
Langit masih pekat ketika Abdul mulai merapikan gerobak dorongnya. Kayu-kayu tua itu berderit pelan saat rodanya digeser pelan-pelan dari pinggir kontrakan sederhana miliknya. Udara masih dingin, tapi keringatnya sudah mulai membasahi kening. Tak banyak yang bisa ia katakan soal hidup. Toh, ia juga merasa tak perlu banyak omong. Yang penting, wajan dan kompor sudah siap, adonan bakwa, tempe, dan tahu sudah digoreng setengah matang sejak subuh.
Jam menunjukkan pukul setengah enam. Waktu yang sudah jadi teman setianya bertahun-tahun. Abdul mendorong gerobaknya menyusuri jalan yang masih sepi. Sesekali ia berhenti, mengatur posisi kursi panjang kayu yang ia letakkan persis di atas gerobak. Kursi yang cukup untuk empat atau lima orang yang mungkin singgah sembari menggigit gorengan hangat. Ia memilih pinggir jalan, tempat orang-orang berlalu lalang memulai aktivitas setiap harinya. Gerobaknya sederhana, tapi Abdul tak pernah malu. Baginya, rezeki tak pernah melihat rupa gerobak. Rezeki hanya butuh niat dan sedikit keberanian untuk tetap bertahan.
Di balik dagangan gorengannya itu, ada cerita panjang yang tak semua pembeli tahu. Abdul bukanlah orang yang suka bercerita banyak. Tapi bagi yang mau duduk sebentar di kursi panjang kayunya, mungkin akan terdengar potongan-potongan kecil kisahnya yang penuh dengan goresan hidup. Bukan kisah heroik, bukan juga dongeng manis. Melainkan cerita biasa tentang seorang pria dari Garut yang merantau, jatuh bangun, hingga hari ini masih bertahan dengan wajan dan minyak panas.
Abdul lahir dan besar di Garut. Tanah priangan yang terkenal sejuk dan penuh dengan gunung itu jadi saksi masa kecilnya yang sederhana. Sebelum menikah, Abdul sempat ikut bersama pamannya ke Bandung untuk bekerja. Ia membuat tas wanita dan sabuk. Tangannya terbiasa menjahit, memotong kulit, merangkai bahan-bahan jadi barang-barang yang cantik. “Dulu saya jago jahit, Teh,” katanya pernah sambil tertawa kecil. “Sekarang jagonya goreng tempe.” Tawa renyahnya mengusir sedikit kepedihan yang mungkin tersimpan lama.
Tapi masa-masa bersama pamannya di Bandung tak berlangsung selamanya. Pernikahan mengubah jalannya. Setelah resmi menjadi suami, ia diajak kakaknya untuk berjualan bubur dan kupat tahu. Pindah tempat, pindah profesi, itulah yang dilakukan Abdul. Dari menjahit jadi menyendok bubur. Dari kulit dan sabuk jadi kuah kacang dan lontong. Ia tak pernah menyesal. Bagi Abdul, bekerja itu ya bekerja. Tak peduli apa pun bentuknya, asal halal dan bisa menghidupi keluarga.
Namun, tak selamanya Abdul bergantung hidup bersama sang kakak. Setelah beberapa waktu berjualan bubur dan kupat tahu bersama sang kakak, Abdul memutuskan untuk mandiri, karena dirasa sudah memiliki ilmu untuk berjualan. Mungkin karena ingin mencari panggung sendiri, atau mungkin karena rezeki memang harus dijemput dengan cara yang berbeda. Ia kemudian memilih berjualan gorengan. Tahu, tempe, pisang, dan kadang ubi. Bukanlah barang mewah, tapi hampir semua orang suka.
Lalu, tanpa aba-aba pandemi Covid-19 singgah di Indonesia. Tiba-tiba, tanpa diundang. Abdul masih ingat betul bagaimana rasanya tahun 2020 itu. Sepinya jalanan, takut yang menyelimuti hampir setiap rumah, dan dagangan yang tak kunjung laku. Ia sempat berusaha berkeliling ke komplek-komplek perumahan dengan gerobaknya. Harapannya, orang-orang yang bosan di rumah akan tertarik membeli gorengan hangat. Tapi nyatanya tidak semudah itu. Dagangannya seringkali pulang hampir utuh. Hanya beberapa tempe dan pisang yang laku, selebihnya harus dimakan sendiri atau dibagikan ke tetangga.
“Sampe saya mikir, kalo begini terus besok mau makan apa,” katanya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Di masa paling kelam pandemi, Abdul nekat mengambil keputusan besar. Ia meninggalkan gerobaknya sejenak, beralih menjadi tukang bangunan. Badannya yang tak terlalu tegap dipaksakan untuk mengangkat batu bata dan mencampur semen. Tangannya yang biasa membolak-balik gorengan di wajan, kini harus terbiasa terkena pasir dan semen di lapangan. Namun ia bertahan. Pekerjaan itu memberinya uang untuk sekedar menyambung hidup.
Gerobak kayunya terparkir diam di samping kontrakan, bertumpuk debu dan kenangan. Abdul tak tahu kapan pandemi akan berakhir. Tapi seperti kebanyakan orang, ia hanya pasrah dan berusaha. Setelah lelah menjadi kuli bangunan, ia memutuskan untuk kembali ke jalanan. Kembali ke wajan dan tentunya kembali ke gorengan. Karena baginya, berdagang adalah satu-satunya harapan yang bisa ia pegang untuk menyambung hidup. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk istri dan anak-anaknya. Bau minyak panas dan suara gorengan yang mendesis adalah lagu yang paling ia kenal.
