
Bandung, Jawa Barat—Orang-orang di Bandung lebih mengenal Dago Tea House daripada Taman Budaya Jawa Barat. Bahkan setelah wilayah tersebut resmi menjadi pusat kebudayaan, nama tersebut ternyata memiliki kesan sejarah yang kuat di benak masyarakat.
Pak Agung Kusnadi, Pengelola Taman Budaya Jawa Barat, menjelaskan bahwa penamaan Dago Tea House berakar dari masa penjajahan Belanda. “Pada masa penjajahan Belanda, di kota Bandung tepatnya daerah Dago ada sebuah kawasan, semacam komplek dengan halaman luas,” ujar Pak Agung.
Orang-orang Belanda pada masa itu memiliki kebiasaan minum teh di halaman rumah mereka, yang kini menjadi area Teater Terbuka. Kebiasaan inilah yang membuat kawasan tersebut populer dengan sebutan Dago Tea House. “Nama itu tidak pernah didaftarkan secara resmi, hanya melalui omongan warga sekitar dan menyebar ke seluruh kota,” tambah Pak Agung.

Pemilihan lokasi untuk Taman Budaya Jawa Barat ternyata tidak berjalan mulus. “Pemerintah waktu itu memilih kawasan yang terkenal dengan nama Dago Tea House karena view-nya yang bagus, bisa melihat ke seluruh kota Bandung,” kata Pak Agung. Namun, keputusan ini membutuhkan proses panjang dan pertimbangan dari berbagai opsi.
Awalnya, ada 5 opsi lokasi yang dipertimbangkan:
* Kompleks Komando Logistik Daerah Militer (KOLOGDAM) di Jalan Aceh Bandung.
* Kompleks Perhubungan Daerah Militer (Hubdam) di daerah Tegallega.
* Bekas gedung kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bidang Kesenian dan sekitarnya, di Jalan Naripan Bandung.
* Pendopo Kabupaten Bandung, di Jalan Dalem Kaum.
* Jalan Soekarno Hatta (By Pass) Bandung.
KOLOGDAM sempat menjadi pilihan utama, namun rencana tersebut gagal karena lokasi itu memiliki nilai sejarah yang tidak bisa dialihfungsikan begitu saja. Setelah melalui berbagai proses panjang, akhirnya pilihan jatuh pada kawasan Dago Tea House. Kawasan ini sebelumnya merupakan milik pengusaha perkebunan kebangsaan Belanda yang kemudian dibeli oleh Dinas Perhubungan. Dengan luas sekitar 4 hektar, di dalamnya terdapat restoran, fasilitas Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNPAD, dan Rumah Kolonel AD.
Pembangunan Taman Budaya Jawa Barat dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama pada tahun anggaran 1988/1989 meliputi pembangunan teater tertutup dan ruang sekretariat. Tahap kedua pada 1989/1990 dilanjutkan dengan pembangunan Teater Terbuka dan Kafetaria di bekas gedung Restoran Dago Tea House.

Pembangunan keseluruhan selesai pada tanggal 21 April 1991. Setelah era otonomi daerah, Balai Pengelolaan Taman Budaya terus mengembangkan fasilitasnya. Dengan biaya dari APBD Pemerintah Provinsi Jawa Barat tahun anggaran 2002/2003, dibangunlah Wisma Seni. Wisma ini diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan bagi seniman yang akan melakukan pertunjukan di Taman Budaya, serta penambahan sarana penunjang lainnya untuk kegiatan olah seni dan pelayanan informasi seni budaya kepada masyarakat.
Kini, meskipun secara resmi bernama Taman Budaya Jawa Barat, nama Dago Tea House akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan identitas tempat ini.
