
Dua minggu setelah berkemah di Lembang, Awan dan Rimba masih kesulitan menjelaskan apa yang mereka dengar malam itu. Bukan karena tidak ingat tapi karena mereka terlalu ingat. Awan tidak langsung menjawab ketika ditanya bagian mana yang paling mengganggunya. Ia diam sebentar, menatap meja, lalu berkata pelan “Bukan waktu itu. Ganggunya justru sekarang, waktu lagi sendiri dan kepikiran lagi.”
Gunung Putri sendiri bukan nama yang asing bagi para pendaki di kawasan Lembang. Dengan ketinggian yang tidak terlalu ekstrem dan akses yang relatif mudah, bukit ini menjadi tujuan favorit bagi pendaki pemula, pemburu matahari terbit, hingga rombongan yang sekadar ingin berkemah menikmati dinginnya malam Bandung Utara. Namun di balik jalur pendakiannya yang ramah, Gunung Putri juga menyimpan banyak cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Mulai dari larangan bersikap sombong, pantangan berkata sembarangan, hingga kisah-kisah tentang suara misterius yang kerap terdengar ketika malam semakin larut.
Cerita-cerita seperti itu justru menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Tidak sedikit pendaki yang datang dengan rasa penasaran, ingin membuktikan apakah mitos yang beredar benar adanya atau sekadar bagian dari folklor yang tumbuh di kalangan masyarakat dan pecinta alam. Di antara mereka, ada pula orang-orang yang secara sengaja menentang mitos. Mereka menganggap kisah-kisah tersebut tidak lebih dari sugesti yang diwariskan turun-temurun. Semakin banyak larangan yang didengar, semakin besar pula keinginan untuk mengujinya.
Dua minggu telah berlalu sejak ia dan lima sahabatnya berkemah di Gunung Putri, Lembang. Cukup lama untuk mulai lupa, kalau saja yang mereka alami malam itu adalah sesuatu yang memang wajar untuk dilupakan. Menurut Awan, semuanya bermula jauh sebelum tenda berdiri. Dalam berbagai obrolan sebelum keberangkatan, topik mistis selalu muncul. Ada yang membahas pantangan berkemah, ada yang menyebut mitos membakar terasi yang konon bisa mengundang penghuni tak kasat mata. “Awalnya bercanda semua,” kata Awan. “Tapi ya itu nggak ada yang berani bilang itu omong kosong juga.”
Mereka berangkat menjelang asar di hari Senin, Mei 2026. Hujan turun sejak sore. Ketika tiba di Gunung Putri, malam sudah mengambil alih. Dan satu hal langsung terasa berbeda dari perjalanan-perjalanan sebelumnya tidak ada kelompok lain yang berkemah. Tidak ada cahaya tenda lain. Tidak ada suara pendaki lain. Hanya mereka berenam.
Di tengah mendirikan tenda, seorang dari mereka Jek mengarahkan wajahnya ke gelap hutan dan berteriak: “Mana sini makhluk-makhluk, tunjukin diri kalian.” Semua tertawa saat itu. Awan mengatakan hal itu kepada saya dengan nada yang sulit dibaca antara menertawakan kenangan itu, dan menyesalinya. Saya tidak mewawancarai Kamil secara langsung. Tapi Awan dan Rimba menceritakan kembali apa yang ia ungkapkan di pagi hari setelah malam itu pengakuan yang baru mereka dengar setelah semua kejadian berlalu.
Ketika mereka masih bercerita horor di depan tenda, Kamil menoleh ke belakang. Ada sosok yang melintas cepat, tidak berpakaian, tidak bersuara. Hanya melintas, lalu hilang. Kamil tidak berkata apa-apa malam itu. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya ilusi cahaya yang redup, atau mata yang mulai lelah. Tapi ia juga tidak bisa benar-benar yakin. “Dia simpan sendiri sampai pagi,” kata Rimba. “Kita nggak tahu. Kita lagi ketakutan juga, tapi karena hal lain.”
Sekitar pukul sepuluh malam, mereka naik sebentar ke puncak. Pemandangan dari atas indah lampu Kota Bandung bertebaran di bawah seperti bintang yang terjatuh. Tapi ketika mereka turun kembali menuju tenda, sesuatu sudah berubah. Suara gesekan bambu mulai terdengar. Berulang. Berirama. Krek.. krek.. krek. “Kita pikir angin,” cerita Rimba. “Tapi sampai tenda, kita buka pintu tenda nggak ada angin. Daun nggak goyang. Ranting nggak gerak. Tapi suaranya masih ada.”
Momen itu tiba-tiba terbayangkan dengan sangat jelas meraskan enam orang di dalam tenda, udara diam, dan suara yang tidak punya sumber. Rimba menggambarkannya dengan satu kalimat yang langsung membekas: “Hutannya tiba-tiba kerasa terlalu hidup.”
