
Tugu Juang Siliwangi di Baleendah, Kabupaten Bandung (Foto: Dok. Pribadi)
Malam tiba dengan langkah lembut di Baleendah, membungkus jalanan yang sempit dan berdebu dengan suasana muram. Di tengah lalu lalang kendaraan, di persimpangan yang tak lagi ramai oleh pejalan kaki yang peduli, berdirilah Tugu Juang Baleendah. Ia bukan sekadar tumpukan beton, tapi penanda sejarah yang menunggu untuk dikenang. Dahulu, ia adalah lambang kebanggaan dan penghormatan terhadap para pejuang. Kini, ia menjadi simbol kehilangan makna dan pengabaian.
Tugu Juang Baleendah didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Bandung melawan kolonialisme. Wilayah ini menjadi saksi pertempuran sengit dalam rangkaian besar Bandung Lautan Api dan menjadi jalur gerilya menuju kawasan selatan seperti Pangalengan, Banjaran, dan Gunung Wayang.
Baleendah pernah menjadi garis belakang yang penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Banyak pejuang dan warga sipil bergerak melalui jalur ini demi menjaga eksistensi perjuangan setelah Bandung dibumihanguskan pada tahun 1946. Tugu tersebut dibangun dengan harapan menjadi penanda semangat perjuangan itu sebuah pengingat abadi bagi generasi penerus.
Namun seiring waktu, makna tersebut mulai kabur dari ingatan kolektif masyarakat. Tanpa perawatan yang layak, simbol perjuangan itu mulai retak, tidak hanya secara fisik, tapi juga secara makna.
Berdasarkan pengamatan dan laporan warga setempat, kawasan sekitar tugu sering dijadikan tempat berkumpul yang tak mencerminkan nilai sejarahnya. Beberapa indikasi menunjukkan bahwa aktivitas tak pantas, termasuk transaksi prostitusi terselubung terjadi di sekitar kawasan itu.
Kondisi ini mencerminkan paradoks yang menyakitkan, sebuah tugu perjuangan yang seharusnya membangkitkan semangat nasionalisme, justru berubah menjadi ruang yang mengaburkan nilai-nilai tersebut. Ini bukan hanya soal fisik bangunan, melainkan juga peringatan keras tentang lunturnya kesadaran sejarah.
Dalam teori imagined communities dari Benedict Anderson, monumen seperti tugu dan makam pahlawan memainkan peran penting dalam membentuk identitas nasional. Ia menyebut bahwa bangsa dibayangkan melalui simbol-simbol kolektif yang dihormati dan dirawat. Ketika monumen seperti Tugu Juang Baleendah terabaikan, itu menjadi refleksi dari lemahnya rasa kebangsaan.
Dari sisi manajerial sendiri, tugu ini tidak memiliki penjagaan atau pengawasan yang ketat untuk melindunginya dari vandalisme dan penyalahgunaan ruang public. Padahal, potensi edukatif dan simboliknya sangat besar. Ia bisa menjadi bagian dari Pendidikan sejarah, karena dapat menjadi lokasi kunjungan sejarah bagi pelajar, atau setidaknya menjadi ruang publik yang bermartabat bagi warga sekitar.
Revitalisasi tugu seperti ini tidak sekadar soal perbaikan fisik. Ia adalah upaya menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat terhadap sejarah perjuangan. Dalam konteks ini, perlu kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah-sekolah, komunitas budaya, dan media lokal untuk mengangkat kembali nilai historis Tugu Juang Baleendah.
Beberapa komunitas telah menunjukkan kepedulian, seperti kegiatan bersih-bersih tugu atau penelusuran sejarah lokal. Namun upaya itu belum cukup jika tidak disokong oleh kebijakan dan anggaran yang memadai. Edukasi sejarah bukan hanya tanggung jawab guru, tapi juga masyarakat dan pengelola ruang publik.
Selain itu, penting untuk menjadikan tugu sebagai bagian dari narasi pembangunan berkelanjutan. Tugu bukan hanya untuk dikenang dalam peringatan seremonial tahunan, melainkan juga harus menjadi titik temu antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tugu adalah cerita dalam diam yang perlu dibacakan kembali pada generasi muda.
Tugu Juang Baleendah adalah saksi sejarah yang kini ditinggalkan. Ia tidak mampu berbicara, namun diamnya adalah jeritan yang terdengar oleh mereka yang masih peduli. Ketika bangsa lupa pada monumentnya, sesungguhnya ia sedang melepaskan tali pengikat pada identitasnya sendiri.
Kini, pilihan ada di tangan kita, membiarkan simbol perjuangan ini larut dalam gelap dan kekotoran, atau menyalakan kembali cahaya penghormatan di atas pondasinya. Tidak cukup dengan retorika dan pidato setiap 17 Agustus, yang dibutuhkan adalah aksi nyata yaitu perawatan, edukasi, dan penghargaan terhadap sejarah. Sebab bangsa yang besar bukan hanya yang menghargai jasa pahlawan, tetapi juga yang menjaga monumen-monumen yang mewakili jiwa mereka.