Sekarang, setiap pagi, Abdul memulai harapan menjadi langkah untuk berjualan dari pukul enam hingga satu siang. Tepat saat matahari mulai terik dan orang-orang mulai beristirahat. Di pinggir jalan itu, ia duduk di kursi panjang kayu bersama gerobaknya. Kadang sambil ngopi dan melamun melihat mobil dan motor berlalu lalang. Penghasilannya tidak pasti, kadang seratus ribu dan paling besar seratus lima puluh ribu sehari. Tapi tidak jarang juga hujan dan sepi membuatnya pulang dengan hati cemas. Belum lima menit Abdul menghitung pendapatan hasil jualannya, uang yang tak seberapa itu sudah habis dibagi untuk biaya kontrakan, makan, dan ia sisihkan pula untuk biaya anak-anaknya. Namun, baiknya Abdul dan istri tetap mensyukuri berapapun hasil yang diterima dari berjualan gorengan. Meskipun tak sedikit keluh yang sengaja terucap.
Bebicara tentang anak-anaknya, Abdul menghela napas panjang. Ia mempunyai empat anak. Yang pertama, alhamdulillah, sudah bekerja. Dapat penghasilan sendiri meskipun mungkin belum banyak, namun bisa membantu kebutuhan adik-adiknya. Anak kedua dan ketiga masih sekolah dan mereka tinggal bersama neneknya di Garut. Abdul sesekali menyempatkan pulang untuk menjenguk, meski tak sering karena harus berjualan setiap harinya. Kalau sudah kangen, ia hanya bisa menelpon, mendengar suara mereka dari jauh. “Bapak kapan pulang?” tanya anaknya yang masih bersekolah itu seringkali. Abdul hanya bisa tersenyum kecut, menjanjikan sesuatu yang terkadang tak tahu kapan bisa ia tepati.
Dan anak keempat, ia bungkam. Tak pernah sekalipun Abdul menyebutkan secara gamblang. Hanya dua kata: “Sudah meninggal.” Tanpa sebab, tanpa cerita, tanpa penjelasan. Dan orang yang mendengar pun paham, tak perlu menanyakan lebih jauh. Ada luka yang biarlah tetap tersimpan rapat, karena sekalipun dibuka, tak akan ada obatnya selain waktu yang terus mengalir.
“Lalu kenapa gorengan?” Saya pernah bertanya begitu. Abdul tertawa kecil sambil merapikan plastik gorengan yang sudah berkurang sedikit. “Gorengan itu gampang, Teh. Barangnya murah. Siapa pun bisa beli. Punya uang seribupun sudah bisa ambil satu. Nggak kayak jualan barang mahal, orang mikir dulu. Kalau gorengan, ya… liat aja, langsung beli. Apalagi kalau lagi anget-angetnya.”
Sederhana, iya. Tapi di balik kesederhanaan itu, ia bisa bertahan. Dari pagi hingga siang, ia menemani para pekerja yang butuh sarapan murah, anak-anak sekolah bahkan mahasiswa yang lapar dalam perjalanan, hingga ibu-ibu yang malas memasak. Semua punya alasan tersendiri untuk berhenti di gerobaknya. Dan Abdul hanya butuh untuk tersenyum, mengambil gorengan, membungkusnya, lalu menerima uang receh dengan penuh syukur.
Jualannya berhenti tepat pukul satu siang. Saat adzan dzuhur mulai berkumandang, Abdul biasanya mulai membereskan dagangannya yang tersisa. Tak banyak yang tersisa biasanya, apalagi kalau cuaca cerah. Ia mendorong lagi gerobaknya pulang. Roda kayu itu berderit lagi, sama seperti pagi tadi, tapi dengan perut yang sedikit lebih lega.
Kadang, dari pinggir jalan itu, kita belajar bahwa hidup tidak perlu mewah untuk terasa berharga. Abdul tidak pernah memiliki toko, tak punya modal besar, dan tak pernah mengeluh panjang tentang masa lalunya yang keras. Ia hanya duduk di kursi panjang, ditemani asap minyak dan ramainya suara kendaraan berlalu lalang di depannya, lalu menjalani semuanya apa adanya.
Di kontrakan kecilnya, ia pulang, melepas lelah, lalu besok pagi akan mengulang hal yang sama. Mendorong gerobak kayu, menggoreng tahu dan tempe, berharap semuanya laku sebelum hujan turun. Abdul tak banyak bicara, tapi kehadirannya cukup untuk membuat kita sadar bahwa bertahan bukan soal kekuatan super. Melainkan bertahan adalah memilih bangun pagi setiap hari meski masa depan tak pernah pasti. Terkadang kehidupan yang kita jalani hadir tanpa sedikitpun memberi kisi-kisi. Namun, kehidupan inilah yang memilih kita untuk menjalaninya. Dan Abdul, dengan segala lelahnya, memilih berjalan menghidupi kehidupan yang telah dititipkan kepadanya. Sambil sesekali menanyakan, “Mau beli berapa, Teh?”
