
Mesin jahit itu masih berdiri di sudut ruangan. Catnya sudah mengelupas di beberapa sisi, besinya menghitam dimakan usia. Tapi jarumnya masih bergerak naik turun, naik turun di tangan Ajat Sudrajat yang kini menginjak usia 65 tahun. Tangan yang sama yang sudah mengenal ritme mesin itu sejak empat dekade silam. Di luar, dunia sudah berubah jauh. Orang tak lagi perlu keluar rumah untuk membeli baju. Satu ketukan di layar, paket sudah di depan pintu. Tapi Ajat tetap di sini di tempat jahit kecilnya di kawasan Cijerah, Bandung. Duduk di kursi yang sama, di bawah cahaya yang sama, mengerjakan apa yang sudah ia tekuni sejak 1985. Cerita Ajat bukan sekadar cerita seorang penjahit tua yang enggan pensiun. Ini adalah cerminan dari ribuan pengrajin dan pelaku usaha kecil di Indonesia yang terjepit di antara dua zaman masa ketika keahlian tangan masih dihargai, dan masa kini ketika segalanya bisa dipesan dari genggaman. Ia adalah potret nyata bagaimana perubahan ekonomi digital tidak hanya mengubah cara orang berbelanja, tapi juga mengubah cara orang bertahan hidup.
Ajat lahir dan besar di Cililin, sebuah kecamatan di ujung barat Kabupaten Bandung Barat. Seperti kebanyakan pemuda di kampungnya, ia merantau setelah lulus sekolah membawa bekal seadanya dan tekad yang belum punya arah pasti. Tujuannya Baturengga, Cijerah, sebuah daerah di pinggiran Kota Bandung yang kala itu mulai menggeliat sebagai kawasan industri kecil. Ia tidak langsung menjahit. Pertama-tama, ia bekerja di tempat pembuatan alat masak seperti panci, wajan, perkakas dapur. Bertahan setahun, lalu berpindah. Langkah selanjutnya membawanya ke sebuah pabrik pembuatan kain, dan di sinilah hidup Ajat mulai menemukan polanya. Lima belas tahun ia habiskan di tempat itu. Berangkat dengan sepeda setiap pagi, menempuh jarak yang tidak dekat, kadang menginap di mes jika jarak terasa terlalu jauh untuk ditempuh pulang. Dari pabrik kain itulah ia menyerap ilmu tentang tekstil, tentang serat, tentang bagaimana sehelai kain bisa menjadi sesuatu yang bernilai di tangan yang tepat. Ia belum tahu waktu itu, bahwa pengetahuan itu kelak menjadi fondasi dari seluruh hidupnya.
Di sela-sela tahun bekerja itu, Ajat bertemu dengan seorang perempuan bernama Enung Sa’diah. Pertemuan yang tidak direncanakan, tidak diatur, hanya kebetulan yang mungkin memang sudah disiapkan oleh sesuatu yang lebih besar dari keduanya. Mereka berjumpa di sebuah warung, berkenalan, dan sesuatu yang sederhana itu ternyata mengubah segalanya. Ajat tidak membuang waktu. Pada kunjungan keduanya ke rumah Enung, ia sudah berniat untuk melamar. Namun ayah Enung bukan orang yang mudah diyakinkan dengan kata-kata manis saja. Sang ayah menyambutnya dengan sebuah peribahasa Sunda yang langsung menghunjam: “Lamun domba di ceupeung talina, lamun jelema di ceupeung omongana”. jika kambing dipegang talinya, maka manusia dipegang omongannya. Pesan itu jelas jika serius, buktikan. Ajat membuktikannya. Mereka menikah. Ajat yang kala itu berusia 25 tahun dengan Enung yang baru menginjak 15 tahun. Di zaman itu, pernikahan dini masih lumrah dan diterima masyarakat tanpa banyak tanda tanya. Dari pernikahan itu lahirlah empat orang anak. Satu laki- laki dan tiga perempuan.
Enung bukan perempuan biasa. Ia terampil menjahit. Ilmu yang ia dapat dari kursus yang pernah ia ikuti. Dengan keberanian yang mungkin lebih besar dari Ajat sendiri, Enung mengajak suaminya untuk melepas pekerjaan pabrik dan membuka usaha sendiri. Tahun 1985, mereka memulai bisnis jahit dari nol. Enung yang mengajarkan segalanya kepada Ajat. Cara membuat pola, cara menjahit dengan benar. Dari atasan, celana, rok, hingga dress dengan model paling rumit sekalipun, semuanya bisa mereka kerjakan. Keduanya membagi tugas masing-masing. Ajat yang menangani urusan luar seperti membeli kain, benang, dan perlengkapan jahit, serta merawat mesin. Enung yang menjadi wajah bisnis. Menyambut pembeli, berdiskusi soal desain, mengukur, membuat pola, lalu menjahit. Nama Bu Enung menyebar dari mulut ke mulut. Jahitannya rapi, pelayanannya ramah. Jika ada orang bertanya di mana bisa menjahit baju, tetangga langsung menunjuk rumah Bu Enung. Pelanggan datang dari berbagai penjuru. Tidak hanya dari sekitar Cijerah, tapi dari daerah-daerah yang lebih jauh. Pesanan paling membludak selalu di saat yang sama setiap tahunnya yakni menjelang Lebaran.
