anggun seolah menyambut pelancong kota yang haus akan pengalaman autentik. Sungai Cikapundung yang kini semakin hijau dan asri, di Jalan Dago Pojok, Tanggulan Cikalapa, Kelurahan Dago, Bandung, Di sini, Pasar Sisi Walungan Cikapundung Cikalapa yang akrab disapa Cika-Cika. Cika-Cika bukan sekadar tempat kulineran, melainkan sebagai kreatif lokal yang baru saja diresmikan pada April 2025 oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
Warga sekitar Cika-Cika kini banyak yang beralih menjadi pedagang kuliner tradisional dengan kemasan tanpa plastik. Selain itu, puluhan UMKM memamerkan kerajinan tangan yang bernilai tinggi dan penuh kreativitas. Hal ini membuktikan bahwa penataan kembali sungai tidak hanya membuat lingkungan lebih bersih dan nyaman, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat kecil. Pada akhir pekan, kawasan ini semakin ramai. Aroma surabi kinca, colenak, dan batagor hangat berpadu dengan alunan musik tradisional serta suara aliran sungai. Sungai yang dulu terabaikan kini berubah menjadi tempat wisata baru yang menarik, ramah lingkungan, dan memberikan suasana Bandung yang lebih hijau, kreatif, dan hidup.
Keunikan Cika-Cika tidak berhenti pada deretan saung dan ragam kuliner. Setiap sudut pasar ini dirancang sebagai ruang interaksi antara pedagang dan pembeli, antara tradisi dan inovasi. Para pengunjung tak sekadar bertransaksi, tetapi diajak menyelami cerita di balik setiap produk. Ada tangan-tangan ibu rumah tangga yang mengolah resep warisan keluarga, ada pula anak muda kreatif yang memadukan nilai lokal dengan kemasan kekinian tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan.
Konsep ramah lingkungan menjadi hal utama di Cika-Cika. Warga dan pedagang menggunakan daun pisang, besek bambu, serta wadah yang bisa dipakai ulang sebagai pengganti plastik sekali pakai. Di beberapa tempat juga terdapat papan kecil yang mengajak pengunjung untuk menjaga kebersihan sungai dan memilah sampah. Kesadaran menjaga lingkungan ini bukan hanya sekadar tulisan atau ajakan, tetapi sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Hal tersebut tumbuh dari pengalaman warga yang sejak lama hidup berdampingan dengan Sungai Cikapundung dan belajar untuk merawatnya bersama.
Bagi warga Dago Pojok dan sekitarnya, hadirnya Cika-Cika menjadi tanda harapan baru. Sungai yang dulu jarang diperhatikan kini kembali dimanfaatkan sebagai tempat bersama. Warga bisa berkumpul, beraktivitas, dan merasakan manfaatnya.Perekonomian masyarakat mulai berkembang, budaya dan ciri khas lokal semakin kuat, serta hubungan antarwarga menjadi lebih dekat. Cika-Cika menunjukkan bahwa pembangunan tidak harus merusak alam. Justru dengan menjaga alam, kehidupan dan kesejahteraan masyarakat bisa bangkit bersama.
