
Cimahi, 18 Juni 2025 Di tengah hiruk-pikuk kota Cimahi yang terus berkembang, berdiri megah sebuah bangunan tua yang menjadi saksi bisu sejarah kolonial Belanda. Gedung The Historich, yang dulunya dikenal sebagai Societeit voor Officieren masih tegak berdiri, memancarkan aura kemewahan dan kejayaan masa lalu yang belum pudar dimakan waktu.Dibalik dinding-dinding tebal dan pilar-pilar tinggi bergaya Eropa itu, tersembunyi kisah masa silam yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat. Seiring waktu bergulir, fungsinya pun turut berubah. Namun, daya tarik dan nilai sejarahnya tetap memikat siapa pun yang melangkah ke dalamnya.
Panggung Para Perwira, Saksi Zaman Berganti. Tak banyak yang tahu, gedung berarsitektur khas Eropa ini menyimpan banyak cerita—dari panggung dansa para perwira Belanda, hingga ruang sidang wakil rakyat Kota Cimahi. Informasi ini terungkap saat tim kami mewawancarai salah satu pengelola Gedung The Historich yang kini berada di bawah naungan Kodam III/Siliwangi.
Dibangun demi Tentara, Dirawat demi Sejarah“Tahun 1896 Cimahi diresmikan sebagai garnisun terbesar di Hindia Belanda. Ribuan tentara Koninklijk Leger dan KNIL ditempatkan di sini. Salah satu fasilitas hiburan yang dibangun untuk para perwira adalah Societeit voor Officieren ini,” ungkap pengelola Gedung The Historich kepada kami, Selasa (17/6).Gedung ini dirancang dengan gaya arsitektur Indische Empire Style, perpaduan antara gaya Kekaisaran Romawi dan sentuhan tropis khas Hindia. Empat pilar bergaya Ionia, Doris, dan Korintus berdiri tegak di depan gedung seluas 870 meter persegi ini, yang berdiri di atas lahan seluas 3.700 meter persegi.
Dibangun demi Tentara, Dirawat demi Sejarah“Tahun 1896 Cimahi diresmikan sebagai garnisun terbesar di Hindia Belanda. Ribuan tentara Koninklijk Leger dan KNIL ditempatkan di sini. Salah satu fasilitas hiburan yang dibangun untuk para perwira adalah Societeit voor Officieren ini,” ungkap pengelola Gedung The Historich kepada kami, Selasa (17/6).Gedung ini dirancang dengan gaya arsitektur Indische Empire Style, perpaduan antara gaya Kekaisaran Romawi dan sentuhan tropis khas Hindia. Empat pilar bergaya Ionia, Doris, dan Korintus berdiri tegak di depan gedung seluas 870 meter persegi ini, yang berdiri di atas lahan seluas 3.700 meter persegi.
Dibangun demi Tentara, Dirawat demi Sejarah“Tahun 1896 Cimahi diresmikan sebagai garnisun terbesar di Hindia Belanda. Ribuan tentara Koninklijk Leger dan KNIL ditempatkan di sini. Salah satu fasilitas hiburan yang dibangun untuk para perwira adalah Societeit voor Officieren ini,” ungkap pengelola Gedung The Historich kepada kami, Selasa (17/6).Gedung ini dirancang dengan gaya arsitektur Indische Empire Style, perpaduan antara gaya Kekaisaran Romawi dan sentuhan tropis khas Hindia. Empat pilar bergaya Ionia, Doris, dan Korintus berdiri tegak di depan gedung seluas 870 meter persegi ini, yang berdiri di atas lahan seluas 3.700 meter persegi.
Dibangun demi Tentara, Dirawat demi Sejarah“Tahun 1896 Cimahi diresmikan sebagai garnisun terbesar di Hindia Belanda. Ribuan tentara Koninklijk Leger dan KNIL ditempatkan di sini. Salah satu fasilitas hiburan yang dibangun untuk para perwira adalah Societeit voor Officieren ini,” ungkap pengelola Gedung The Historich kepada kami, Selasa (17/6).Gedung ini dirancang dengan gaya arsitektur Indische Empire Style, perpaduan antara gaya Kekaisaran Romawi dan sentuhan tropis khas Hindia. Empat pilar bergaya Ionia, Doris, dan Korintus berdiri tegak di depan gedung seluas 870 meter persegi ini, yang berdiri di atas lahan seluas 3.700 meter persegi.
