Di Antara Lilin dan Doa: Moderasi Beragama di Kampung Pulo Geulis

Muhammad Anugrah Noor Fadhilsyah

Di tengah derap modernisasi Kota Bogor, terdapat sebuah kampung kecil yang menyimpan harmoni besar. Namanya Kampung Pulo Geulis, terletak di tengah Sungai Ciliwung, dan menjadi rumah bagi keberagaman yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah Vihara Maha Brahma berdiri, tak jauh dari sebuah musholla kecil dan petilasan tokoh leluhur Sunda, mencerminkan wajah Indonesia yang rukun dan toleran.

Masuk ke kawasan Kampung Pulo Geulis, pengunjung akan disambut oleh bangunan merah khas Tionghoa bertuliskan “Phan Ko Bio – Vihara Maha Brahma”. Lampion-lampion merah menggantung rapi di atas altar dan lorong. Di dalam vihara, aroma hio memenuhi udara, menyelimuti patung-patung Buddha, dan dewa-dewi Konghucu yang diletakkan rapi di altar. Lilin merah menyala, memperkuat suasana sakral sekaligus damai.

Namun yang membuat Vihara ini istimewa bukan hanya arsitektur atau usia bangunannya, melainkan nilai-nilai toleransi yang tumbuh di dalamnya. Tepat di bagian belakang vihara, terdapat sebuah musholla kecil lengkap dengan tempat wudhu. Di sinilah umat Muslim, yang tinggal berdampingan dengan umat Buddha dan Konghucu, menjalankan salat lima waktu.

Di dalam musholla tersebut, juga terdapat petilasan yang dihormati, yakni petilasan dari Embah Sakee dan Eyang Djayadiningrat. Keduanya dikenal sebagai tokoh penyebar Islam pada masanya, dan menjadi bagian penting dari sejarah keagamaan di wilayah ini. Keberadaan petilasan ini tidak hanya menambah dimensi spiritual musholla, tetapi juga menunjukkan betapa sejarah lokal dan praktik keagamaan dapat menyatu secara harmonis.

Tidak jauh dari altar utama, terdapat sebuah petilasan bernama “Mbah Raden Mangun Jaya”. Sosok ini dipercaya sebagai keturunan Raja Pajajaran, leluhur masyarakat Sunda di kawasan ini. Area ini sering dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai latar belakang kepercayaan. Batu besar di tengah ruang petilasan dikeramatkan, dihormati bukan karena agama tertentu, melainkan karena sejarah dan kearifan lokal yang melekat di dalamnya.

Uniknya, aktivitas keagamaan lintas iman juga tercatat dalam dokumentasi vihara, seperti kegiatan sedekah maulid yang pernah digelar bersama warga Muslim pada tahun 2016. Foto-foto yang sudah hampir satu dekade menunjukkan warga dari berbagai latar belakang berkumpul, berdoa, dan makan bersama dalam satu ruang yang biasanya menjadi altar utama vihara. “Kami di sini sudah terbiasa hidup berdampingan. Tidak ada yang merasa lebih tinggi, semua saling menghormati. Bahkan kalau hari besar umat Islam, kami ikut gotong royong,” ujar salah satu pengurus vihara yang juga warga asli Pulo Geulis.

Di tengah meningkatnya polarisasi identitas dan konflik SARA di berbagai tempat, Kampung Pulo Geulis memberikan secercah harapan: bahwa moderasi beragama bukan hanya jargon, tapi nyata dihidupi oleh masyarakat akar rumput.

Di antara lilin-lilin doa dan sajadah salat, Vihara Maha Brahma dan musholla kecil di Pulo Geulis berdiri sebagai simbol kesatuan dalam perbedaan. Kampung ini tidak hanya merawat warisan leluhur, tapi juga menjadi teladan hidup bagi masa depan Indonesia yang damai dan inklusif.

Scroll to Top