
Gedung Budaya Sabilulungan, yang megah berdiri di jantung Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol kebanggaan, persatuan, dan pelestarian budaya Sunda. Dengan arsitektur yang memadukan modernitas dan kearifan lokal, gedung ini menjadi pusat aktivitas seni, budaya, dan edukasi, menghidupkan warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
Dirancang dengan detail khas Sunda, Gedung Budaya Sabilulungan menampilkan ornamen seperti ukiran kayu, motif batik, dan atap yang terinspirasi rumah adat Sunda. Filosofi Sabilulungan semangat gotong royong dan kebersamaan tercermin dalam setiap sudutnya. Gedung ini juga ramah lingkungan, mengadopsi teknologi hemat energi dan prinsip Tri Tangtu (keseimbangan alam dalam budaya Sunda).

Di Kabupaten Bandung, gedung ini memiliki desain futuristik dengan fasilitas lengkap, termasuk auditorium berkapasitas 800 orang, Science Center, Dome Bale Rame (pertunjukan terbuka untuk 3.000 penonton), serta taman dan amphitheater.
Sebagai denyut nadi kesenian, Gedung Budaya Sabilulungan kerap menggelar pagelaran tari tradisional, festival musik kacapi suling, workshop batik, hingga konser modern. “Ini adalah rumah bagi seniman dan masyarakat yang ingin melestarikan budaya Sunda,” ujar Asep Saefulrahman, pegiat seni setempat.
Acara seperti Festival Budaya Sabilulungan 2024 dan Muktamar Nasyiatul Aisyiyah ke-14 sukses menarik ribuan pengunjung, membuktikan relevansi budaya Sunda di era digital.
Tak hanya sebagai ruang pertunjukan, gedung ini juga berfungsi sebagai pusat edukasi dengan perpustakaan literatur Sunda, kelas bahasa daerah, pelatihan kerajinan tangan, serta fasilitas digital seperti 3D Art Gallery dan bioskop 4D. “Kami ingin generasi muda tak hanya mengenal, tapi juga mencintai budayanya,” tegas Dewi Kania, pengelola gedung.
Pemerintah Kota dan Kabupaten Bandung mendukung penuh gedung ini sebagai bagian dari Branding Bandung Kota Kreatif. Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, menyatakan, “Ini adalah ikon baru yang memperkuat identitas Bandung sebagai kota budaya.”
Ke depan, Gedung Budaya Sabilulungan akan dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya berbasis digital, dengan virtual tour dan konten interaktif untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Gedung Budaya Sabilulungan lebih dari sekadar bangunan—ia adalah cerita, identitas, dan kebanggaan masyarakat Bandung. Dengan semangat Sabilulungan, gedung ini membuktikan bahwa pelestarian budaya dan kemajuan zaman dapat berjalan beriringan.

Sumber: Wawancara dengan Petugas
