Dari buku ke Dunia Virtual, Menelusuri jejak Multatuli di Tengah Alun-Alun Rangkasbitung

Rangkasbitung, Lebak — Apa jadinya jika kisah perjuangan antikolonial yang dulu hanya bisa dibaca dalam buku, kini bisa dialami langsung di dunia virtual? Museum Multatuli membawa sejarah ke era digital dengan membuka galeri Augmented Reality (AR) interaktif pertama di tengah Alun-Alun Rangkasbitung. Melalui teknologi ini, pengunjung tak hanya membaca, tetapi benar-benar menelusuri jejak Multatuli—penulis sekaligus tokoh kontroversial dalam sejarah kolonialisme Belanda—dalam format visual yang hidup dan imersif. Sebuah langkah berani untuk menjembatani sejarah dan generasi muda lewat kecanggihan teknologi.

Rangkasbitung, Lebak — Inovasi digital akan segera mewarnai wajah sejarah di jantung kota Rangkasbitung. Museum Multatuli bersiap meluncurkan galeri Augmented Reality (AR) interaktif pertama yang memungkinkan pengunjung menelusuri jejak perjuangan antikolonialisme melalui pengalaman virtual langsung di tengah Alun-Alun Rangkasbitung. Galeri AR di Museum Multatuli ini mengangkat kisah dan pemikiran Eduard Douwes Dekker atau yang lebih dikenal sebagai Multatuli, penulis novel legendaris Max Havelaar yang menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan kolonial Belanda di Hindia Belanda.

Menggabungkan teknologi AR dan narasi sejarah, para pengunjung hanya perlu menggunakan ponsel pintar atau perangkat khusus yang disediakan oleh museum untuk mengakses elemen interaktif di titik-titik tertentu di sekitar Alun-Alun Rangkasbitung. Mereka akan “bertemu” dengan tokoh-tokoh sejarah, melihat representasi digital dari adegan-adegan penting dalam buku Max Havelaar, hingga mendengarkan kutipan-kutipan penting yang menggugah kesadaran akan ketidakadilan masa kolonial.
Program ini merupakan bagian dari rangkaian transformasi digital yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak untuk mendekatkan warisan sejarah dengan masyarakat, khususnya generasi milenial dan Gen Z.

“Ini adalah cara baru untuk menghadirkan sejarah yang hidup. Kami ingin generasi muda bisa belajar sejarah bukan hanya dari buku, tetapi dari pengalaman yang imersif dan personal,” ujar edukator Museum Multatuli. Ginandar.

Selain wisatawan lokal, museum ini juga sangat diharapkan untuk dapat menarik perhatian pengunjung nasional dan internasional, mengingat posisi Multatuli yang cukup penting dalam sejarah sastra dan gerakan antikolonialisme global. Dengan tajuk “Dari Buku ke Dunia Virtual”, galeri ini bisa menjadi bukti bahwa sejarah tidak hanya bisa disimpan di museum atau perpustakaan, tetapi juga bisa dibawa ke ruang publik dan dikemas dengan teknologi modern untuk menciptakan pengalaman edukatif yang menyenangkan dan menggugah.

Dengan peluncuran galeri AR interaktif ini, Museum Multatuli tak hanya membawa kisah-kisah perlawanan kolonialisme ke ruang publik, tetapi juga menjembatani generasi muda dengan sejarah melalui pendekatan digital yang imersif. Dari lembaran buku ke dunia virtual, inisiatif ini menjadi langkah progresif dalam memperkuat kesadaran sejarah dan nilai-nilai keadilan sosial yang diperjuangkan Multatuli, tepat di jantung kota Rangkasbitung.

Scroll to Top