Pernah nggak, punya ide bagus banget di kepala tapi ga pernah bisa dilakukan? mau bikin konten, mau daftar lomba, mau mulai usaha kecil-kecilan tapi ujung-ujungnya nggak jadi? Bukan karena nggak mampu, bukan karena nggak ada waktu, tapi karena terlalu banyak mikir sampai akhirnya nggak ngapa-ngapain sama sekali. Kalau terasa familiar, kemungkinan besar overthinking lah pelakunya.
Overthinking, atau kebiasaan berpikir secara berlebihan dan berulang tanpa menghasilkan keputusan nyata, sudah menjadi “teman sehari-hari” bagi banyak mahasiswa. Masalahnya, kebiasaan ini sering dianggap wajar bahkan kadang diromantisasi sebagai tanda kehati-hatian atau kepedulian terhadap masa depan. Padahal kenyataannya jauh dari itu. Overthinking yang berlebihan bukan melindungi mahasiswa dari kesalahan, justru ia yang paling bertanggung jawab membuat mahasiswa stagnan, potensi terkubur, dan waktu yang seharusnya jadi masa paling produktif dalam hidup terbuang begitu saja. Itulah masalah utama yang perlu ditegaskan di sini: overthinking itu bukan tanda kecerdasan, tapi jebakan yang diam-diam mencuri perkembangan diri.
Banyak yang berpikir bahwa mempertimbangkan sesuatu secara panjang lebar itu artinya bijaksana. Tapi ada garis tipis yang sering dilewatkan antara berpikir matang dan overthinking. Berpikir matang menghasilkan keputusan. Sedangkan overthinking hanya menghasilkan lebih banyak pertanyaan. Mahasiswa yang terperangkap dalam kebiasaan ini biasanya tanpa sadar menjalani siklus yang sama berulang kali: punya keinginan, lalu muncul kekhawatiran, lalu mulai mempertanyakan kemampuan diri, lalu mundur sebelum sempat mencoba. Polanya terus berulang, dan lama-lama mahasiswa itu sendiri tidak menyadari bahwa yang menghentikan langkahnya bukan keadaan di luar sana, melainkan pikirannya sendiri. Bakat tidak pernah tersalurkan bukan karena tidak ada kesempatan, tapi karena overthinking sudah membunuh keberanian jauh sebelum langkah pertama sempat diambil.
Inti dari overthinking yang melumpuhkan adalah ketakutan akan kegagalan dan penilaian orang lain. Gimana kalau hasilnya jelek? Gimana kalau nggak ada yang suka? Gimana kalau diketawain? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini terus berputar sampai energi dan semangat habis duluan, sementara tindakan nyata tidak pernah muncul. Ironisnya, takut salah ternyata jauh lebih mematikan daripada salah itu sendiri. Mahasiswa yang berani mencoba dan gagal setidaknya mendapat sesuatu yang nyata: pengalaman, pelajaran, koneksi, wawasan baru. Sementara mahasiswa yang overthinking dan tidak pernah memulai? Tidak mendapat apa-apa. Dua orang ini sama-sama belum berhasil, tapi yang satu sedang berproses dan yang satu lagi masih berdiri di titik yang persis sama seperti sebelumnya. Bedanya bukan pada nasib, tapi pada keberanian untuk bergerak.
Ini bukan sekadar perasaan subyektif belaka. Penelitian Budiman, Hikayudi, dan Zulfia (2025) yang dipublikasikan di PSIKIS: Jurnal Ilmu Psikiatri dan Psikologi menemukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara overthinking dengan produktivitas mahasiswa, dengan korelasi mencapai r = -0,65. Artinya, semakin tinggi tingkat overthinking yang dialami seseorang, semakin rendah produktivitasnya. Dan produktivitas di sini bukan hanya soal nilai akademik semata, tapi juga kemampuan untuk bergerak, berkarya, dan berkembang secara nyata dalam kehidupan. Yang lebih menarik sekaligus memprihatinkan adalah fakta bahwa mahasiswa yang paling banyak punya potensi justru sering kali adalah mereka yang paling banyak berpikir. Bukan karena potensi itu tidak nyata, tapi karena overthinking menguras energi mental mereka sebelum potensi itu sempat diwujudkan ke dunia luar.
