Candi Bojongmenje: Jejak Hindu Tertua di Tanah Sunda yang Terlupakan

Oleh: Ibrohim Salman R

Di antara deru mesin pabrik dan padatnya permukiman di Rancaekek, Kabupaten Bandung, tersimpan sebuah saksi bisu dari peradaban masa lalu yang nyaris terlupakan: Candi Bojongmenje. Tersembunyi di tengah lahan pertanian dan perkampungan warga Desa Cangkuang, situs ini menyimpan jejak awal peradaban Hindu di Tatar Sunda jauh sebelum gemerlap Candi Borobudur atau Prambanan dikenal luas.Penemuan candi ini terjadi secara tidak sengaja pada 18 Agustus 2002. Kala itu, sekelompok warga tengah melakukan pengurugan tanah ketika alat gali mereka menghantam susunan batu yang tampak tidak biasa. Rasa penasaran membawa mereka pada struktur batu andesit tersusun rapi, berbeda dengan batu alam biasa. Kecurigaan itu terbukti benar. Tak lama kemudian, tim arkeolog datang dan memulai proses ekskavasi. Temuan ini menandai awal dari pengungkapan sejarah baru di Jawa Barat.

Lebih Tua dari Prambanan dan Borobudur

Analisis para ahli arkeologi memperkirakan bahwa Candi Bojongmenje berasal dari abad ke-6 hingga ke-8 Masehi, menjadikannya salah satu candi tertua di Indonesia. Struktur bangunannya yang sederhana, tanpa ornamen rumit, justru menjadi penanda khas masa Hindu awal. Dinding polos, fondasi batu andesit tanpa semen, serta keberadaan yoni simbol pemujaan Dewa Siwa semua mengarah pada satu kesimpulan: ini adalah tempat sakral masa lampau yang sangat tua dan penting.

Uniknya, arsitektur Candi Bojongmenje memiliki kemiripan dengan kompleks Candi Dieng di Jawa Tengah, memperlihatkan keterhubungan budaya antara wilayah-wilayah di Pulau Jawa saat itu. Bangunannya berdiri di atas lahan seluas 6 x 6 meter, cukup mungil namun kokoh dalam jejak sejarahnya. Salah satu temuan simbolik yang memperkuat identitas keagamaannya adalah motif padma atau bunga Teratai lambang spiritualitas dan kesucian dalam tradisi Hindu-Buddha.

Luka di Tengah Kemajuan

Namun, di balik keagungan sejarahnya, Candi Bojongmenje menghadapi ancaman nyata. Situs ini belum dipugar secara menyeluruh. Bangunan masih berupa reruntuhan, belum terlindungi secara optimal dari laju pembangunan di sekitarnya. Kawasan industri dan pemukiman yang terus merangsek tanpa zona penyangga mengancam keberadaan candi yang telah bertahan lebih dari seribu tahun.

Polusi udara, getaran kendaraan berat, dan pembangunan liar menjadi tantangan besar yang bisa mempercepat pelapukan batu-batu andesit itu. Padahal, keberadaan candi ini berpotensi menjadi pusat edukasi dan wisata sejarah berbasis masyarakat. “Kalau ditata dengan baik, ini bisa jadi destinasi unggulan sejarah di Bandung. Sayangnya masih minim perhatian,” ujar seorang warga setempat yang kerap menjaga situs ini secara sukarela.

Pentingnya Revitalisasi dan Partisipasi Masyarakat

Sejauh ini, Candi Bojongmenje telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Berbagai lembaga seperti Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) dan BRIN telah melakukan penelitian awal dan dokumentasi. Namun langkah konkret berupa pemugaran atau pengembangan infrastruktur wisata belum tampak signifikan.

Diperlukan langkah kolektif: pemerintah, akademisi, komunitas sejarah, dan warga setempat perlu duduk bersama menyusun Rencana Induk Pelestarian. Ini tidak hanya soal melindungi reruntuhan batu, tetapi tentang merawat jati diri budaya masyarakat Sunda.Sekolah-sekolah dapat memasukkan Candi Bojongmenje ke dalam kurikulum muatan lokal. Komunitas budaya bisa mengadakan festival, workshop sejarah, dan pelatihan konservasi. Jika semua pihak bersinergi, candi ini bisa hidup kembali sebagai ruang edukasi, tempat wisata, dan simbol identitas lokal.

Jejak untuk Generasi Mendatang

Candi Bojongmenje bukan sekadar tumpukan batu tua. Ia adalah saksi sejarah yang menegaskan bahwa Tatar Sunda pernah menjadi bagian penting dari jalur penyebaran Hindu di Nusantara. Ia adalah bukti bahwa masyarakat masa lalu telah mengenal sistem kepercayaan, teknologi konstruksi, hingga struktur sosial yang kompleks.

Kini, masa depan situs ini berada di tangan kita. Apakah kita membiarkannya terus terkubur oleh debu pembangunan, atau menjadikannya pijakan untuk membangun kesadaran sejarah yang kuat di tengah modernitas?

Jawabannya ada pada komitmen kita semua. Agar kelak, anak cucu kita tidak hanya membaca kisahnya di buku, tetapi bisa menyentuh batu-batunya, merasakan atmosfernya, dan memahami bahwa di sinilah, sejarah Jawa Barat pernah mulai ditulis.

Scroll to Top