
Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah Desa Babakan, Kecamatan Ciparay. Di sela-sela galengan yang basah oleh embun, dua perempuan paruh baya sudah sibuk sejak subuh. Tangan mereka terampil bergerak di antara batang-batang padi yang mulai menguning. Tidak ada anak muda yang menemani mereka. Hanya angin, suara burung, dan sunyi yang panjang.
Siti, 47 tahun, dan Dewi, 45 tahun, adalah dua dari segelintir petani yang masih setia menggarap sawah di desa mereka. Keduanya sudah mengenal lumpur sawah sejak kecil, belajar dari orang tua mereka yang juga petani. Bertani bukan sekadar pekerjaan bagi mereka ini adalah cara hidup yang diwarisi turun-temurun. Namun kini, warisan itu terancam tidak ada yang mau menerimanya.
Siti tidak ingat persis kapan pertama kali ia menginjakkan kaki di sawah. Yang ia ingat, sejak masih sekolah dasar ia sudah ikut orang tuanya turun ke sawah setiap musim tanam tiba. Tidak ada pilihan lain. Itulah satu-satunya sumber penghidupan keluarganya.
Kini, setelah puluhan tahun bertani, kondisinya tidak banyak berubah. Penghasilan dari sawah hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Tidak lebih dari itu. “Buat makan cukup, tapi kalau buat yang lain-lain ya harus cari tambahan,” kata Siti singkat, matanya tetap menatap padi di hadapannya.
Dewi pun bernasib serupa. Meski sudah bertani hampir tiga dekade, ia tidak bisa menyebut dirinya sejahtera. Biaya pupuk, biaya tanam, dan ongkos tenaga kerja terus merangkak naik, sementara harga gabah di tingkat petani nyaris tidak bergerak. Kadang, ketika dihitung, untungnya tipis. Bahkan bisa saja rugi.
“Jadi petani itu kerja keras, tapi hasilnya tidak menjamin kaya,” ujar Dewi. Kalimat itu bukan keluhan semata itu adalah kenyataan yang sudah lama mereka terima dengan lapang dada.
Di sinilah letak kegelisahan yang sesungguhnya. Bukan soal hasil panen yang tidak menentu, bukan soal harga gabah yang kerap tidak berpihak melainkan soal siapa yang akan menggarap sawah ini setelah mereka tidak sanggup lagi.
Anak-anak Siti dan Dewi tumbuh menyaksikan orang tua mereka bekerja keras dari pagi hingga sore di bawah terik matahari. Dan justru dari sana, mereka belajar satu hal: bertani bukanlah jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Bukan impian yang ingin mereka kejar.
Kebanyakan anak-anak mereka memilih merantau ke kota, bekerja di pabrik, atau mencari peruntungan di sektor lain. Pilihan itu tidak bisa disalahkan. Siapa pun ingin kehidupan yang lebih pasti, penghasilan yang lebih stabil, dan masa depan yang lebih terjamin. Sementara sawah, dengan segala ketidakpastiannya, tidak mampu menawarkan semua itu.
“Anak saya tidak ada yang mau jadi petani. Katanya capek, hasilnya tidak seberapa,” tutur Siti. Ada nada pasrah dalam suaranya, bercampur sesuatu yang sulit dieja mungkin kesedihan, mungkin pemahaman.
Desa Babakan masih tergolong beruntung. Hamparan sawahnya masih luas, belum banyak yang beralih fungsi menjadi perumahan atau kawasan industri seperti yang terjadi di banyak daerah lain di sekitar Ciparay. Pemandangan hijau padi yang berbaris rapi masih bisa dinikmati setiap pagi.
Namun luasnya sawah menjadi ironi tersendiri. Lahan masih ada, tapi tangan-tangan muda yang mau menggarapnya makin sulit dicari. Secara nasional, BPS mencatat petani berusia 45 tahun ke atas mencapai 19,49 juta orang pada 2023 angka yang menggambarkan betapa tipisnya lapisan petani muda yang siap mengambil alih. Petani-petani yang ada rata-rata sudah berusia kepala empat dan kepala lima. Beberapa bahkan sudah memasuki usia yang seharusnya istirahat, tapi tetap turun ke sawah karena tidak ada yang menggantikan.
Siti dan Dewi sadar betul akan situasi ini. Mereka tidak sedang bicara tentang hari ini saja mereka sedang berbicara tentang sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Ketika tubuh mereka tidak lagi sekuat sekarang, ketika mereka harus benar-benar berhenti, siapa yang akan melanjutkan?
“Kalau kami sudah tidak kuat lagi, entah siapa yang akan ngurus sawah ini,” kata Dewi, menatap lahan yang membentang di hadapannya dengan tatapan yang susah diartikan.
Indonesia adalah negara agraris. Kalimat itu sering terdengar dalam pidato, buku pelajaran, dan diskusi kebijakan. Namun di balik klaim itu, ada kenyataan yang jarang disorot: petani padi yang sesungguhnya menjaga ketahanan pangan negeri ini semakin menua, semakin sedikit, dan semakin tidak tergantikan.
Sensus Pertanian 2023 BPS mencatat bahwa mayoritas petani Indonesia kini dikelola oleh generasi X berusia 43–58 tahun sebanyak 42,39 persen, disusul baby boomer berusia 59–77 tahun sebanyak 27,61 persen, sementara petani milenial hanya mencapai 25,61 persen. Lebih dari separuh petani Indonesia sudah berusia di atas 43 tahun, dan proporsi petani berusia di bawah 44 tahun justru terus mengalami penurunan. Bahkan jumlah unit usaha pertanian perorangan tercatat turun 7,45 persen, dari 31,70 juta menjadi 29,34 juta unit antara 2013 hingga 2023. Angka-angka itu bukan sekadar statistik itu cermin dari apa yang setiap hari Siti dan Dewi rasakan di sawah mereka.
Yang tersisa adalah perempuan-perempuan tangguh seperti Siti dan Dewi tulang punggung produksi pangan yang kerap luput dari perhatian. Mereka bekerja bukan karena insentif yang menggiurkan, bukan karena kebijakan yang mendukung penuh, melainkan karena memang sudah tidak tahu harus berbuat apa selain bertani.
“Selama masih bisa, ya tetap di sini. Sawah ini yang sudah menghidupi kami,” kata Siti sambil menyeka keringatnya dengan lengan baju.
Matahari sudah meninggi ketika Siti dan Dewi akhirnya beristirahat di tepi galengan. Mereka makan bekal dari rumah, bicara pelan tentang hal-hal kecil harga pupuk yang naik lagi, musim yang tidak menentu, kabar tetangga yang menjual sawahnya.
Di kejauhan, anak-anak desa berlarian pulang sekolah. Tidak ada yang berhenti untuk melihat hamparan padi, apalagi bertanya tentangnya. Dunia mereka ada di tempat lain di layar ponsel, di kota-kota yang menjanjikan lebih banyak hal.
Siti memandang sawah itu sekali lagi sebelum berdiri. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin ia sedang bertanya hal yang sama dengan yang seharusnya kita tanyakan juga: setelah mereka, siapa?
Pertanyaan itu masih menggantung di udara, seperti kabut pagi yang tadi belum sempat terurai.