Dibangun demi Tentara, Dirawat demi Sejarah“Tahun 1896 Cimahi diresmikan sebagai garnisun terbesar di Hindia Belanda. Ribuan tentara Koninklijk Leger dan KNIL ditempatkan di sini. Salah satu fasilitas hiburan yang dibangun untuk para perwira adalah Societeit voor Officieren ini,” ungkap pengelola Gedung The Historich kepada kami, Selasa (17/6).Gedung ini dirancang dengan gaya arsitektur Indische Empire Style, perpaduan antara gaya Kekaisaran Romawi dan sentuhan tropis khas Hindia. Empat pilar bergaya Ionia, Doris, dan Korintus berdiri tegak di depan gedung seluas 870 meter persegi ini, yang berdiri di atas lahan seluas 3.700 meter persegi.
Dibangun demi Tentara, Dirawat demi Sejarah“Tahun 1896 Cimahi diresmikan sebagai garnisun terbesar di Hindia Belanda. Ribuan tentara Koninklijk Leger dan KNIL ditempatkan di sini. Salah satu fasilitas hiburan yang dibangun untuk para perwira adalah Societeit voor Officieren ini,” ungkap pengelola Gedung The Historich kepada kami, Selasa (17/6).Gedung ini dirancang dengan gaya arsitektur Indische Empire Style, perpaduan antara gaya Kekaisaran Romawi dan sentuhan tropis khas Hindia. Empat pilar bergaya Ionia, Doris, dan Korintus berdiri tegak di depan gedung seluas 870 meter persegi ini, yang berdiri di atas lahan seluas 3.700 meter persegi.
Dibangun demi Tentara, Dirawat demi Sejarah. “Tahun 1896 Cimahi diresmikan sebagai garnisun terbesar di Hindia Belanda. Ribuan tentara Koninklijk Leger dan KNIL ditempatkan di sini. Salah satu fasilitas hiburan yang dibangun untuk para perwira adalah Societeit voor Officieren ini,” ungkap pengelola Gedung The Historich kepada kami, Selasa (17/6).Gedung ini dirancang dengan gaya arsitektur Indische Empire Style, perpaduan antara gaya Kekaisaran Romawi dan sentuhan tropis khas Hindia. Empat pilar bergaya Ionia, Doris, dan Korintus berdiri tegak di depan gedung seluas 870 meter persegi ini, yang berdiri di atas lahan seluas 3.700 meter persegi.
Dari Penjajahan ke KemerdekaanPada masa pendudukan Jepang tahun 1945, gedung ini beralih fungsi menjadi markas militer. Setelah Indonesia merdeka, gedung sempat kembali digunakan oleh Belanda hingga akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada TNI pada akhir tahun 1949. Sejak itu, namanya berubah menjadi Balai Prajurit Soedirman, dan kini lebih dikenal sebagai Gedung Soedirman atau The Historich.“Setelah jadi milik TNI, gedung ini mengalami beberapa perubahan fungsi. Pernah jadi gedung DPRD Kota Cimahi, tempat latihan bulutangkis, dan sekarang sering dipakai untuk acara seni dan kegiatan masyarakat,” tambah pengelola tersebut.
Warisan yang Terus Menyala. Kini, Gedung The Historich Soedirman bukan hanya simbol arsitektur kolonial yang megah, tetapi juga bukti bahwa sejarah bisa hidup berdampingan dengan kehidupan masa kini. Sebagai salah satu cagar budaya penting di Kota Cimahi, gedung ini tak hanya menarik wisatawan dan pencinta sejarah, tapi juga menjadi ruang publik multifungsi yang terus dijaga keberlanjutannya.
