuhkan minat baca. Media sosial, dengan segala daya tarik visual dan jangkauannya yang luas, dapat menjadi jembatan penting dalam membangun budaya literasi yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, buku bukan hanya simbol estetika, melainkan juga pintu menuju kesadaran membaca yang lebih luas di masyarakat.

Scroll to Top