Dayeuh Luhur: Kota di Atas Gunung, Jejak Kerajaan yang Terlupakan

Kabut tipis bergulung di lereng Gunung Rengganis pagi itu. Angin berembus pelan, membawa kesunyian yang menyelimuti pemakaman tua di ketinggian. Tempat ini dikenal sebagai Dayeuh Luhur, sebuah kawasan yang dahulu menjadi titik penting dalam sejarah Kerajaan Sumedang Larang.

Dayeuh Luhur tidak lahir dari perencanaan kota, melainkan dari keterpaksaan sejarah. Saat Prabu Geusan Ulun, Raja Sumedang Larang, menghadapi tekanan dari Kesultanan Cirebon, ia memilih meninggalkan istana dan mengungsi ke puncak Gunung Rengganis bersama keluarga dan para pengikutnya. Tempat tinggi yang awalnya hanya disebut Gunung Rengganis, Lalu berawal di ambil dari Daya Luhung dan lambat laun dikenal sebagai Dayeuh Luhur yang berarti kota tinggi.

“Awalnya disebut Gunung Rengganis. Tapi karena jadi tempat raja dan ada kekuatan sejarahnya, warga menyebutnya Dayeuh Luhur. Sekarang malah disebut ‘kota luhur’ sama anak-anak muda,” kata Mbah Aceng Hermawan, juru pelihara makam leluhur di sana.

Sejarah berdirinya Dayeuh Luhur tak bisa dipisahkan dari kisah cinta lama yang berbuntut konflik politik. Prabu Geusan Ulun, sebelum naik takhta, sempat belajar agama di Pajang. Di sana, ia jatuh cinta kepada Ratu Harisbaya, putri keturunan bangsawan Pajang-Madura. Namun Harisbaya kemudian dijodohkan dengan Panembahan Girilaya dari Cirebon dalam aliansi politik. Saat Geusan Ulun bertandang ke Cirebon sebagai utusan kerajaan, mereka bertemu kembali. Harisbaya diam-diam melarikan diri dan menyusul rombongan Sumedang, lalu ikut diboyong ke ibukota Sumedang Larang di Kutamaya.

Keputusan itu memicu kemarahan pihak Cirebon. Dituduh telah mempermalukan Sultan, Prabu Geusan Ulun dianggap telah merebut istri orang. Pasukan Cirebon pun dikirim menyerbu Sumedang Larang, dan konflik ini dikenal sebagai Geger Hanjung.

Menjelang perang, panglima Jayaperkosa menanam pohon hanjung sebagai simbol mistis: jika tumbuh subur, tandanya kemenangan. Namun meski pohon itu tetap hijau, pasukan Sumedang terdesak oleh serangan gabungan Cirebon dan tentara Tegal dari Jawa Tengah. Jayaperkosa gugur di medan tempur.

Melihat situasi memburuk, Dipati Wirajaya menyarankan istana dikosongkan, dan Prabu Geusan Ulun mengungsi ke Gunung Rengganis. Dari sinilah wilayah ini menjadi tempat penting, menandai perpindahan pusat kekuasaan sementara Sumedang Larang ke atas gunung. Nama Dayeuh Luhur mulai digunakan. Dalam bahasa Sunda, dayeuh berarti kota, dan luhur berarti tinggi atau agung. Bagi warga, ini bukan sekadar lokasi pengungsian, tapi simbol perlawanan dan perlindungan terakhir kerajaan.

Kini, di puncak Dayeuh Luhur berdiri makam Prabu Geusan Ulun, istrinya Ratu Harisbaya, serta kedua anak mereka: Pangeran Suryadiwangsa dan Kyai Demang Cipaku. Di dekatnya, terdapat patilasan Eyang Jayaperkosa, sang panglima tempur. Patilasan itu berupa batu menhir dan sebuah batu dakon, yang diyakini sebagai tempat duduk saat bertapa atau meditasi.

“Itu batu dakon, katanya nggak boleh dipindah. Dulu tempat duduk eyang Jayaperkosa,” jelas Mbah Aceng.

Setiap malam Jumat Kliwon dan malam maulid, kawasan ini ramai oleh peziarah dari berbagai penjuru. Mereka datang untuk berdoa, mencari keberkahan, atau sekadar mengenang sejarah panjang kerajaan yang pernah berjaya di tanah Sunda.

Dulu, jalan menuju Dayeuh Luhur hanya bisa dilalui dengan jalan kaki. Medannya menanjak, curam, dan licin saat hujan. Tapi kini, akses jalan telah diperbaiki. Pemerintah Kabupaten Sumedang membangun jalur kendaraan hingga ke atas, membuka peluang lebih besar bagi wisata sejarah dan religi berkembang di tempat ini. Bagi warga Sumedang, Dayeuh Luhur bukan hanya situs sejarah. Ia adalah simbol kekuatan dan pengorbanan, tempat di mana raja meninggalkan istana demi keselamatan, dan rakyat terus menjaga warisan budaya mereka.

Dayeuh Luhur adalah saksi bisu perubahan besar dalam sejarah Sumedang Larang. Dari kisah cinta yang memicu perang, hingga keberanian seorang raja meninggalkan takhta demi kehormatan, semua terpatri di tempat ini.

“Orang datang ke sini bukan cuma ziarah. Tapi belajar dari masa lalu,” kata Mbah Aceng. Hari ini, Dayeuh Luhur berdiri di atas awan, menjaga memori tentang kerajaan yang memilih bertahan dengan harga diri. Dalam keheningan puncaknya, sejarah masih berbicara.

Scroll to Top