Masa kuliah adalah periode paling unik dan berkesan dalam hidup seseorang. Ini adalah satu-satunya fase di mana ruang untuk bereksperimen begitu lebar, di mana gagal pun masih bisa dijadikan bahan pembelajaran tanpa konsekuensi yang terlalu berat. Mau coba bisnis kecil-kecilan, gagal, lalu belajar dari sana? Di sinilah tempatnya. Mau tampil di depan umum untuk pertama kali, meski gemetar? Di sinilah momentumnya. Sayangnya, banyak mahasiswa justru menghabiskan masa itu dalam kondisi frozen atau yang biasa kita sebut stuck tahu ada potensi dalam diri, tapi tidak pernah benar-benar melangkah karena overthinking terus menyuarakan skenario terburuk lebih keras daripada semangat itu sendiri. Hasilnya, lulus kuliah dengan banyak “seandainya” yang tidak pernah sempat dijawab.
Yang perlu dipahami adalah bahwa stuck itu bukan kondisi yang datang dari luar. Stuck itu bergantung pada keberanian yang kita punya, kalo kita punya sedikit keberanian untuk mencoba maka hidup akan terus berjalan di situ. Maka dari itu, overthinking adalah mekanisme yang sebagian besar diciptakan dari dalam diri sendiri, dan karena itu ia juga bisa diputus dari dalam. Caranya bukan dengan berhenti berpikir sama sekali, melainkan dengan memberi batas pada pikiran itu. Tetapkan bahwa pertimbangan hanya boleh berlangsung dalam waktu tertentu, lalu setelah itu ambil keputusan terbaik yang bisa diambil saat ini, meski belum sempurna. Karena kesempurnaan yang ditunggu-tunggu tidak akan pernah datang selama keberanian untuk memulai belum ada.
Masa muda bukan sumber daya yang bisa diisi ulang. Setiap semester yang berlalu, setiap peluang yang dilewatkan sambil masih menimbang-nimbang, adalah waktu yang tidak akan pernah kembali. Tidak ada yang bisa memutar ulang tahun kedua kuliah, mengulang momen ketika sebuah komunitas membuka pendaftaran, atau mengembalikan semangat yang perlahan padam karena terlalu lama menunggu kondisi yang sempurna. Mahasiswa yang hari ini memilih diam karena takut salah, tanpa sadar sedang menukar potensi terbaiknya dengan rasa aman yang semu. Dan ketika akhirnya sampai di titik di mana waktu tidak lagi sepanjang dulu, satu-satunya hal yang paling menyakitkan bukan kegagalan yang pernah dialami—melainkan semua hal yang tidak pernah sempat dicoba.
Jadi, kalau hari ini ada ide yang terus muter di kepala tapi belum juga dieksekusi, itu bukan tanda bahwa kesiapannya belum cukup. Itu tanda overthinking sedang bekerja. Dan satu-satunya cara mengalahkannya bukan dengan berpikir lebih banyak, tapi dengan mulai bergerak meski Cuma selangkah kecil, meski hasilnya belum sempurna, meski masih ragu. Karena mahasiswa yang bergerak dengan segala ketidaksempurnaannya akan selalu selangkah lebih maju daripada mereka yang diam menunggu kondisi ideal yang tidak pernah benar-benar datang.
REFERENSI
Budiman, J. A., Hikayudi, A., & Zulfia, S. (2025). Dampak overthinking terhadap produktivitas belajar dan kesejahteraan psikologis mahasiswa di perguruan tinggi. PSIKIS: Jurnal Ilmu Psikiatri dan Psikologi. https://jurnalp4i.com/index.php/psikis/article/view/5180.