Baru di momen itu Kamil berbicara menceritakan sosok yang ia lihat sejak awal malam. Dan baru di momen itu pula Rimba mengakui bahwa sejak tadi ia mendengar langkah kaki yang berjalan mengelilingi tenda. Gulma membakar terasi bukan untuk keperluan memasak, tapi untuk menguji mitos yang sudah lama mereka perbincangkan.
“Ya mungkin kebetulan,” kata Awan, hati-hati. “Tapi… ya nggak tau juga.” Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Rimba mengangguk pelan. Ada yang menarik dari momen itu dalam wawancara keduanya tidak mau terburu-buru menyimpulkan. Tidak mau bilang iya, tidak mau bilang tidak. Seperti ada batas yang mereka jaga antara mengakui sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, dan membiarkan penjelasan itu tetap terbuka.
Lewat tengah malam, Awan, Rimba, dan Rei keluar menuju sumber air. Kabut tebal, suasana sunyi. Di tengah perjalanan, Awan mendengar tangisan. Pelan, samar seperti suara seseorang yang menangis dari jauh. Ia tidak berkata apa-apa. Ia memilih diam. Ternyata Rimba dan Rei mendengar hal yang sama. Ketiganya memilih diam secara bersamaan, tanpa saling sepakat. Sampai akhirnya Rei tidak tahan dan bertanya keras:
“Wan, Rim, denger gak suara orang nangis?”
Tidak lama setelah itu, gonggongan anjing terdengar tiba-tiba, tanpa konteks, dari arah yang tidak jelas. Di kawasan yang mereka tahu betul tidak ada tenda lain. Tidak ada manusia lain. Mereka mempercepat langkah dan tidak membahas apa-apa lagi malam itu.
Ketika matahari akhirnya datang dan kabut mulai bergerak, barulah cerita-cerita itu keluar satu per satu. Tentang sosok Kamil. Tentang langkah kaki Rimba. Tentang suara bambu yang tidak berangin. Tentang tangisan yang didengar bertiga. Tentang gonggongan yang muncul entah dari mana. Dan satu hal yang membuat Awan gelisah bahkan ketika menceritakannya kepada saya, dua minggu kemudian: “Mereka berenam enggak ada kelompok lain, eggak ada saksi lain. Jadi kalaupun ada yang bisa jelasin siapa?” Di penghujung wawancara, saya bertanya kepada keduanya: apakah mereka akan kembali ke Gunung Putri? Rimba tertawa kecil. Awan mengangkat bahu. Tidak ada yang menjawab dengan kata-kata, dan mungkin memang tidak perlu. Setelah semua cerita dibagikan, setelah setiap orang mencoba mengingat detail demi detail malam itu, yang tersisa bukanlah kesimpulan, melainkan keheningan yang panjang. Keheningan yang seolah mengakui bahwa tidak semua pengalaman dapat dijelaskan dengan mudah.
Masing-masing dari mereka membawa pulang versinya sendiri tentang malam di Gunung Putri. Ada yang mengingat suara langkah yang terasa terlalu dekat. Ada yang masih teringat suasana hutan yang mendadak terasa berbeda. Ada pula yang memilih menganggap semuanya sebagai kebetulan. Namun anehnya, semakin banyak mereka membicarakannya, semakin sedikit jawaban yang mereka temukan. Barangkali memang tidak semua perjalanan menghasilkan kepastian. Ada perjalanan yang justru meninggalkan ruang kosong, ruang yang dipenuhi tanda tanya dan kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah selesai diperdebatkan. Di sanalah cerita itu hidup, bukan pada jawabannya, melainkan pada pertanyaan yang terus bertahan.
Malam di Gunung Putri akhirnya berlalu sebagaimana malam-malam lainnya. Matahari tetap terbit di balik perbukitan Lembang. Tenda-tenda dibongkar. Jalur pendakian kembali dilalui pendaki baru yang datang membawa cerita dan harapan mereka masing-masing. Alam kembali tampak biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun bagi enam sahabat itu, ada sesuatu yang tertinggal di antara dingin udara, gelap hutan, dan kabut yang turun perlahan malam itu. Bukan sosok. Bukan suara. Melainkan rasa penasaran yang hingga kini belum menemukan ujungnya.
Tidak ada yang menjawab dengan kata-kata, dan mungkin memang tidak perlu. Sebab beberapa pertanyaan, seperti kabut yang turun malam itu di Lembang, memang tidak datang untuk dijawab. Ia hadir untuk menyelimuti, membuat orang berhenti sejenak, lalu merenung. Dan ketika kabut itu perlahan menghilang, yang tersisa bukanlah kepastian, melainkan kesadaran bahwa ada hal-hal di dunia ini yang terkadang lebih kuat sebagai misteri daripada sebagai jawaban.
