Tugu Makam Franz Wilhelm Junghuhn berdiri di Kampung Kristen Jayagiri Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Warga setempat dahulu menganggapnya angker dan menghindarinya, terutama pada malam hari. Namun, rasa takut itu perlahan berubah menjadi rasa hormat seiring waktu.
Tempat sunyi di tengah perkampungan Kristen ini tanpa disadari menjadi jembatan yang menghubungkan warga dengan kisah hidup seorang penjelajah yang mencintai tanah Lembang, sama seperti warga yang mencintai kampung mereka hingga kini.
Makam tersebut adalah peristirahatan terakhir Franz Wilhelm Junghuhn, ilmuwan Jerman yang mengabdikan hidupnya untuk tanah Jawa pada abad ke-19. Lahir di Jerman pada 1809 dan wafat 24 April 1864, ia adalah seorang dokter militer sekaligus pelopor pembudidayaan pohon kina di Indonesia, terutama di wilayah Lembang.
Perubahan dari ketakutan menjadi penghormatan tidak terjadi begitu saja. Warga membutuhkan waktu puluhan tahun untuk memahami siapa sosok yang terbaring di balik tugu makam sederhana itu. Tempat yang dulunya dihindari kini menjadi bagian dari identitas kampung—pengingat bahwa Lembang pernah menjadi rumah bagi orang asing yang memilih dikuburkan di tanah yang dicintainya.
Tugu Makam tersebut masih berdiri tegak menjulang tinggi setelah puluhan tahun berlalu. Rumput liar tumbuh merambat di sekelilingnya. Daun kering dari pohon pinus berjatuhan dan menumpuk di sekitar makam. Daun kering itu bergesekan dan menimbulkan suara gemerisik pelan setiap kali angin bertiup. Pohon pinus yang rimbun menjulang tinggi menyaring cahaya matahari menjadi berkas-berkas tipis yang sesekali menyentuh tugu.
Sebuah rumah sederhana berdiri di dekat Tugu Makam Junghuhn—tempat tinggal penjaga yang merawat makam tersebut. Spanduk terpasang di dekat pintu masuk, berisi peringatan bahwa tidak sembarang orang boleh masuk tanpa izin. Suasananya sangat sepi. Suara angin yang menembus celah-celah dedaunan dan sesekali langkah kaki di atas rerumputan kering menjadi satu-satunya yang terdengar.
Makam Junghuhn kini bukan lagi sekadar tugu batu di tengah rimbunnya pinus yang mengelilingi kampung. Tempat itu telah berubah menjadi ruang hening untuk berhenti sejenak, menatap jauh ke masa lalu, dan bertanya-tanya bagaimana seorang ilmuwan asing bisa meninggalkan jejak yang begitu kuat di tanah yang jauh dari negara asalnya.
Warga Kampung Kristen menceritakan kisah Junghuhn secara turun-temurun. Para pendaki dan wisatawan juga kerap mengunjungi makam itu. Melalui cerita-cerita tersebut, nama Junghuhn kembali hidup. Ia bukan lagi sosok misterius yang menakutkan, melainkan bagian dari sejarah Kampung Kristen Jayagiri yang terus warga rawat dalam ingatan bersama.