Ajat masih bisa membayangkan suasana itu dengan jelas. Tempat jahit yang tak pernah sepi. Suara mesin yang menderu nyaris tanpa henti ketika menjelang hari besar seperti hari raya. Orang silih berdatangan untuk menjahit pakaian membawa kain pilihan mereka. Ada yang sudah dibeli dari pasar, ada yang minta dicarikan. Semuanya ingin tampil baru di hari raya. Pesanan yang menumpuk memaksa mereka untuk merekrut karyawan. Satu orang, kemudian dua. Dan seperti yang dilakukan Enung kepada Ajat dulu, para karyawan itu pun diajarkan dari nol. Tidak ada yang datang dengan keahlian siap pakai. Semuanya dibentuk di sini, di bawah bimbingan langsung sang pemilik. Bisnis itu hidup, tumbuh, dan menjadi nafas keluarga selama bertahun-tahun.
Tapi hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Tahun 2016 mengubah segalanya, Enung Sa’diah pergi untuk selamanya. Perempuan yang menjadi guru, dan jiwa dari seluruh usaha ini telah tiada. Ajat mengakui bahwa ia sempat kehilangan semangat. Bukan hanya kehilangan istri, ia kehilangan separuh dari dirinya sendiri. Orang yang mengajarinya menjahit, yang membangun bisnis ini bersama-sama dari tidak ada menjadi ada, yang setiap harinya berdiri di sisinya kini tidak ada lagi. Yang mengembalikan semangatnya adalah wajah anak- anaknya. Mereka masih ada. Mereka masih membutuhkan. Dan selama ada yang perlu dijaga, tangan ini harus terus bergerak.
Belum sepenuhnya pulih dari duka, badai berikutnya datang. Pandemi COVID-19 menghantam pada 2020 dan membuat segalanya berhenti. Pelanggan lenyap hampir seketika. Tidak ada persiapan hari raya yang meriah, tidak ada alasan orang untuk memesan baju baru. Pemasukan anjlok drastis. Dengan berat hati, Ajat terpaksa memberhentikan salah satu karyawannya. Keputusan yang tidak pernah mudah bagi siapapun yang pernah membangun tim bersama-sama. Dan sebelum pandemi benar-benar surut, gelombang lain sudah menunggu. Belanja online yang sebelumnya hanya tren kini menjadi kebiasaan. Orang mulai terbiasa memilih baju dari layar, membandingkan harga dalam hitungan detik, dan menerima kiriman tanpa harus keluar rumah. Penjahit konvensional seperti Ajat tiba-tiba terasa seperti pilihan yang mahal dan memakan waktu.
Cerita Ajat tidak berakhir di sana. Anak lelaki satu-satunya yang tumbuh melihat kedua orang tuanya bekerja keras di balik mesin jahit mengambil langkah yang tidak disangka- sangka. Ia memilih untuk melanjutkan bisnis ini, bukan meninggalkannya. Sang anak membuka promosi secara online memperkenalkan usaha keluarga ini kepada dunia yang lebih luas melalui internet. Perlahan, pesanan mulai masuk kembali. Kali ini dengan produk yang disesuaikan dengan permintaan pasar. Kaos, rompi, baju sekolah anak. Dari usaha konveksi kecil yang semula hanya melayani warga sekitar, kini mulai menerima pesanan dari berbagai daerah. Orang-orang yang sama, para pekerja yang sudah ada sejak dulu masih di sini. Mesin yang sama masih bekerja. Hanya caranya yang berubah mengikuti zaman.
Empat puluh satu tahun. Itulah berapa lama Ajat Sudrajat sudah menekuni dunia jahit. Ia melewati masa ketika menjahit adalah kebutuhan pokok, melewati krisis, melewati duka yang paling dalam, dan melewati perubahan teknologi yang hampir menghapus profesinya. Kini ia tidak lagi bekerja sendirian dari nol seperti dulu. Ada anak yang meneruskan, ada bisnis yang perlahan bangkit kembali. Nama yang dulu disebut-sebut orang sebagai “rumah Bu Enung” kini punya wajah baru.
Di sudut ruangan yang sama, mesin jahit itu masih berdiri. Catnya masih mengelupas. Besinya masih menghitam. Tapi jarumnya masih bergerak. Naik turun, naik turun. Seperti Ajat sendiri yang terus berdiri, tidak karena tidak pernah jatuh, tapi karena setiap kali jatuh ia selalu menemukan alasan untuk bangun kembali. Ketekunan yang diwariskan, dan cinta yang dijahit menjadi nafas sebuah keluarga.
